Petugas melayani nasabah saat bertransaksi di kantor pusat Bank Syariah Indonesia (BSI) di Jakarta, Selasa (11/1/2022). BSI meluncurkan tiga layanan sebagai bank penyalur gaji, bank persepsi dan mitra pengelola rekening khusus surat berharga syariah negar | ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.

Ekonomi

09 Mar 2022, 08:47 WIB

Pemesanan Sukuk Ritel Melonjak

Investor bisa kehabisan kuota seperti ketika penawaran SBSN seri sebelumnya.

JAKARTA -- Sejumlah perbankan syariah mencatat peningkatan penjualan sukuk ritel. Penjualan obligasi syariah seri SR-016 di PT Bank Muamalat Indonesia Tbk melonjak signifikan pada awal masa penawaran.

Sekretaris Perusahaan Bank Muamalat, Hayunaji, mengatakan, penjualan SR-016 di Bank Muamalat hingga saat ini terus meningkat. "Tren rata-rata volume penjualan harian pada pekan pertama masa penawaran jika dibandingkan dengan seri sukuk ritel sebelumnya, yaitu SR-015, mengalami peningkatan volume sebesar 296 persen per hari," kata Hayunaji kepada Republika, Selasa (8/3).

Hayunaji belum bisa membeberkan detail angka pemesanan yang sudah dilakukan melalui Muamalat. Meski begitu, ia berharap tren peningkatan tersebut dapat terus dipertahankan hingga akhir masa penawaran.

Dia menyampaikan, strategi penjualan sukuk negara ritel kali ini tidak berbeda jauh dengan penjualan sukuk seri sebelumnya. Pemesanan hingga pembayaran SR-016 dapat dilakukan secara daring melalui internet banking Bank Muamalat, termasuk proses pendaftaran single investor identification (SID). Bank Muamalat juga melakukan kegiatan pemasaran secara intensif melalui media sosial dan menawarkan program cash rewards.

SR-016 ditawarkan dengan kupon 4,95 persen dan tenor tiga tahun. Obligasi ritel ini dapat diperjualbelikan kembali di pasar sekunder. Masa penawaran SR-016 akan ditutup pada 17 Maret 2022.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by DJPPR Kementerian Keuangan RI (djpprkemenkeu)

 

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menyampaikan, penjualan SR-016 berhasil mencatatkan rekor. Sekretaris Perusahaan BSI Gunawan Arief menyampaikan, pada hari pertama pemesanan, BSI sudah mencatat rekor baru dari total angka pemesanan dari yang pernah ada sebelumnya.

"Alhamdulillah, penjualan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Seri SR-016 di BSI sangat luar biasa," katanya kepada Republika, Senin (7/3).

Pemasaran penjualan SR-016 di BSI didukung oleh lebih dari 1.500 outlet di Indonesia. BSI juga melakukan sosialisasi kepada seluruh nasabah, khususnya nasabah prioritas BSI.

Upaya literasi dan informasi melalui acara maupun media sosial juga dilaksanakan untuk menjangkau nasabah milenial lebih banyak lagi. Nasabah BSI juga dapat melakukan pembelian SR-016 melalui BSI Mobile Banking. Kemudahan itu diharapkan membuat nasabah semakin nyaman membeli SR-016 lewat BSI.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengimbau investor yang berminat memesan SR-016 untuk tidak menunggu masa akhir penawaran. Analis Kesesuaian Syariah dan Dokumen Hukum Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Kemenkeu Mochammad Rama menyampaikan, penawaran sukuk ritel sering kali mengalami kelebihan pemesanan atau oversubscribe.

Investor bisa kehabisan kuota seperti ketika penawaran SBSN seri-seri sebelumnya. "Banyak yang membeli di akhir masa penawaran tidak kebagian, kehabisan, karena kita juga punya target," kata Rama.

Rama mengatakan, produk sukuk tidak bisa menerapkan penawaran semaksimal mungkin karena disesuaikan dengan underlying asset. Untuk saat ini, maksimalnya adalah Rp 20 triliun. "Kita tidak bisa lebih dari itu karena bisa berpengaruh ke reputasi pemerintah," katanya.

Rama menyampaikan, penerbitan surat berharga negara, termasuk SBSN, terus mengalami perkembangan signifikan. Sejak diterbitkan pertama kali pada 2008 di seri IRR-001 dan IRR-002, total penghimpunannya telah bertambah ribuan persen.

Pada 2008, kedua seri tersebut berhasil mengumpulkan dana Rp 4,6 triliun dalam satu tahun. Per Maret 2022, total penerbitan SBSN sudah mencapai lebih dari Rp 1.200 triliun dan digunakan untuk pembangunan infrastruktur maupun pengadaan barang modal. "Ini adalah partisipasi warga kita sendiri. Kita jadi tidak bergantung pada asing," katanya.

Rama menyampaikan, ragam investor juga terus bertambah seiring dengan berbagai inovasi yang dilakukan. Sejak penerapan penjualan daring atau e-SBN, pemesanan SBN ritel kemudian didominasi milenial. Selain itu, pemesanan secara daring juga membuat sebaran investor terus meluas dari yang awalnya hanya di Jawa dan Sumatra, kini juga berasal dari wilayah timur Indonesia. 


×