Pria Afghanistan membawa karung berisi gandum bantuan kemanusiaan di Kabul, Afghanistan Rabu (16/2/2022). | AP/Hussein Malla

Internasional

Bank Dunia Tunda Empat Proyek di Afghanistan

Bank Dunia menunda empat proyek terkait keputusan Taliban melarang anak perempuan bersekolah.

WASHINGTON -- Bank Dunia telah menunda empat proyek di Afghanistan senilai 600 juta dolar AS. Penundaan ini terjadi di tengah kekhawatiran atas keputusan kepemimpinan Taliban yang melarang anak perempuan kembali ke sekolah menengah.

Proyek itu didanai di bawah Dana Perwalian Rekonstruksi Afghanistan (ARTF), yang sedang disiapkan untuk dilaksanakan oleh badan-badan PBB. Proyek tersebut yang bertujuan mendukung pertanian, pendidikan, kesehatan, dan mata pencaharian.

Tetapi pedoman Bank Dunia mengharuskan semua kegiatan yang dibiayai ARTF, harus mendukung akses kesetaraan layanan untuk  perempuan dan anak perempuan di Afghanistan. Bank Dunia menyatakan keprihatinan mendalam atas keputusan Taliban yang melarang anak perempuan kembali ke sekolah menengah.

"Keempat proyek akan disetujui ketika Bank Dunia dan mitra internasional memiliki pemahaman yang lebih baik tentang situasi dan keyakinan bahwa tujuan proyek dapat dipenuhi," ujar pernyataan Bank Dunia.

Dewan eksekutif Bank Dunia pada 1 Maret menyetujui rencana untuk menggunakan anggaran sekitar 1 miliar dolar AS yang diambil dari dana ARTF untuk membiayai program pendidikan, pertanian, kesehatan dan keluarga yang sangat dibutuhkan oleh warga Afghanistan.

Sebelumnya, ARTF dibekukan pada Agustus ketika Taliban mengambil alih kekuasaan dan pasukan internasional pimpinan AS meninggalkan Afghanistan setelah 20 tahun berperang.

Pemerintah asing juga mengakhiri bantuan keuangan yang memiliki porsi lebih dari 70 persen dari pengeluaran pemerintah. Akibatnya perekonomian Afghanistan mengalami keruntuhan.

Menurut PBB, saat ini lebih dari separuh populasi Taliban, yakni sekitar 24 juta warga, menghadapi kekurangan makanan parah. Sekitar 1 juta balita berpotensi meninggal akibat kelaparan akhir tahun ini.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah menyerukan komunitas internasional untuk mempertahankan bantuannya untuk Afghanistan. Dia pun meminta aset milik Afghanistan yang dibekukan segera dicairkan.

Bertemu di Cina

Diplomat tinggi dari Rusia, Amerika Serikat , dan Pakistan diagendakan bertemu di Cina pekan ini untuk membahas isu Afghanistan. Perwakilan Taliban disebut akan turut berpartisipasi dalam pertemuan tersebut.

“Cina, AS, Rusia, dan Pakistan adalah semua negara dengan pengaruh signifikan dalam masalah Afghanistan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Wang Wenbin dalam pengarahan pers pada Selasa (29/3).

Pertemuan tersebut bakal digelar Provinsi Ahui. Iran, Tajikistan, dan Turkmenistan dan Uzbekistan diharapkan dapat turut mengirim delegasi ke pertemuan tersebut. Menurut Wang, utusan khusus Cina untuk Afghanistan, Yue Xiaoyong, akan memimpin pertemuan itu.

Menurut laporan kantor berita Interfax, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov telah tiba di Tunxi untuk menghadiri pertemuan tersebut. Sementara AS bakal mengirim utusan khususnya untuk Afghanistan, Tom West.

Sejak Taliban merebut kekuasaan di Afghanistan pada pertengahan Agustus tahun lalu, krisis negara tersebut kian memburuk.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat