Pawang hujan Rara Isti Wulandari melakukan ritual saat hujan mengguyur Pertamina Mandalika International Street Circuit, Lombok Tengah, NTB, Minggu (20/3/2022). Start balapan MotoGP seri Pertamina Grand Prix of Indonesia sempat diundur dari jadwal semula | ANTARA FOTO/Andika Wahyu/foc.

Fatwa

27 Mar 2022, 04:08 WIB

Minta Bantuan Jasa Pawang Hujan, Apa Hukumnya?

Apakah boleh meminta bantuan pawang hujan untuk menurunkan atau menghentikan hujan?

OLEH ANDRIAN SAPUTRA 

Banyak peristiwa menarik selama gelaran MotoGP yang berlangsung di Sirkuit Mandalika beberapa waktu lalu. Salah satu yang menjadi perhatian dunia internasional adalah adanya pawang hujan yang beraksi di tengah guyuran hujan.

Terlepas dari aksinya, bagaimana pawang hujan dipandang dalam ajaran Islam? Apakah boleh meminta bantuan pawang hujan untuk menurunkan atau menghentikan hujan?

Anggota Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Ketua Aswaja NU Center KH Misbahul Munir menjelaskan, dalam ajaran Islam terdapat tuntunan bagi seorang Muslim yang ingin agar hujan turun ataupun agar berhenti.

Misalnya saja berharap agar hujan turun karena kekeringan yang melanda satu wilayah tertentu atau berharap agar hujan yang terus-menerus turun dengan deras agar berhenti sehingga tidak menimbulkan bencana banjir. Tuntunan itu, yakni dengan melaksanakan rangkaian shalat sunah Istisqa dan doa-doa sesuai yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Kiai Misbah menjelaskan, pada zaman Rasulullah pernah terjadi kemarau panjang yang menyebabkan kesengsaraan masyarakat. Rasulullah pun memanjatkan doa kepada Allah SWT agar hujan turun.

Seketika hujan pun turun ke bumi. Akan tetapi, hujan ternyata tak kunjung berhenti hingga beberapa hari. Rasulullah pun kembali berdoa kepada Allah agar hujan yang terus-menerus turun dialihkan ke tempat-tempat lain dengan intensitas curah hujan yang tidak menjadi bencana. Hujan pun berhenti dan berpindah ke wilayah lainnya.

 
Mereka berdoa kepada Allah, murni kepada Allah, sesuai dengan tata cara yang disyariatkan. 
 
 

"Praktik semacam ini kemudian diamalkan oleh para sahabat dan para ulama, para kiai yang menjadi penerus Rasulullah SAW. Hanya saja, mereka berdoa kepada Allah, murni kepada Allah, sesuai dengan tata cara yang disyariatkan (ajaran Islam). Selanjutnya, manjur atau tidak, itu bergantung pada yang berdoa," kata Kiai Misbah kepada Republika, Senin (21/3). 

Menurut Kiai Misbah, apabila seorang hamba berdoa kepada Allah SWT dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, terlebih hamba yang berdoa memiliki hati yang bersih dan senantiasa menjaga diri dari dosa, Allah SWT pasti akan mengabulkan doanya, baik itu permohonan agar hujan diturunkan ataupun agar hujan berhenti.

Namun, bila orang yang berdoa tidak memiliki keyakinan yang kuat, hati yang kotor, dan senang melakukan dosa, meskipun memanjatkan doa seperti yang dibaca Nabi Muhammad SAW maka doanya akan ditolak. 

"Kalau yang berdoanya orang yang ikhlas karena Allah, murni karena Allah, yakin karena Allah, orangnya bersih, tidak punya dosa, biasanya doanya manjur. Namun, ada juga doanya sama, bacaannya sama, tetapi tidak berpengaruh karena yang berdoa tidak yakin, tidak mantap. Bahkan, yang berdoa itu punya banyak dosa, itu biasanya tidak ngaruh, tidak manjur doanya," kata Kiai Misbah.

 
Ada juga doanya sama, bacaannya sama, tetapi tidak berpengaruh karena yang berdoa tidak yakin, tidak mantap.
 
 

Lantas, bagaimana bila seorang hamba yang menjadi pawang hujan menggunakan dupa atau sesajen ketika melakukan doa agar hujan turun atau berhenti? Apakah penggunaan dupa dan sesajen itu diperbolehkan?

Pimpinan Quantum Akhyar Institut Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, dalam kitab Shahih Bukhari terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik yang mengisahkan bahwa seorang datang ke masjid ketika Nabi sedang berkhutbah di mimbar.

Orang itu meminta Nabi untuk berdoa kepada Allah supaya hujan beralih ke tempat lain. Saat itu, hujan deras terus mengguyur selama enam hari berturut-turut hingga membuat orang-orang kesulitan beraktivitas. 

Nabi pun mengangkat tangan dan memanjatkan doa, “Allahumma hawa laina wala 'alaina.” Seketika langit pun cerah dan hujan beralih ke tempat lain. Karena itu, Ustaz Adi menjelaskan, seorang Muslim dapat membaca doa tersebut sebanyak tiga kali berharap agar hujan yang terus mengguyur agar bisa beralih ke tempat lain. 

"Jadi, kalau hujan deras, kita sedang mengaji atau sedang ada kegiatan positif, kita ingin sama Allah supaya hujannya dialihkan. Maka, mohon ini doanya dan jangan menyimpang, misalnya kita gunakan perangkat lain yang bertentangan bukan saja dengan ayat, dengan hadis. Ini bagi Muslim, ya, khusus Muslim. Di sini ada tuntunannya, pedomannya, jangan mengerjakan yang Allah enggak suka," kata Ustaz Adi dalam kajian singkat di kanal resmi Youtube-nya. 

Ia menjelaskan, hujan adalah ketetapan Allah SWT. Tidak boleh seorang hamba melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Allah ketika berharap agar hujan berhenti atau dialihkan ke tempat lain. 

Menurut Ustaz Adi, selain membaca doa seperti yang diajarkan Nabi, seorang Muslim juga bisa terlebih dahulu bertawasul kepada Nabi Muhammad SAW dan membaca surat-surat Alquran seperti surah at-Taubah ayat 122 atau surah al-Lahab.

Di antara fadilah surah al-Lahab adalah membangun kedekatan dengan Allah dalam berketuhanan dan menghindari segala hal yang tidak disukai Allah. 

"Bagi Muslim, bagi insan beriman, jauhkan dari perilaku-perilaku yang menyimpang, yang tak Allah sukai. Menggunakan sesajian atau hal-hal yang tidak tepat, misalnya, atau menggunakan jasa-jasa yang memang orang yang dimaksudkan boleh jadi jauh dari Allah, enggak kenal Allah, mengerjakan perbuatan yang enggak Allah sukai. Maka jangan harap keberkahan akan turun di tempat yang kita pijak. Karena syarat berkah itu cuma dua, iman dan takwa," kata dia.


Ketika Mongol ‘Menyapu’ Dunia

Wilayah kekuasaan Imperium Mongol setara 17,81 persen dari seluruh dataran Bumi.

SELENGKAPNYA

Berapa Lama Masa Nifas dalam Islam?

Para ulama berselisih pendapat mengenai masa nifas terpendek dan terpanjang.

SELENGKAPNYA

Perumpamaan Dalam Alquran

Salah satu metode memahami sesuati dengan ibarat. Cara ini ada di Alquran.

SELENGKAPNYA
×