Kaos kaki Sampean | Shabrina Zakaria/Republika

Bodetabek

Kaos Kaki Sampean Jadi Merchandise MotoGP Mandalika

Ada lima desain logo MotoGP yang dicetak di kaos kaki Sampean berwarna putih

Bupati Bogor Ade Munawaroh Yasin patut berbangga. Sebab, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) asal Kampung Cihanjawar, Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, terpilih menjadi official merchandise MotoGP di Sirkuit Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

UMKM bernama Kaos Kaki Sampean, dinyatakan lolos melewati tahap kurasi dalam proses seleksi barang dagangan resmi di Sirkuit Mandalika, yang dilaksanakan oleh PT Ina Produk Indonesia dan PT DLL. UMKM ini merupakan binaan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kabupaten Bogor.

Ade pun mengapresiasi dan turut bangga atas torehan pelaku UMKM Kaos Kaki Sampean. “Selamat kepada UMKM Sampean Kaos Kaki asal Megamendung yang lolos sebagai official merchandise Sirkuit Mandalika. UMKM menjadi pilar penting bagi kebangkitan ekonomi kita,” kata Ade di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (28/2).

Pemilik Kaos Kaki Sampean, Rika Darmawati (39 tahun), mengaku, tak menyangka jika usaha yang digelutinya terpilih sebagai salah satu UMKM yang bisa menjajakan produk di ajang MotoGP pada pertengahan Maret 2022. Rika menuturkan, dirinya mendaftarkan Kaos Kaki Sampean dalam seleksi mitra yang dibolehkan berjualan merchandise MotoGP Mandalika lewat PT INA Produk Indonesia pada November 2021.

Melihat ribuan peserta yang mendaftar, Rima semulai sempat ragu bisa lolos seleksi. Tak disangka, kata dia, pada Desember 2021, kurator menyatakan, Kaos Kaki Sampean lulus menjadi official merchandise. “Tadinya mikir, bisa nggak ya? Tapi bismillah saja," ujar Rika.

Saat ini, kaus kaki yang akan dijajakan di MotoGP Mandalika sedang tahap desain. Di tangan Rika, ada lima desain logo MotoGP yang dicetak di kaos kaki berwarna putih. Tidak lama lagi, sampel kaus kaki tersebut akan dikirim ke PT INA Produk Indonesia, untuk kemudian baru diproduksi secara massal.

Tidak hanya dijual di perhelatan MotoGP, nantinya produk yang didesain Kaos Kaki Sampean diperkenankan untuk dijual di e-commerce atau media sosial, seperti Shopee, Instagram, maupun Facebook.

Rika menjelaskan, bisnis keluarga yang digeluti bersama sang adik sudah berlangsung sekitar lima tahun. Berawal dari menjadi reseller kaus kaki, lambat laun kakak beradik ini sepakat untuk membuat produk sendiri. Merek yang diusung pertama kali pada 2017, yakni bernama Kakiku.

Setelah mengurus Hak Kekayaan Intelektual (HKI) melalui Dinas Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) Kabupaten Bogor pada 2018, Kakiku resmi berubah menjadi Kaos Kaki Sampean. Dalam bahasa Sunda, sampean memiliki arti “kaki”.

Setiap dua hari, kaus kaki yang diproduksi di rumah bisa mencapai 70-100 lusin per dua hari. Rika menjelaskan, lima karyawan yang bekerja di Kaos Kaki Sampean, masih berstatus saudara yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.

Di sebuah ruangan seluas sekitar 3x3 meter, terlihat dua pekerja sedang menyortir kaus kaki setengah jadi yang baru tiba. Sedangkan di ruangan berbeda, seorang pekerja lain sibuk dengan mesin jahit. Tugasnya mengobras kaus kaki yang sudah disortir.

Usai diobras, kaus kaki yang sudah jadi langsung dikemas dengan cantik. Dimasukkan ke plastik, dan diberi label “Sampean Kaos Kakina Wargi Bogor”. Kemudian, produk tersebut siap dikirim ke para pelanggan.

Pada masa pandemi Covid-19, kata dia, usaha rumahan ini bisa menghasilkan pendapatan Rp 5 juta hingga Rp 8 juta per bulan. Rata-rata pelanggannya berasal dari luar Pulau Jawa, seperti Lombok, Bali, dan Palembang.

Setelah dijajakan di MotoGP nanti, Rika berharap Kaos Kaki Sampean bisa dikenal di kancah nasional dan internasional. Melalui namanya, ia pun berupaya mengenalkan bahasa Sunda. "Saya berharap Kaos Kaki Sampean juga bisa jadi oleh-oleh khas Bogor. Selain kue-kue dan baju, mungkin kaus kaki nanti bisa jadi oleh-oleh juga,” kata Rika. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat