Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

26 Mar 2022, 03:45 WIB

Mengenang Jalan Cinta Indonesia dan Palestina

Negara Indonesia dibentuk dengan membangkitkan perlawanan atas segala bentuk penjajahan.

OLEH ASMA NADIA

Niat baik tidak selalu diterima dengan baik. Ini berlaku nyaris dalam seluruh lingkup kehidupan. Termasuk ketika saya terlibat produksi film Hayya yang mempunyai komitmen menyedekahkan sebagian keuntungan penjualan tiket untuk Palestina.

Mengapa sih harus memikirkan Palestina? Beberapa suara mempertanyakan. Bukankah di negeri sendiri juga banyak orang susah? Lalu untuk apa memikirkan yang jauh? Masih banyak protes senada kadang terdengar.

Saya bisa mengerti jika ada yang berpikir demikian karena menyadari masih banyak orang tidak cukup membaca sehingga kurang berwawasan. Alasan lain, banyak yang alpa sejarah. Bagi bangsa Indonesia, berbicara Palestina sebenarnya amanat pendiri bangsa. Negara Indonesia dibentuk dengan membangkitkan perlawanan atas segala bentuk penjajahan.

 
Negara Indonesia  dibentuk dengan membangkitkan perlawanan atas segala  bentuk penjajahan.
 
 

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Kalimat pertama dalam Pembukaan UUD telah menegaskan hal ini.

Dalam kepenulisan, kalimat pertama sering memuat bagian terpenting atau pokok pikiran utama.

Bangsa Indonesia tahu benar rasanya dijajah karena itu kita harus membenci penjajahan. Rakyat juga sadar, kita membutuhkan dukungan bangsa lain untuk membebaskan diri dari penjajahan.

Dan sejarah mencatat, pada akhirnya Indonesia merdeka tidak hanya karena berjuang sendirian melainkan sebab beroleh pengakuan bangsa asing yang tulus mendukung perjuangan kita.

Bangsa yang besar adalah yang ingat pada jasa pahlawannya. Tersirat pesan, bangsa yang besar adalah yang tetap ingat pada siapa pun yang memberi kontribusi akan keberadaan dirinya.

Ketika Indonesia pertama kali diproklamirkan, tidak satu pun negara Barat mengakui kemerdekaan Indonesia. Mengakuinya --terutama bagi sebagian besar bangsa Eropa di masa itu-- berarti mengkhianati kepentingan Barat dan imperialis di Asia atau Afrika.

 
Bangsa Indonesia tahu benar rasanya dijajah karena itu kita harus membenci penjajahan. 
 
 

Saat tidak ada yang mengakui kemerdekaan Indonesia, yang untuk mencapainya melalui perjuangan panjang dan pengorbanan dahsyat --ulama-ulama Palestina justru mempromosikan kemerdekaan Indonesia.

Mereka mengajak negara-negara Arab mengakui kemerdekaan kita. Salah satu hasil yang dipetik, di saat negara Barat memalingkan wajah --satu per satu negara di Timur Tengah berlomba mengakui kemerdekaan Indonesia. Sebut saja Mesir, Arab Saudi, Lebanon, Suriah, Yaman, tercatat paling awal mengakui kita. India dan Vatikan juga menjadi negara mula-mula yang mengakui kemerdekaan kita.

Dari pengakuan ini, Indonesia secara de facto bisa utuh berdiri sebagai bangsa berdaulat setelah sebelumnya hanya eksis secara de jure.

Bangsa Palestina dan bangsa Arab di Timur Tengah, juga Vatikan dan India, saat itu syukurlah tidak berpikir Indonesia merupakan negeri yang jauh dan karenanya boleh tak dipedulikan. Sebaliknya, mereka tetap mendukung karena menjunjung solidaritas kemanusian dan kemerdekaan. Sesederhana; sebab kita manusia.

Kenyataannya puluhan tahun sudah bangsa Palestina --salah satu pelopor dukungan kemerdekaan Indonesia-- berada dalam posisi sama dengan Indonesia di masa lalu. Kemerdekaannya direnggut dan mereka membutuhkan banyak dukungan dan bantuan.

Kini saatnya kita yang sudah berdiri di kaki sendiri, berbuat sesuatu. Apalagi, mereka tak cuma memberi pemihakan, dan mengakui --tetapi juga bantuan dana yang tidak kecil.

 
Kenyataannya puluhan tahun sudah bangsa Palestina --salah satu pelopor dukungan kemerdekaan Indonesia-- berada dalam posisi sama dengan Indonesia di masa lalu.
 
 

Salah satu yang paling fenomenal dari Muhammad Ali Taher, saudagar kaya Palestina ini menyerahkan seluruh uangnya yang tersimpan di Bank Arabia, tanpa meminta tanda terima sambil kurang lebih berkata.

"Saya tidak membutuhkan tanda bukti pemberian. Terimalah semua kekayaan saya untuk memenangkan perjuangan Indonesia."

Masih mau berkelit? Misal bagaimana harus membantu Palestina ketika saat ini kita pun bertarung dengan pandemi?

Benar kita dan banyak negara sedang kesulitan tetapi dibandingkan Palestina yang bukan hanya didera pandemi juga menghadapi penjajahan, serangan bom, hujan peluru, dan berbagai teror, tidakkah tiba-tiba masalah yang kita hadapi pelan-pelan terasa menyusut?

"Di Palestina bahkan kita tidak terlalu paham pandemi. Di sana informasi sangat sulit. Listrik di Gaza hanya menyala empat jam dalam sehari, demikian juga air,” tutur salah seorang ustaz Palestina belum lama ini.

 
Bukankah tindakan menolong tidak dilakukan saat kita diberikan keluangan, melainkan ketika kita melihat ada pihak lain yang membutuhkan bantuan.
 
 

Ia  juga mengungkap betapa bangsa Indonesia, selama ini membuat Palestina merasa tidak sendiri. Selain minimnya informasi seputar pandemi, bangsa Palestina memiliki akses terbatas terhadap kesehatan dan vaksin.

Beberapa fakta di atas --di luar kenyataan di sana berdiri Masjidil Aqsha, kiblat pertama umat Islam atau masjid ketiga termulia setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi-- harusnya cukup menjadi alasan bangsa Indonesia tetap memberi dukungan terhadap Palestina.

Bukankah tindakan menolong tidak dilakukan saat kita diberikan keluangan, melainkan ketika kita melihat ada pihak lain yang membutuhkan bantuan. Bagi  Palestina, itu sekarang.

Oh ya, saat ini film Hayya 2 sedang tayang di bioskop Tanah Air. Ada beberapa isu yang dibahas di sana, salah satunya adalah Palestina. Mungkin film ini bisa menjadi jembatan ingatan dan silaturahim kita pada bangsa yang telah begitu mencintai kita. 


Khazanah Spiritualitas

Indonesia memang sedang musim “kenduren nasional” yang melibatkan ritual ala magis.

SELENGKAPNYA

Waspadai Fase Kenaikan Harga Pangan

Pemerintah diharapkan mengantisipasi lonjakan harga dengan menjaga kelancaran distribusi.

SELENGKAPNYA

Hilman Hariwijaya yang (tak) Saya Kenal

Membuat kami tergugu, malu dengan persiapan luar biasa yang kamu lakukan untuk akhiratmu.

SELENGKAPNYA
×