Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika

Konsultasi Syariah

15 Mar 2022, 06:32 WIB

Saham Preferen

Apa dan bagaimana pandangan syariah terkait saham preferen?

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONI; Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalamualaikum wr wb.

Saya mengelola usaha startup dan ada teman saya bersedia untuk investasi dalam nominal sekian, tetapi dia tidak mau rugi. Misalnya, ketika dilikuidasi, dia harus balik modal dalam bentuk hasil penjualan aset yang dilikuidasi, sedangkan para pemodal lainnya tidak mendapatkan hak atau mungkin lebih tepatnya saham preferen. Bagaimana pandangan syariah terkait dengan hal ini?-- Indra, Jakarta

Waalaikumussalam wr wb.

Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa dijelaskan dalam poin-poin berikut. Pertama, kesimpulannya saham preferen (al-Ashum al-Mumtazah/preferred share) itu tidak diperbolehkan menurut kesimpulan fatwa DSN MUI Nomor 135/DSN-MUI/V/2020 tentang Saham dan Standar Syariah Internasional AAOIFI Nomor 21 tentang al-Ashum wa as-Sanadat, karena bertentangan dengan prinsip dasar bagi hasil seperti musyarakah, yaitu sama-sama untung dan sama-sama rugi.

Kedua, menurut kebijakan otoritas pasar modal di Malaysia, preferred share atau saham preferen itu dibolehkan, tetapi dengan cara al-ibra. Artinya, pada saat terjadi kerugian pemilik saham preferen itu diberikan haknya dari hasil penjualan aset saat likuidasi dan akhirnya pemilik saham lain itu ridha mereka tidak mendapatkan hasil penjualan aset yang dilikuidasi atau tidak balik modal. Ini karena hak mereka diberikan kepada pemilik saham preferen tersebut.

Ini sebagaimana Keputusan Majlis Penasihat Suruhanjaya Malaysia, “Resolution at its 20th meeting on 14 July 1999, the SAC resolved that the basic preference share (non-cumulative) is permissible based on tanazul.”

Ketiga, walaupun ada perbedaan pendapat tersebut, tetapi di Indonesia keputusan yang menjadi referensi adalah fatwa DSN MUI karena telah menjadi keputusan yang mengikat dan harus diikuti oleh para pelaku usaha dan industri yang didasarkan pada kaidah dan alasan berikut.

(1) Menurut fatwa DSN MUI Nomor 135/DSN-MUI/V/2020 tentang Saham, saham preferen/saham istimewa (al-Ashum al-Mumtazah/preferred share) itu tidak dibolehkan karena bertentangan dengan prinsip dasar musyarakah yang menjadi dasar akad antara pemilik saham dan pengelola, yaitu sama-sama untung dan sama-sama rugi.

Di mana mereka pemilik saham preferen itu diberikan hak walaupun hasil usaha rugi. Ini tidak sesuai dengan prinsip dasar syirkah atau bagi hasil. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, “Manfaat (didapatkan oleh seseorang) disebabkan ia menanggung risiko.” (HR Tirmidzi). Selain itu kaidah, “Risiko berbanding dengan manfaat.”

(2) Pemilik modal (investor) tidak diperkenankan berinvestasi dengan syarat balik modal dan untung, karena substansi transaksi tersebut adalah utang ribawi. Hal ini sebagaimana fatwa DSN MUI Nomor 105/DSN-MUI/X/2016 tentang jaminan pengembalian modal dalam akad mudharabah, musyarakah, dan wakalah bil istitsmar.

Dan, sebagaimana penegasan Standar Syariah Internasional AAOIFI; “Dasar tidak boleh mensyaratkan untuk menjamin modal kepada pengelola karena syarat ini menghilangkan substansi akad mudharabah, musyarakah, dan wakalah: dan mengubahnya menjadi akad pinjaman (qardh) yang menjadi tanggung jawab pengelola (untuk mengembalikannya)”. (Standar Syariah Internasional AAOIFI no. 45 tentang Himayatu Ra’si al-Mal).

Juga Keputusan Lembaga Fikih lnternasional OKl; “Tidak boleh mensyaratkan mudharib untuk menjamin modal. Jika dipersyaratkan baik secara tersurat ataupun tersirat, syarat untuk menjamin modal adalah batal dan mudharib berhak atas keuntungan wajar (ribh al-mitsl)”. [Keputusan Lembaga Fikih lnternasional OKl No.30 (4/5)].

Ibnu Quddamah menjelaskan: “Bagian syarat-syarat fasid adalah mensyarat hal-hal yang bukan termasuk maslahat akad dan muqtadha-nya, seperti mensyaratkan kepada pengelola untuk menjamin modal dan bagian dari ekspektasi keuntungan”. (al-Mughni, 2/230).

Wallahu a’lam.


Alquran dan Palestina (Bagian 1)

Palestina mempunyai keistimewaan tersediri karena di dalamnya ada Masjid al-Aqsha.

SELENGKAPNYA
×