Petugas medis menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada anak saat vaksinasi massal di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (19/2/2022). | ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/nym.

Nasional

11 Mar 2022, 03:45 WIB

Periksakan Anak ke Dokter Setelah Sembuh Covid

Anak-anak juga bisa mengalami long covid.

JAKARTA -- Orang tua diminta bersiap terhadap kemungkinan anak mengalami long covid pascasembuh. Dokter spesialis anak konsultan penyakit infeksi dan pediatri tropis Prof Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), MTropPaed dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia meminta orang tua mencermati kondisi anak.

"Kalau anak sudah pernah kena, orang tua perlu bersiap untuk kemungkinan long Covid-19. Jadi setelah sembuh, bulan depannya kontrol ke dokter," ujar Hindra,  Kamis (10/3).

Hindra menjelaskan, long Covid-19 sangat mungkin terjadi pada anak yang memiliki riwayat infeksi virus SARS CoV-2, dengan minimal satu gejala menetap selama paling kurang 12 minggu setelah hasil tes usap  pertama dan tidak ditemukan diagnosis lainnya. Gejala tersebut, lanjut Hindra, berdampak pada kegiatan sehari-hari dan berlangsung lama atau hilang-timbul secara berulang.

Hindra pun menyarankan satu bulan setelah dinyatakan negatif dari Covid-19, anak dibawa ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan apakah dia mengalami long Covid-19. "Tapi, kalau sudah kelihatan ada gejala yang menetap, tidak usah menunggu satu bulan. Diharapkan dokter dapat segera mendiagnosis dan dilakukan pengobatan agar dia cepat sembuh," imbuh Hindra.

photo
Siswa berkostum super hero mengikuti vaksinasi Covid-19 di Sekolah Pembangunan Jaya (SPJ) 2 Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (17/2/2022). - (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

Gejala long Covid-19 pada anak, kata Hindra, bisa berbeda-beda. Ada yang hanya mengalami sesak, ada pula yang merasa lemas terus menerus.

Hindra juga memberikan beberapa tip mencegah anak mengalami long Covid-19, di antaranya pastikan anak istirahat yang cukup dan selalu berada di ruangan dengan sirkulasi udara yang baik untuk mengurangi kepadatan virus. "Anak itu kan sistem imunnya belum matang, masih rawan. Dia perlu istirahat, perlu tidur cukup, perlu dukungan. Ini yang bisa membuat dia sembuh sempurna dan tidak mengalami long Covid-19," kata Hindra.

Hindra juga mengingatkan pentingnya asupan makanan dengan gizi seimbang, berjemur untuk mendapatkan vitamin D alami dari sinar matahari, dan melakukan vaksinasi. 

Usia muda dan gejala ringan memang tidak menjamin bahwa penyintas Covid-19 akan terbebas dari long Covid atau sindrom pasca-Covid. Meski lebih umum terjadi pada orang dewasa, sindrom pasca-Covid juga bisa dialami oleh anak. "Kelompok anak dan remaja tetap berisiko mengalaminya," ujar dokter spesialis paru dan pernapasan RS Pondok Indah-Puri Indah dr Desilia Atikawati SpP FAPSR, melalui surel yang diterima Republika, beberapa waktu lalu.

Sindrom pasca-Covid-19 bisa dialami oleh anak atau remaja yang mengalami gejala ringan maupun berat. Beberapa gejala sindrom pasca-Covid yang dialami oleh anak atau remaja antara lain adalah kelelahan/fatigue, pusing, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, nyeri otot, nyeri sendi, dan batuk.

photo
Murid SD Negeri Gowok Kota Serang mendapat suntikan vaksin Covid-19 saat Percepatan Vaksinasi Untuk Anak di Kampung Curug, Serang, Banten, Senin (21/2/2022). - (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/wsj.)

Gejala-gejala sindrom pasca-Covid memiliki jangka waktu yang berbeda antarpenyintas Covid-19. Namun sebuah penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal Lancet memberikan pemahaman lebih lanjut terkait hal ini.

Penelitian yang dipimpin oleh peneliti dari University College London ini melibatkan sebanyak 3.765 partisipan dari 56 negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 91 persen partisipan membutuhkan waktu lebih dari 35 pekan untuk pulih sepenuhnya.

Gejala sindrom pasca-Covid yang paling banyak ditemukan setelah bulan keenam adalah kelelahan, perburukan gejala setelah aktivitas atau post-exertion malaise, dan gangguan kognitif. 

Sebanyak 85,9 persen partisipan mengalami kekambuhan gejala, terutama dicetuskan oleh olahraga, aktivitas fisik atau mental, serta stres. "Sebanyak 1.700 partisipan membutuhkan pengurangan waktu kerja. Gangguan kognitif atau ingatan ditmeukan di seluruh grup usia," jelas dr Desilia.

Sumber : antara


×