Pengrajin menunjukkan kedelai impor yang harganya melambung di sentra industri tempe Sunter Jaya, Jakarta, Senin (21/2/2022). Ratusan pengrajin tempe setempat mengikuti aksi mogok produksi serentak selama 3 hari sebagai respon meningkatnya harga kedelai.P | Prayogi/Republika.

Ekonomi

28 Feb 2022, 09:28 WIB

Rp 1,65 miliar Digelontorkan untuk Budidaya Kedelai

Gelontoran dana kepada para petani untuk membantu pembinaan dan peningkatan produksi kedelai dalam negeri.

MAKASSAR -- Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sulawesi Selatan menyebut pemerintah gelontorkan anggaran sebesar Rp 1,65 miliar untuk membantu petani dalam budidaya kedelai di beberapa daerah di Sulsel. Kepala Kantor Wilayah DJPb Sulsel Syaiful di Makassar, Sabtu, mengatakan, khusus di Sulsel pemerintah telah menetapkan lima kabupaten untuk pengembangan budidaya kedelai.

"Melambungnya harga kedelai juga menjadi permasalahan tersendiri, tetapi pemerintah akan berupaya dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri," ujarnya.

Syaiful mengatakan, gelontoran anggaran kepada para petani untuk membantu dalam pembinaan dan peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Budidaya kedelai di Sulawesi Selatan akan difokuskan di lima kabupaten yakni Kabupaten Jeneponto, Bulukumba, Maros, Pangkajene Kepulauan (Pangkep) dan Pinrang. Melalui Kementerian Pertanian, bantuan pembinaan untuk petani kedelai diharapkan mampu meningkatkan produksi kedelai dalam negeri.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagesl) Nugroho Wahyu Widodo menyebut jika periode Januari 2022, para pengusaha banyak melakukan ekspor minyak sawit mentah atau CPO. "CPO banyak diekspor karena harganya sangat tinggi dan pengusaha lebih suka jual CPO keluar negeri," ujar Nugroho Wahyu Widodo.

Ia mengatakan, kelangkaan minyak goreng juga karena umumnya pengusaha sawit banyak melakukan ekspor CPO keluar negeri karena memang harganya tinggi.Nugroho menjelaskan, CPO termasuk salah satu komoditas yang diberikan bea keluar dan kontribusinya terhadap negara pada di bidang kepabeanan dan cukai itu cukup besar.

Meski tidak merincikan, dirinya tetap menyebut jika penerimaan pada bea keluar sudah mampu mengumpulkan Rp5,67 miliar atau sekitar 89,86 persen dari target Rp6,31 miliar."Kalau untuk bea keluar ini sudah cukup banyak dan umumnya itu adalah penerimaan dari CPO. Kalau secara persentase sudah 89,86 persen dari target Rp6,31 miliar," katanya.

Skema subsidi kedelai

Pemerintah berencana memberikan bantuan kepada para perajin tahu dan tempe agar bisa mendapatkan kedelai dengan harga yang lebih terjangkau. Kebijakan itu merespons tingginya harga kedelai saat ini yang membuat para perajin tahu dan tempe skala rumahan tertekan.

Asisten Deputi Pangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Saifulloh mengatakan, formula bantuan jangka pendek itu masih dibahas secara teknis dengan kementerian dan lembaga terkait. Di antaranya Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, serta Badan Pangan Nasional.

"(Bantuannya) bisa jadi subsidi atau penggantian selisih harga. Ini masalah terminologi dan pemilihan diksi," kata Saifulloh kepada Republika, pekan lalu.

Presiden Joko Widodo bersama sejumlah kementerian terkait telah membahas persoalan harga kedelai dalam rapat terbatas di Istana pada Selasa (22/2) lalu. Saifulloh mengatakan, Kemenko Perekonomian pun ditugaskan untuk mengoordinasikan kebijakan penyediaan stok dan stabilisasi harga kedelai untuk perajin tahu tempe agar dapat terus berproduksi.

Ia menyampaikan, selain pemberian bantuan, Kementerian Pertanian (Kementan) juga sedang fokus untuk menyediakan kedelai lokal melalui penanaman pada 50 ribu hektare lahan. Penanaman itu hasil kerja sama antara petani kedelai dan Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo). Sementara itu, untuk langkah jangka panjang, Kementan juga tengah fokus melaksanakan upaya peningkatan produksi dan produktivitas kedelai lokal.

"Program penanaman di sejumlah daerah strategis sebagai produsen kedelai telah diinisiasi yang disertai dengan kebijakan dukungan sarana dan prasarana produksi dan pascapanen serta pembiayaan melalui KUR," ujarnya.

photo
Pekerja merebus kedelai untuk pembuatan tempe di Pabrik Tempe Muchlar, Bantul, Yogyakarta, Rabu (/16/2/2022). Naiknya harga kedelai yang saat ini mencapai Rp 11.500 per kilogram menyulitkan industri pembuatan tempe dan tahu. Untuk menyiasati perubahan harga kedelai ini produsen mengurangi timbangan dari kemasan tempe yang dijual serta menimbang menaikkan harga tempe. Menurut pemilik harga ideal kedelai di kisaran Rp 9 ribu hingga Rp 10 ribu per kilogram. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Saifulloh mengatakan, pemerintah akan terus memonitor kenaikan harga kedelai di pasar global yang berdampak pada kenaikan harga bahan baku tahu dan tempe. Menurutnya, kenaikan harga saat ini murni diakibatkan oleh peningkatan permintaan kedelai secara signfikan dari Cina untuk memenuhi pakan ternaknya. Di sisi lain, terjadi gangguan produksi kedelai di Argentina, Paraguay, dan Brasil yang menjadi sentra produsen kedelai dunia.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan menekankan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan tetap responsif dan fleksibel dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pergerakan harga komoditas masih akan menjadi isu pada tahun ini. Menurutnya, kebijakan APBN akan tetap berupaya melindungi pemulihan ekonomi dan masyarakat sekaligus menjaga kesehatan fiskal.

“Respons itu apakah berupa kenaikan dari sisi belanja yang dalam bentuk subsidi atau policy lainnya. APBN akan tetap responsif dan fleksibel karena memang langkah pemulihan itu tidak pernah linier dan selalu mulus,” ungkap Sri.  ';

×