Wisatawan mancanegara yang menumpangi maskapai Singapore Airlines tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Senin (7/3/2022). | ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/rwa.

Teraju

10 Mar 2022, 07:00 WIB

Belum Ada Sinyal Positif Pariwisata

Kinerja sektor pariwisata nasional pada Januari 2022 masih menyedihkan.

OLEH RAHMAT HADI SUCIPTO

Hari terus berganti. Tidak terasa pula susul-menyusul pekan, bulan, dan tahun. Tentu semua berharap ada perbaikan dalam setiap perubahan waktu tersebut.

Sayang, saat ini terasa susah mengharap perubahan positif di tengah-tengah situasi dan kondisi yang tak kondusif. Sektor pariwisata, misalnya, masih tertatih-tatih membangun diri karena efek pandemi Covid-19 terlalu berat menggelayuti.

Kita sudah memasuki 2022. Semula mengira tahun 2021 lalu bakal lebih baik daripada tahun sebelumnya. Tapi, asa itu tak terwujud. Lalu, semua berharap 2022 bakal memberikan kesejukan, membawa angin segar perubahan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mungkinkah?

Melihat data Badan Pusat Statistik (BPS), tampaknya harapan ke arah yang lebih baik pada 2022 ini belum terasa. Setidaknya hingga dua bulan (Januari dan Februari) yang sudah berlalu. Belum ada perubahan signifikan dalam industri pariwisata Indonesia. Dalam dua tahun terakhir, pada 2020 dan 2021, sektor pariwisata benar-benar masuk jurang keterpurukan yang sangat dalam.

photo
Wisatawan berjalan-jalan di jalur pedestrian Malioboro, Yogyakarta, Senin (28/2/2022). - (Wihdan Hidayat / Republika)

Indonesia sempat memasuki momentum keemasan sebelum pandemi menyapa seluruh wajah dunia. Sebagai ilustrasi, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2017 mencapai 14,04 juta kunjungan.

Kemudian, terjadi kenaikan yang sangat signifikan sebesar 13 persen pada 2018 menjadi 15,81 juta kunjungan atau ada tambahan 1,77 juta kunjungan. Kinerja 2019 masih positif karena total jumlah kunjungan wisman mencapai 16,11 juta atau naik 2,0 persen dari tahun sebelumnya. Yang pasti, dari 2017 hingga 2019 terjadi kinerja positif pada sektor pariwisata nasional.

Akan tetapi, sejak 2020 segalanya berubah. Memang masih ada kontribusi yang lumayan baik pada Januari 2020 dengan jumlah wisman yang masuk ke Tanah Air mencapai 1.290.411, lebih baik dibandingkan dengan bulan yang sama 2019.

Namun, sejak Februari 2020 hingga akhir Desember 2020 kinerjanya terus merosot. Jumlah kehadiran wisman di Indonesia tak pernah menembus angka jutaan. 

Kondisi 2020 terulang lagi pada 2021 lalu. Bahkan, kinerja sektor pariwisata 2021 lebih buruk dibandingkan dengan kondisi 2020. Apa buktinya? BPS mencatat total kunjungan wisman sepanjang 2021 hanya menembus angka 1.557.530, turun hingga 62 persen dari performa 2020. 

Kontribusi kecil

Dengan jumlah kunjungan yang jauh mengecil dibandingkan dengan kinerja sebelum pandemi, tentu saja kontribusi sektor pariwisata sangat kecil. Artinya, penerimaan devisa negara terjun bebas selama terjadi pandemi pada 2020 dan 2021.

Berdasarkan catatan BPS, devisa sektor pariwisata masih bisa tumbuh sampai 2020. Setelah itu, angkanya merosot tajam. Sebagai gambaran, pada 2016 devisa negara dari sektor pariwisata sebesar 11,21 miliar dolar AS (Rp 160,9 triliun dengan nilai kurs Rp 14.352 per dolar AS). Lalu, pada 2017 angkanya naik menjadi 13,14 miliar dolar AS (Rp 188,6 triliun) atau tumbuh signifikan dua digit sebesar 17,2 persen. 

Kontribusi sektor wisata bahkan lebih baik lagi sepanjang 2018 dengan menyumbang devisa sebesar 16,63 miliar dolar AS (Rp 238,7 triliun). Artinya, pada 2018 terjadi kenaikan jumlah devisa dari wisata sebesar 25 persen.

Pada 2019 pemasukan devisa memang naik menjadi 16,9 miliar dolar AS (Rp 242,5 triliun). Dengan kata lain, ada kenaikan meski kecil hanya 2,9 persen pada 2019 dari tahun sebelumnya.

Pada 2020, pemasukan devisa sektor pariwisata terpelanting jauh menjadi 3,30 miliar dolar AS (Rp 47,4 triliun). Ini jelas kinerja yang sangat buruk karena tahun-tahun sebelumnya mencapai belasan miliar dolar AS. Devisa pariwisata 2020 turun 80,5 persen dibandingkan dengan 2019.

Yang menyedihkan, pada 2021 kondisinya justru lebih parah karena pendapatan devisa pariwisata hanya mencapai level 0,36 miliar dolar AS (Rp 5,2 triliun) atau mengalami kontraksi sebesar 89,1 persen dari kinerja 2020.

Tentu saja pemerintah selalu mengaku optimistis ketika memasuki perubahan tahun. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno pun mematok target pendapatan devisa pariwisata sebesar 1,7 miliar dolar AS (Rp 24,4 triliun) sepanjang 2022.

Memang target devisa sepanjang 2022 ini lebih baik dibandingkan dengan 2021, tetapi masih lebih rendah dibandingkan dengan 2020 yang angkanya juga sangat menyedihkan.

photo
Perkembangan Pariwisata Januari 2022 - (Badan Pusat Statistik)
 

Sandiaga sangat berharap sektor pariwisata bisa bangkit dari keterpurukan. Akan tapi, tampaknya harapan Sandi sulit terwujud selama Covid-19 masih merajalela. Mobilitas wisman bakal terbatas ketika virus ini belum sirna.

Januari 2022 belum bertaji

Wajah pariwisata domestik ternyata masih suram pada awal 2022 ini. Setidaknya ini tergambar dari laporan resmi BPS. Kepala BPS Margo Yuwono menjelaskan, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia pada Januari 2022 mencapai 143,74 ribu kunjungan, naik 13,62 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan Januari 2021. Sebaliknya, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, jumlah kunjungan wisman pada Januari 2022 mengalami penurunan sebesar 12,15 persen.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Januari 2022 mencapai 42,43 persen, naik 12,08 poin dibandingkan dengan TPK Januari 2021. Namun, jika dibandingkan dengan TPK bulan sebelumnya, TPK Januari 2022 mengalami penurunan sebesar 9,14 poin. Sementara, TPK hotel non-bintang pada Januari 2022 tercatat sebesar 20,02 persen, naik 1,29 poin dibandingkan dengan Januari 2021.

Margo mengemukakan, rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama bulan Januari 2022 tercatat sebesar 1,60 hari, turun 0,26 poin dibandingkan dengan Januari 2021. Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, rata-rata lama menginap selama Januari 2022 turun sebesar 0,01 poin.

photo
Wisatawan mancanegara tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Senin (7/3/2022). Pemerintah Provinsi Bali mulai menerapkan kebijakan tanpa karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) ke Pulau Dewata dan menerapkan layanan Visa on Arrival (VOA) bagi PPLN khusus yang datang dari 23 negara yang berlaku pada Senin (7/3). - ( ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/rwa.)

Jumlah kunjungan wisman Januari 2022 terdiri atas wisman yang berkunjung dengan moda angkutan udara sebanyak 14,56 ribu kunjungan, moda angkutan laut sebanyak 34,80 ribu kunjungan, dan moda angkutan darat sebanyak 94,39 ribu kunjungan. Jumlah kunjungan wisman dengan moda angkutan udara pada Januari 2022 melonjak sebesar 740,84 persen dibandingkan dengan bulan Januari 2021.

Kenaikan tajam tercatat di Bandara Soekarno-Hatta, Banten sebesar 1.036,75 persen (dari 1.238 menjadi 14.073 kunjungan). Bandara Halim Perdana Kusuma, DKI Jakarta dan Bandara Sam Ratulangi, Sulawesi Utara juga mencatat kenaikan masing-masing sebesar 60,00 persen dan 7,62 persen. Sementara itu, di pintu masuk Bandara lainnya tercatat tidak ada kunjungan wisman pada Januari 2022.

Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, jumlah wisman yang berkunjung dengan moda angkutan udara pada Januari 2022 turun sebesar 18,17 persen. Bandara yang mengalami penurunan kunjungan wisman adalah Bandara Halim Perdanakusuma (DKI Jakarta) sebesar 69,81 persen, Bandara Sam Ratulangi (Sulawesi Utara) sebesar 54,98 persen, dan Bandara Soekarno-Hatta (Banten) sebesar 15,71 persen.

Jumlah kunjungan wisman dengan moda angkutan laut pada Januari 2022 turun 7,62 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan pada Januari 2021. Penurunan tajam tercatat di Pelabuhan Tanjung Benoa (Bali) sebesar 62,50 persen, disusul oleh Pelabuhan Batam (Kepulauan Riau) yang mengalami penurunan sebesar 7,69 persen.

Jika dibandingkan dengan Desember 2021, jumlah kunjungan wisman pada Januari 2022 yang datang dengan moda angkutan laut juga mengalami penurunan sebesar 11,30 persen.

photo
Sejumah wisatawan asing asal Singapura berada didalam bus pariwisata saat tiba di Pelabuhan Ferry Internasional Nongsapura, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (23/2/2022). Sebanyak 28 wisatawan mancanegara asal Singapura perdana berkunjung ke Pulau Batam untuk berwisata melalui skema gelembung perjalanan (travel bubble) yang telah dibuka pada 24 Januari 2022 lalu. - (ANTARA FOTO/Bagjana/Lmo)

Pelabuhan Tanjung Pinang (Kepulauan Riau) mencatat penurunan tertinggi sebesar 45,45 persen. Pelabuhan Tanjung Uban (Kepulauan Riau) mencatat kenaikan kunjungan wisman yang cukup tinggi, yaitu sebesar 120,78 persen.

Jumlah wisman yang berkunjung dengan moda angkutan darat pada Januari 2022 naik 8,35 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan pada Januari 2021. Lonjakan tajam tercatat di pintu masuk Atambua (Nusa Tenggara Timur) sebesar 5.750,00 persen (dari 4 menjadi 234 kunjungan). 

Sementara, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, jumlah kunjungan wisman dengan moda angkutan darat pada Januari 2022 mengalami penurunan sebesar 11,45 persen. Namun, kunjungan wisman tercatat di pintu masuk Atambua (Nusa Tenggara Timur) mengalami peningkatan sebesar 27,17 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Hasil penelitian Ida Bagus Gede Paramita dan I Gede Gita Purnama Arsa Putra dari STHAN Mpu Kuturan Singaraja dan Universitas Udayana, yang ditulis dalam jurnal berjudul New Normal Bagi Pariwisata Bali di Masa Pandemi Covid-19, menunjukkan bahwa dampak Covid-19 telah meluluhlantakkan pariwisata di Bali.

Sebelum Covid, industri pariwisata menjadi salah satu pendorong perekonomian lokal Bali, bahkan di level nasional. Sebagai gambaran, Bali sebagai sebuah destinasi pariwisata internasional dengan pariwisata Budaya sebagai daya tarik wisatanya mengalami peningkatan jumlah kunjungan dari tahun ke tahun hal ini dapat dilihat dari data BPS tentang tingkat kunjungan wisatawan mancanegara dari tahun 2014-2015 tumbuh 6,24 persen, 2015-2016 naik 23 persen, 2016-2017 tumbuh 15 persen, dan pada 2017-2018 meningkat 3,0 persen.

photo
Perkembangan Pariwisata Januari 2022 - (Badan Pusat Statistik)

Data terkini BPS Bali mencatat wisatawan mancanegara yang datang langsung ke Provinsi Bali pada Januari 2022 sebanyak tiga kunjungan, turun 70 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2021 yang mencapai 10 kunjungan.

TPK hotel berbintang pada Januari 2022 di Bali tercatat 20,71 persen, turun 9,96 poin dibandingkan TPK Desember 2021 yang tercatat sebesar 30,67 persen. Jika dibandingkan dengan Januari 2021 yang mencapai 11,15 persen, tingkat penghunian kamar pada Januari 2022 tercatat naik 9,56 poin. Sementara itu, TPK hotel non-bintang tercatat sebesar 4,81 persen, turun 5,12 poin dibandingkan bulan Desember 2021.

Rata-rata lama menginap tamu asing dan domestik pada hotel berbintang di Bali pada Januari 2022 tercatat 1,91 hari, turun 0,12 poin dibandingkan dengan capaian Desember 2021 yang tercatat 2,03 hari. Dibandingkan dengan capaian Januari 2021 yang tercatat 3,50 hari, turun 1,59 poin. Sementara itu, untuk hotel non-bintang, rata-rata lama menginap di bulan Januari 2022 tercatat sebesar 1,60 hari, turun 0,07 poin dibandingkan dengan Desember 2021 yang tercatat sebesar 1,67 hari.

Dengan fakta seperti itu, jelas belum ada sinyal positif kebangkitan sektor pariwisata nasional. Kebijakan baru pemerintah dengan membuka kembali penerbangan internasional, termasuk di Bali, dan tanpa pemberlakuan karantina, mudah-mudahan saja bisa menjadi pelecut geliat perekonomian di Bali dan wilayah lainnya, khususnya bagi sektor pariwisata. 

Devisa Pariwisata

Tahun             Devisa (USD)

2016              11,21 

2017              13,14 

2018              16,43 

2019              16,90 

2020              3,30 

2021              0,36 

2022              1,70* 

Sumber: BPS, * target, angka dalam miliar dolar AS


×