Petugas kesehatan menyimpan sampel tes Covid-19 di Gelanggang Remaja Kecamatan Matraman, Jakarta, Jumat (11/2/2022). | Republika/Putra M. Akbar

Nasional

05 Mar 2022, 03:45 WIB

Kemenkes Deteksi 332 Kasus Subvarian Omikron

Pasien yang terjangkit omikron BA.2 mengalami gejala serupa dengan pasien terinfeksi omikron BA.1.

JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sejauh ini berhasil mendeteksi 332 kasus Covid-19 akibat subvarian omikron BA.2 yang dijuluki 'Son of Omicron'. Jumlahnya bertambah 80 kasus dalam tiga hari terakhir.

"Sudah ada 332 kasus (subvarian omikron BA.2)" kata Nadia saat dikonfirmasi, Jumat (4/3). Pada Selasa tercatat baru ada 252 kasus BA.2 di Tanah Air.

Nadia mengatakan, asumsi bahwa BA.2 ini lebih cepat menular dibandingkan varian awal omikron BA.1 belumlah terbukti. Begitu pula asumsi bahwa BA.2 meningkatkan tingkat keparahan gejala pada pasien.

"Asumsi bahwa lebih cepat menular dan meningkatkan tingkat keparahan tidak terjadi," ujar dia.

Menurut Nadia, pasien yang terjangkit omikron BA.2 mengalami gejala serupa dengan pasien terinfeksi omikron BA.1. Para pasien kebanyakan berstatus tanpa gejala dan gejala ringan seperti batuk-pilek.

Sebelumnya, Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, varian omikron (B.1.1.529) memiliki sejumlah bentuk, di antaranya BA.1, BA.1.1, BA.2 dan BA.3. Sekitar 21 persen dari total kasus omikron adalah BA.2.

Namun, terdapat sejumlah negara dengan varian BA.2 yang dominan atau lebih dari 50 persen kasus, di antaranya Brunei Darussalam, Filipina, Bangladesh, Cina, India, Nepal, dan Pakistan. "Dampak BA.2 ini memang masih terus dipelajari. Indonesia perlu waspada dan mengambil langkah antisipasi yang tepat, kalau BA.2 juga akan meningkat di negara kita," kata Tjandra.

Sementara, Ketua Kelompok Kerja Genetik Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gajah Mada, Gunadi mengatakan, subvarian omikron atau varian BA.2 Covid-19 sudah ditemukan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Varian yang juga disebut Son of Omicron ini ditemukan dari hasil pemeriksaan dengan metode Whole Genome Sequencing (WGS).

Dengan ditemukannya varian ini, pihaknya masih terus menggencarkan WGS. "Ini (pemeriksaan WGS) yang terbaru (ada) lagi," kata Gunadi, Jumat.

Bahkan, pihaknya juga baru saja menyelesaikan pemeriksaan WGS yang terbaru. Belum lama ini juga, kata dia, pihaknya sudah melaporkan hasil pemeriksaan terbaru ke Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY. Namun, Gunadi tidak bisa mengumumkan hasil dari pemeriksaan yang baru saja diselesaikan. Pemeriksaan dilakukan di laboratorium UGM.

"Sudah ada hasilnya dan sudah dilaporkan ke Bu Pembayun (Kadinkes DIY). Kewenangan mengumumkan (hasil dari WGS) ada di dinkes," ujar dia.

Tujuh kasus BA.2 tersebut merupakan hasil dari pemeriksaan terhadap 47 sampel. Gunadi merinci, dari total 47 sampel tersebut, 39 sampel terdeteksi positif omikron, delapan sampel lainnya terdeteksi positif dari varian Delta.

Dari 39 sampel yang terkonfirmasi positif omikron, katanya, tujuh sampel merupakan BA.2. Sedangkan, 32 sampel lainnya merupakan BA.1 atau varian omikron yang saat ini dominan di Indonesia. "Itu (sampelnya dari) DIY semua total itu. Kita running 47 (sampel), ketemunya 39 itu Omicron, dari 39 itu tujuh BA.2," kata dia memaparkan.

Tantangan baru pandemi

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan ke depannya ancaman varian baru Covid-19 masih akan tetap ada. Karenanya, masih ada tantangan yang harus dihadapi dalam menjalani pandemi.

"Ancaman varian Covid-19 ke depan adalah kecenderungan lebih cepat menular, lebih berat di saluran napas atas, dan menurunkan efikasi antibodi," kata Dicky.

Pemerintah dan masyarakat, harus melakukan tindakan adaptif dengan menjalan menjalankan pola hidup sehat. Mengingat, berbagai penyakit termasuk Covid-19 mudah menyerang saat kondisi tubuh tak sehat dan imunitas melemah.

"Harus ada tidakan adaptif merespons situasi hidup dengan Covid-19, dalam artian hidup lebih sehat. Sanitasi hingga kualitas udara di lingkungan dan perkantoran perlu dijaga,” ujar dia.


×