Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

12 Mar 2022, 03:50 WIB

Hilman Hariwijaya yang (tak) Saya Kenal

Membuat kami tergugu, malu dengan persiapan luar biasa yang kamu lakukan untuk akhiratmu.

OLEH ASMA NADIA 

Saya kira akan mudah untuk menulis "Hilman yang Saya Kenal". Tentu saja saya mengenalmu, meski saat itu kamu bahkan sama sekali tidak tahu saya ada.

Saya hanyalah satu dari --menyitir judulmu-- makhluk manis di dalam bus, yang bergabung dengan lautan remaja di depan toko buku besar di Matraman, lebih dari 35 tahun lalu. 

Acara jumpa penulis pertama yang saya ikuti dengan sangat antusias. Seperti remaja lain, saya saat itu jatuh cinta dengan Lupus dan serial lain yang kamu tulis. Namun harapan untuk bisa melihatmu dari dekat waktu itu, seketika terbang. Sebab, saya malah terlempar ke luar, saking pelataran parkir yang luas tak sanggup menampung penggemar yang meluap.

Mereka rela berdesakan dengan sabar, sesekali menjerit ketika kamu yang diamankan di pos kecil, melambaikan tangan. Fenomena langka yang tak dicapai penulis lain di Tanah Air.  

Dari jauh saya tetap mengikutimu. Terinspirasi, bahkan menulis serial Aisyah Putri dengan empat abang lelakinya, yang semoga bisa memancing senyum, seperti Lupus dan geng SMA Merah Putih. Puluhan tahun kemudian, buku Aisyah Putri diangkat menjadi sinetron. Uniknya --kamu yang menjadi inspirasi kelucuan bukunya-- lalu menjadi penulis skenarionya.

Ya, puluhan tahun malang melintang sebagai penulis buku ngetop, kamu lalu aktif menulis skenario untuk film dan televisi. Sukses tetap berpihak padamu yang memang selalu berkeinginan menjadi nomor satu.

Maka tidak heran jika Hilman Hariwijaya menjadi salah satu penulis skenario paling sukses di Indonesia. Tidak terbilang jumlah sinetron yang menempati rating nomor satu atau setidaknya masuk tiga besar dalam dunia pertelevisian, diproduksi hingga ratusan bahkan ribuan episode. 

 
Saya tidak habis pikir bagaimana kepalamu bekerja. Luar biasa. Dalam sehari harus menyelesaikan lebih dari satu skenario, belum mensupervisi naskah beberapa judul sinetron.
 
 

Takdir lalu mendekatkan kita. Berawal dari sapamu yang mengutarakan ketertarikan pada novel Cinta di Ujung Sajadah. Kamu menghubungkan saya dengan rumah produksi, bahkan membuat skenario awal.

Tahukah bahwa itu pembayaran pertama yang saya peroleh dari rumah produksi? Kita menjadi lebih dekat setelah matamu terpikat Catatan Hati Seorang Istri yang bertengger di rak buku best seller jaringan toko buku tempat saya pertama melihat sosokmu dari jauh. 

Seiring waktu persahabatan kita kian akrab. Kolaborasi lain lahir, Sakinah Bersamamu dan Istri Kedua. Kadang ketika butuh suasana baru saat buntu menulis, kita membuat janji temu di mal atau kafe untuk sama-sama mengetik. Barangkali kamu tidak tahu betapa suara yang ditimbulkan saat jemarimu menyentuh keyboard, sering membuat saya panik dan terpacu mengikuti kecepatanmu menulis. 

Perjalanan bersama tim rumah produksi, untuk survei lokasi terkait rencana mengangkat novel Assalamu’alaikum Beijing 1 yang saya tulis ke layar kaca, kemudian menambah keakraban. Kamu seringkali membuat saya tertawa.

Selama beberapa hari di Beijing, saya melihat bagaimana kamu terus menulis nyaris di setiap waktu. Saat makan pagi, makan siang dan malam, kamu mengunyah dengan mata terpaut pada laptop. Bahkan, di antara deru van kecil yang mengangkut kita, kamu tetap menulis.

Saya tidak habis pikir bagaimana kepalamu bekerja. Luar biasa. Dalam sehari harus menyelesaikan lebih dari satu skenario belum mensupervisi naskah beberapa judul sinetron.

Ketika pandemi merebak, kita lama hanya saling sapa lewat chat. Prihatin saat mendapat kabar kamu terpapar Covid, bahkan sempat masuk ICU. Lega luar biasa ketika kamu sembuh. Meski efek Covid menyisakan beberapa persoalan.

Kamu mulai sering sekali lupa, bahkan password laptop atau ATM. Daya ingat seperti tergerus. Berbulan setelah itu kita masih berinteraksi sebelum kabar darimu tiba-tiba senyap dan pesan saya tak lagi bercentang biru.

 

 
Namun ujian kemudian makin sering datang. 
 
 

Agak terlambat saya tahu ternyata kamu mengalami stroke. Sejak itu saya dan suami berkunjung, sedikitnya sepekan sekali atau dua kali. Berbincang santai, menghibur dan  menyemangati, berbagi doa, dan lain-lain.

Lalu kamu memberi kami semua kabar gembira. Rencana pernikahan dengan Dewi Natalia yang bersedia menerima dirimu yang saat itu sudah di kursi roda, apa adanya. Tumpuan cinta yang pernah menyentuhmu tujuh tahun lalu kini kembali. Kamu meminta saya dan suami menjadi MC pada hari pernikahan yang hanya mengundang keluarga dan sedikit kawan. 

Namun ujian kemudian makin sering datang. Pemulihan akibat stroke belum usai. Organ paru yang sebelumnya bermasalah, memburuk dan harus dipotong sebagian. Kepanikan dan keresahanmu bukan karena harus menjalani operasi besar, tapi membayangkan bagaimana ibunda tersayang menerima kabar ini.  

Rencana operasi disiapkan, kabar buruk lain muncul. Liver yang dulu sudah membaik, kini menurun fungsinya. Salah satunya karena menelan banyak sekali obat. Kamu menerima semua dengan sabar, walau kondisi yang semakin serius membuatmu harus menjalani perawatan di rumah sakit. 

Setelah tiga minggu berjuang, kamu harus masuk ICU. Bersama beberapa sahabat dan keluarga besar, kami menantimu di ruang tunggu. Berbagi cerita kebaikan dan kejenakaanmu di antara doa dan harapan yang terus kami bentangkan.

Tengah malam kamu dipindahkan ke rumah sakit lain. Proses yang membuat kita sempat berjumpa di IGD sebelum para nakes di rumah sakit yang menerimamu, membawamu ke ICU mereka. Ternyata itu perjumpaan kita terakhir di dunia, sebab paginya saya mendapat kabar, dirimu sudah pergi.

 

 
Berbagi cerita kebaikan dan kejenakaanmu di antara doa dan harapan yang terus kami bentangkan.
 
 

 

Dulu saya mengira, telah mengenalmu cukup dekat. Tapi mengapa setelah kamu wafat banyak sekali tabir tersingkap? “Anak biologis almarhum hanya dua, namun anak asuh beliau, subhanallah banyak sekali.”

Santri-santri tahfizh yang disantuni rutin. Bahkan, ada yang hingga kuliah di Kairo, di antaranya bercerita bagaimana kamu memintanya menolongmu dengan cara menerima uang kiriman tiap bulan. “Boleh tolong saya, untuk bekal di akhirat saya nanti?” pungkasmu. 

Baru setelah kamu meninggal, saya tahu bahwa kamu punya kontribusi besar di masjid dengan pintu cantik yang sering saya lewati dalam perjalanan ke rumahmu, yang mengingatkan saya pada Masjid Nabawi.

“Kami bahkan malu ya Allah, kalau masuk surga, jika almarhum masuk belakangan,” ujar seorang ustaz sebelum shalat jenazah digelar.

Semua bersaksi betapa salehnya dirimu. Kisah demi kisah kebaikan terus bergulir. Kamu yang tidak pernah menolak memberi pekerjaan, bahkan tempat tinggal juga makanan bagi para penulis yang kesulitan. Mereka tinggal bersamamu, makan minum layaknya di rumah sendiri.

 

 
Santri-santri tahfizh yang disantuni rutin. Bahkan ada yang hingga kuliah di Kairo, di antaranya bercerita bagaimana kamu memintanya menolongmu dengan cara menerima uang kiriman tiap bulan.
 
 

 

Dan kabar-kabar baik tak berhenti. Dua hari setelah kepulanganmu, seorang ibu yang membesarkan tiga anak sendirian, datang hanya untuk menyampaikan belasungkawa. “Jika tidak ada Pak Hilman, barangkali anak-anak saya tidak sekolah,” tuturnya.  

Lima belas tahun kamu membantu mereka dalam diam. Masya Allah.

Saya kira saya mengenalmu, kami mengenalmu. Namun baru setelah kamu pergi, jejak kebaikanmu yang bertebaran menyentakkan kami. Membuat kami tergugu, malu dengan persiapan luar biasa yang kamu lakukan untuk akhiratmu. Malu dengan caramu mengemasnya sedemikian rapi bertahun-tahun hingga tak seorang pun tahu. 

Selamat jalan sahabat, semoga tenang di sana. Insya Allah pahala kebaikan yang kamu tanam selama ini menjadi anak tangga ke surga-Nya kelak.


WHO Minta Ukraina Musnahkan Patogen

WHO khawatir patogen itu bocor dan lepas ke masyarakat jika laboratorium diserang Rusia.

SELENGKAPNYA

Hilangnya Penanda Jarak di Antara Jamaah

Imbauan MUI untuk kembali merapatkan shaf shalat bisa menjadi pengobat kerinduan setelah dua tahun ‘dipisah’ pandemi.

SELENGKAPNYA
×