Presiden Rusia Vladimir di Moscow, Rusia, Ahad (27/2/2022). | AP/Sergei Guneyev/Pool Sputnik Kremlin

Kabar Utama

12 Mar 2022, 03:45 WIB

Putin Sanksi Balik Negara Barat

Krisis Ukraina dan Rusia mengancam ketahanan pangan global di tengah pandemi yang berkepanjangan.

MOSKOW – Presiden Rusia Vladimir Putin membalas Barat dengan melarang ekspor lebih dari 200 produk buatan dalam negeri. Balasan dari Rusia ini merupakan respons balik terhadap sanksi ekonomi yang dijatuhkan negara Barat sebagai buntut dari serangan Rusia ke Ukraina.

Pemerintah Rusia dalam situsnya menyatakan, pembatasan tersebut mencakup barang-barang yang sebelumnya diimpor ke Rusia. Mulai dari peralatan medis dan mesin pertanian hingga gerbong kereta api dan turbin, kata pemerintah, di situsnya. Langkah itu demi menjaga stabilitas di pasar Rusia. 

Pihak Moskow menyebut Eropa mengonsumsi sekitar 500 juta ton minyak per tahun. Rusia memasok sekitar 30 persen dari konsumsi minyak Eropa atau sebesar 150 juta ton, termasuk 80 juta ton petrokimia.

Ekonomi Rusia pun kini menghadapi krisis paling parah sejak kejatuhan Uni Soviet pada 1991. Barat dan sekutunya memberlakukan sanksi yang melumpuhkan hampir seluruh sistem keuangan dan perusahaan Rusia, menyusul invasi Rusia ke Ukraina.

Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengakui, ekonomi Rusia mengalami syok akibat sanksi Barat. Peskov menggambarkan, situasi ekonomi Rusia saat ini bergejolak. Namun pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk menenangkan dan menstabilkan perekonomian.

“Ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya. Perang ekonomi yang telah dimulai melawan negara kita belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi sangat sulit untuk memperkirakan apa pun,” kata Peskov, Jumat (11/3).

Presiden Amerika Serikat Joe Biden pada Selasa (8/3) memberlakukan larangan impor minyak dan energi lainnya dari Rusia. Sebelum mengambil keputusan melarang ekspor produk buatannya, Putin memperingatkan bahwa harga minyak bisa melonjak hingga lebih dari 300 dolar AS per barel, jika Amerika Serikat dan Uni Eropa melarang impor minyak mentah dari Rusia.

Produk Rusia lainnya yang memainkan peran penting dalam perdagangan dunia, termasuk gandum, logam mulia, dan industri serta kayu. Pemerintah Rusia telah menangguhkan ekspor beberapa jenis kayu dan produk kayu ke negara-negara yang melakukan tindakan permusuhan terhadap Rusia.

Dilansir Bloomberg pada Jumat (11/3), selain AS, Inggris juga telah mengumumkan larangan impor minyak Rusia. Rusia tetap menjadi pemasok energi utama bagi negara-negara Uni Eropa, meskipun blok tersebut mengambil langkah mengurangi kebergantungannya. Rusia sempat mengancam akan memotong pasokan gas alam melalui pipa Nord Stream 1 ke Eropa.

Uni Eropa pada Rabu (9/3) menambahkan 14 oligarki Rusia ke dalam daftar sanksi. Mereka di antaranya miliarder, anggota parlemen, dan pembalap Formula Satu (F1). Dilansir Anadolu Agency, miliarder Rusia, Andrey Melnichenko, yang aktif di bidang batu bara dan pupuk masuk ke dalam daftar sanksi Uni Eropa.

Selain itu, produsen pupuk Andrei Guriev, produsen pipa baja Dmitry Pumpians, dan agroindustri Vadim Moshkovich juga berada dalam daftar sanksi serupa.

photo
Pemilik Chelsea Roman Abramovic berfoto selepas klubnya memenangkan Lipa Premier Inggris pada 2005. Chelsea jadi salah satu yang terdampak sanksi terhadap Rusia. - (AP Photo/Jon Super, File)

Uni Eropa menambahkan pengusaha dan menantu Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Alexander Vinokurov, ke dalam daftar sanksi. Uni Eropa juga menjatuhkan sanksi kepada pengusaha industri kimia Dmitry Arkadievich Mazepin dan putranya yang merupakan pembalap F1 Nikita Mazepin. Termasuk CEO perusahaan penerbangan terbesar Rusia Aeroflot, Mikhail Poluboyarinov.

Sergey Lavrov mengatakan, negaranya tidak akan pernah lagi bergantung pada Barat. Terkait sanksi ekonomi berlapis yang kini sedang dihadapi Rusia karena menyerang Ukraina, Lavrov menyebut Moskow bakal berusaha mengatasinya. Dia yakin, Rusia akan menemukan cara agar tidak lagi bergantung pada Barat. “Hal ini seharusnya sudah dilakukan sejak lama,” ujar Lavrov.

Lavrov menekankan, Rusia bakal memastikan situasi yang kini sedang dihadapi tidak akan terulang kembali. Terkait seruan Barat untuk mengembargo komoditas energi Rusia, Lavrov tak terlalu mengkhawatirkannya.

“Silakan (embargo). Jika mereka berhenti membeli minyak dan gas, wakil perdana menteri kami, Alexander Novak, yang mengawasi sektor energi, berbicara secara rinci bahwa kami tidak akan membujuk mereka untuk membeli minyak dan gas kami,” kata Lavrov.

Ketahanan pangan

Kepala Komite Ketahanan Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Gabriel Ferrero de Loma-Osorio mengatakan, krisis Ukraina dan Rusia dapat mengancam ketahanan pangan global di tengah pandemi yang berkepanjangan. Rusia dan Ukraina merupakan salah satu sumber utama biji-bijian, pupuk, dan energi dunia.

“Kami tidak berjalan dengan baik, bahkan sebelum pandemi, kelaparan meningkat perlahan dan kemudian pandemi melanda,” kata de Loma-Osorio.

De Loma-Osorio mengatakan kepada The Associated Press, diperkirakan 161 juta lebih banyak orang menderita kelaparan daripada sebelum pandemi, dengan total 821 juta. Invasi Rusia ke Ukraina telah berdampak besar pada ketersediaan dan harga makanan.

“Kita perlu berhati-hati, tetapi kita dapat melihat dampak penting pada ketahanan pangan secara global,” ujar De Loma-Osorio.

De Loma-Osorio mengatakan, seluruh negara perlu berhati-hati dalam menangani keamanan pangan mereka. Dia mencontohkan, Bangladesh mengimpor hampir separuh gandumnya dari Ukraina dan Rusia. Meskipun belum ada gangguan global terhadap pasokan gandum, harga telah melonjak 55 persen sejak sepekan sebelum invasi. ';

Dampak Sanksi terhadap Rusia Terasa Hingga ke Bali

Bali adalah tujuan liburan populer bagi turis Rusia. Ribuan turis Rusia berlibur ke Bali sebelum pandemi Covid-19.

SELENGKAPNYA

Perang Rusia-Ukraina: Sisi Muslim (1)

Pemerintah Indonesia seolah gagap merespons invasi Rusia ke Ukraina.

SELENGKAPNYA

AS Larang Impor Minyak dan Gas Rusia

Krisis pasokan LNG ke Eropa menguntungkan segelintir eksportir raksasa, termasuk asal AS.

SELENGKAPNYA
×