Sejumlah pengungsi etnis Rohingya berada di tempat penampungan sementara di Desa Alue Buya Pasie, Kecamatan Jangka, Bireun, Aceh, Ahad (6/3/2022). | ANTARA FOTO/Rizawati/Syf/foc.

Tajuk

Filantropi Islam dan Pengungsi

Memanfaatkan pendanaan zakat dan sedekah untuk kebaikan umat manusia.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) merilis Laporan Tahunan Filantropi Islam 2022, Rabu (23/3). Laporan ini mengupas kebermanfaatan zakat dan sedekah bagi pengungsi di banyak negara, yang diterima rekanan UNHCR selama 2021.

Pengungsi dengan beragam penyebab merupakan kalangan rentan dan telantar akibat minimnya bantuan. Laporan UNHCR itu mengungkap kemampuan keuangan sosial Islam membantu untuk memecahkan kebutuhan kemanusiaan global saat ini.

Zakat dan sedekah ternyata berperan mengubah kehidupan pengungsi dan orang telantar di banyak negara.

Sepanjang 2021, menurut Laporan Tahunan Filantropi Islam 2022 yang dirilis UNHCR, lebih dari 1,2 juta orang di 14 negara mendapatkan manfaat dari zakat dan sedekah yang disalurkan UNHCR.

 
Sepanjang 2021, menurut Laporan Tahunan Filantropi Islam 2022 yang dirilis UNHCR, lebih dari 1,2 juta orang di 14 negara mendapatkan manfaat dari zakat dan sedekah yang disalurkan UNHCR.
 
 

Sumbangan yang diterima Dana Zakat Pengungsi UNHCR mencapai sekitar 23,6 juta dolar AS.

Zakat tersebut disalurkan ke 679 ribu pengungsi dan pengungsi internal di 13 negara, yakni Afghanistan, Bangladesh, Mesir, India, Indonesia, Irak, Yordania, Lebanon, Malaysia, Mauritania, Nigeria, Pakistan, dan Yaman.

Sedangkan, dana sedekah 11,7 juta dolar AS telah membantu lebih dari 596 ribu penerima manfaat di 10 negara. Data tersebut menunjukkan, keterkaitan erat antara dampak zakat dan sedekah terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs.

Utamanya, pengentasan masyarakat dari kemiskinan, tak ada kelaparan, kesehatan yang baik, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, serta pengadaan air bersih dan sanitasi.

Tantangannya, bagaimana memperluas bantuan. Filantropi Islam mesti bisa menajamkan program dalam mengentaskan pengungsi dari krisis kemanusiaan. Faktor geopolitik yang kini multipolar dengan area konflik yang menyebar merupakan kendala tersendiri.

 
Tantangannya, bagaimana memperluas bantuan. Filantropi Islam mesti bisa menajamkan program dalam mengentaskan pengungsi dari krisis kemanusiaan.
 
 

Program bantuan bagi pengungsi yang di satu titik area bisa lebih mudah ditangani, ketimbang pengungsi dalam jumlah kecil di beberapa titik.

Misalkan pengungsi Muslim Rohingya. Pengungsi dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar, itu kini tak hanya berkumpul di Bangladesh, yang berbatasan langsung dengan Rakhine. Mereka menyebar hingga Aceh, Jakarta, dan meneruskan rute pengungsian hingga Australia.

Krisis kemanusiaan juga melanda rakyat Afghanistan. Setelah Taliban menguasai pemerintahan Afghanistan, ternyata tidak mudah menaklukkan tekanan dari negara-negara Barat.

Dalam kondisi teralienasi, pemerintahan Afghanistan kesulitan menjalin perdagangan dengan negara mitra. Kebutuhan pokok pangan mereka tidak mencukupi dari dalam negeri. Sementara, impor pangan tidak memungkinkan dilakukan.

Di sisi lain, pembekuan sistem keuangan di luar negeri menjadikan krisis finansial menjadi-jadi. Dampak langsung tentu berpengaruh pada kehidupan sebagian besar rakyat Afghanistan. Mereka mesti mengantre untuk mendapatkan jatah makanan.

World Food Programme menyebutkan, 23 juta rakyat Afghanistan terancam kelaparan. Krisis kemanusiaan yang dialami rakyat Palestina bahkan lebih lama. Penderitaan mereka terjadi sejak praktik apartheid dan penjajahan Israel atas rakyat Palestina.

 
World Food Programme menyebutkan, 23 juta rakyat Afghanistan terancam kelaparan. Krisis kemanusiaan yang dialami rakyat Palestina bahkan lebih lama.
 
 

Karantina tidak mereka alami hanya pada masa pandemi, bahkan jauh sekian puluh tahun sebelum pandemi menerpa secara global dua tahun terakhir.

Dalam konteks inilah, bantuan sedekah dan zakat yang dikumpulkan melalui UNCHR menjadi relevan. Sedekah dan zakat akan jauh lebih bermakna bagi kehidupan Muslim di daerah-daerah konflik dan krisis kemanusiaan tersebut.

Sumbangan sedekah dan zakat dari Muslim global sangat mereka nantikan. Tentu saja program bagi pengungsi Muslim tersebut tak hanya menyasar untuk pemenuhan kebutuhan pokok. Lebih dari itu, pengungsi Muslim membutuhkan untuk pengembangan diri.

Kesempatan mendapatkan lapangan kerja lebih luas dan pendidikan lebih tinggi merupakan bagian dari kemanfaatan dana zakat dan sedekah.

Mereka tak hanya membutuhkan bantuan uang tunai dan barang, tapi juga kebahagiaan dan kehidupan tenteram sejahtera. Karena itu, menemukan solusi untuk krisis pengungsi tanggung jawab bersama semua Muslim.

Memanfaatkan pendanaan zakat dan sedekah untuk kebaikan umat manusia, merupakan misi Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Polri Belum Temukan Mafia Minyak Goreng

Polri menyebut, kelangkaan minyak goreng akibat aksi panik konsumen dan penjual yang memborong.

SELENGKAPNYA

Mudik Wajib Booster

Mewajibkan booster sebagai syarat untuk mudik Lebaran akan rumit dalam pengawasan.

SELENGKAPNYA

Zakat Selamatkan Jutaan Pengungsi Dunia

Zakat memiliki peran signifikan dalam penanganan krisis pengungsi di dunia.

SELENGKAPNYA