Cover Islam Digest edisi Ahad 13 Februari 2022. Telusur Sejarah Nizhamiyah. | Islam Digest/Republika

Tema Utama

20 Feb 2022, 03:15 WIB

Telusur Sejarah Madrasah Nizhamiyah

Berdirinya jaringan kampus Nizhamiyah tak terlepas dari kemunculan Bani Seljuk.

OLEH HASANUL RIZQA

Peradaban Islam mengalami masa keemasan pada abad kelima Hijriyah. Salah satu pendorongya ialah sistem pendidikan. Madrasah Nizhamiyah menjadi sebuah pencapaian besar.

Abbasiyah Era Seljuk

Selama 500 tahun, Dinasti Abbasiyah menjadi tumpuan peradaban Islam. Dalam masa yang sangat panjang itu, kekhalifahan tersebut mengalami berbagai pasang surut.

Bermula dari revolusi yang berlangsung di Irak pada pertengahan abad kedelapan Masehi, wangsa tersebut lahir sebagai kekuatan tandingan Dinasti Umayyah. Pada 751 M, Damaskus berhasil dikuasai.

Kekacauan tidak langsung otomatis dengan runtuhnya Umayyah. Beberapa fraksi yang menggerakkan Revolusi Abbasiyah pada akhirnya saling berseteru. Barulah sejak al-Mansur naik takhta, konflik politik mereda.

Abbasiyah mulai memasuki stabilitas dan bahkan zaman keemasan sejak dipimpin Harun al-Rasyid (786-809 M). Berpusat di Baghdad, sinar kemajuan negeri itu tetap bertahan hingga masa pemerintahan al-Mutawakkil. Setelah khalifah ke-10 Abbasiyah itu wafat, kerajaan tersebut kembali jatuh ke dalam beragam konflik politik.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Antara tahun 945 dan 1055 M, kendali atas Kekhalifahan berada di tangan Bani Buwaihi. Kabilah yang berhaluan Syiah itu tidak secara langsung mengendalikan Abbasiyah. Jabatan khalifah tetap ada dan bukanlah mereka yang mengisinya.

Akan tetapi, para khalifah dalam rentang masa tersebut hanyalah simbol belaka. Mereka adalah “boneka” dari Buwaihi sebagai faksi politik yang dominan saat itu. Baghdad tetap dianggap sebagai ibu kota. Namun, pusat kekuasaan yang sesungguhnya berada di Shiraz, Iran.

Sejak abad ke-11, konflik politik antara Syiah dan pendukung Ahlus Sunnah wal Jama’ah (aswaja) atau Sunni semakin kentara. Pihak pertama ingin mempertahankan kekuasaan, sedangkan pihak lainnya berupaya merebut kendali. Lawan Buwaihi yang paling besar saat itu ialah para petinggi militer dari suku bangsa Turki.

Turki yang dimaksud bukanlah negara yang sekarang beribu kota di Ankara, melainkan sekelompok bangsa yang bernenek moyang suku-suku Turkic atau Turks. Leluhurnya adalah para penghuni stepa Asia Tengah.

Sekitar 100 tahun sebelum Buwaihi berkuasa, kalangan elite Arab di Baghdad senang merekrut pengawal pribadi. Kebanyakan tenaga yang direkrut itu adalah para budak atau tawanan yang berkebangsaan Turki. Mereka didatangkan dari Asia Tengah. Begitu sampai di ibu kota Abbasiyah, mereka dibebaskan dari status budak, untuk selanjutnya dilatih secara kemiliteran.

Lama-kelamaan, para prajurit Turki itu mengalami mobilitas vertikal. Beberapa dari mereka menempati posisi penting di Abbasiyah, semisal jenderal atau penasihat khalifah. Ada pula kaum wanitanya yang menjadi istri-istri khalifah. Alhasil, putra-putranya merasa tak ubahnya pangeran istana.

Kaum Turki pernah sangat menguasai perpolitikan Abbasiyah pada periode yang disebut sejarawan sebagai “Anarki di Samarra". Untuk memfasilitasi orang-orang Turki, Abbasiyah bahkan memindahkan ibu kota dari Baghdad ke Samarra. Para khalifah sejak al-Muntashir (861-862) hingga al-Muhtadi (869-870) hanyalah “boneka” dari faksi-faksi Turki yang saling berebut pengaruh.

photo
ILUSTRASI Manuskrip dari abad pertengahan yang menunjukkan sosok Alp Arslan. Sultan Bani Seljuk itu berhasil memulihkan kekuasaan Suni di Abbasiyah. - (DOK WIKIPEDIA)

Seljuk berkuasa

Pesisir timur Laut Kaspia menjadi tempat suku bangssa Turki Oghuz berasal. Salah satu klan terkemuka dari sana ialah Qiniq. Sejak pertengahan abad ke-10, pemuka Qiniq berhasil mempersatukan orang-orang Turki Oghuz secara politik. Pada 1037 M, seorang lelaki yang visioner memimpin mereka. Dialah Abu Thalib Muhammad Tughril.

Seiring dengan popularitasnya di tengah komunitas Turki, tokoh kelahiran tahun 990 M itu pun kian dikenal oleh kaum elite Abbasiyah, termasuk mereka yang berhaluan Sunni. Mereka dipersatukan visi yang sama, yakni ingin menjungkalkan pengaruh Bani Buwaihi dari Baghdad. Oleh rekan dan pengikutnya, Tughril dijuluki sebagai pemimpin (bey).

Bersama dengan saudaranya, Abu Sulaiman Dawud Chagri, Tughril sukses memimpin pasukan untuk merebut kembali Baghdad dari tangan Buwaihi pada 1055 M. Sejak saat itu, orang-orang Syiah tidak lagi menguasai jantung pemerintahan Abbasiyah. Kekhalifahan pun kembali ke tangan Sunni.

Kemenangannya mengawali berdirinya Bani Seljuk. Nama itu diambil dari kakek buyut Tughril, Saljuk. Secara de jure, Dinasti Seljuk adalah negara vasal terhadap Kekhalifahan Abbasiyah.

Akan tetapi, posisi politik para khalifah di Baghdad secara de facto masih saja tidak berdaya, sebagaimana pada masa Buwaihi sebelumnya. Kalaupun dianggap berpengaruh, raja Abbasiyah hanya dipatuhi masyarakat sekitaran Baghdad.

Dengan demikian, Bani Seljuk lebih berkuasa ketimbang khalifah. Tughril memerintah dari kota Nishapur (1037-1043), Ray (1043-1051), dan kemudian Isfahan. Ia tutup usia pada tahun 1062. Penguasa Seljuk berikutnya merupakan keponakannya sendiri, yakni Muhammad.

photo
Alp Arselan - (DOK Wikipedia)

Putra dari Dawud Chagri itu menjadi penguasa sejak 4 September 1063 M. Gelarnya adalah Alib Arselan atau Alp Arselan. Artinya, ‘Sang Singa Pemberani'. Seperti pamannya, lelaki itu memimpin dengan penuh ketegasan.

Di medan pertempuran, Arselan juga tampil sebagai komandan yang tangguh. Bersama dengan pasukannya, ia sering melakukan ekspedisi militer untuk memperluas wilayah Seljuk. Satu per satu daerah yang sebelumnya dicaplok kerajaan-kerajaan Kristen, seperti Armenia dan Romawi Timur (Bizantium), kembali ke pangkuan Islam.

Selain itu, Seljuk di bawah kepemimpinannya juga menghadapi tantangan dari sisa-sisa kekuatan Syiah, khususnya yang terkonsentrasi di Mesir, yakni Dinasti Fathimiyah.

Masa kekuasaan Alp Arselan menandakan babak baru dalam sejarah Abbasiyah. Khususnya bagi Dinasti Seljuk, kepemimpinannya merupakan awal dari masa yang gemilang.

Menurut Dr Ali Muhammad ash-Shalabi dalam Ad-Daulah al-‘Utsmaniyyah (2003), pemerintahan sang penerus Tughril mulai kukuh sejak kemenangan Seljuk dalam Perang Manzikert, 25 Agustus 1071.

Dalam pertempuran di Lembah Manzikert, Anatolia, itu, “Sang Singa Pemberani” sukses memimpin pasukannya melawan Bizantium. Sejak saat itu, gangguan dari luar Kekhalifahan kian mereda. Bani Seljuk pun dapat membangun reputasinya dan mengembalikan dominasi Sunni di daulah Abbasiyah pada umumnya.

photo
Peta yang menggambarkan wilayah kekuasaan Bani Seljuk pada awal abad ke-11. Dinasti tersebut berhasil membebaskan Kekhalifahan Abbasiyah dari pengaruh Syiah. - (DOK WIKIPEDIA)

Wazir visioner

Visi untuk meneguhkan kembali Sunni di seluruh wilayah Kekhalifahan saat itu adalah sebuah tantangan. Sebab, Dinasti Buwaihi sebelumnya berkuasa lebih dari 100 tahun. Selama itu pula, paham Syiah dan Mu’tazilah menyebar luas di seluruh Abbasiyah.

Untuk melaksanakan misi peneguhan Sunni, Alp Arselan didukung perdana menterinya yang setia, Nizham al-Mulk. Ash-Shalabi menjelaskan, tokoh yang visioner itu lahir di Desa Radkan, sekitaran Tus, Iran, pada 10 April 1018. Nama aslinya adalah Abu Ali Hasan bin Ali at-Tusi. Wazir Bani Seljuk selama dua periode itu lebih dikenal sesuai julukannya, Nizham al-Mulk, yang secara harfiah berarti ‘pemangku alam’.

Nizham merupakan putra seorang birokrat di Dinasti Ghaznawiyah. Dalam Perang Dandanaqan tahun 1040 M, Bani Seljuk berhasil merebut Khurasan dari Ghaznawiyah. Mengikuti ayahnya, Nizham kemudian pergi ke Ghaznin—kini sebuah kota di Afghanistan timur. Namun, dia hanya bertahan selama tiga tahun di sana. Ia lantas pindah ke Balkhi dan Marwa, kota-kota yang termasuk wilayah kekuasaan Seljuk.

Kariernya sebagai pegawai melesat dengan relatif cepat. Dari daerah, dirinya dimutasi ke pusat pemerintahan Seljuk di Isfahan. Arselan kemudian mengangkatnya sebagai perdana menteri kerajaan pada 1064, yakni sesudah kematian al-Kunduri—sosok wazir yang menjabat sejak zaman Tugril.

Sejak menjadi perdana menteri, Nizham semakin menonjolkan watak kenegarawanannya. Ia selalu menyampaikan usulan-usulan yang bijaksana kepada atasannya. Sebagai contoh, ia menyarankan Arselan untuk mengampuni kaum pemberontak yang sudah menyerah.

Raja Seljuk itu juga dimintanya untuk menunjuk putranya sendiri, Malik Shah, sebagai penerus takhta kelak. Hal itu dilakukan untuk menghindari potensi konflik perebutan kekuasaan di kemudian hari.

Dengan adanya stabilitas politik, situasi dalam negeri pun cenderung kondusif. Alhasil, pemerintah dapat lebih berfokus pada tujuan-tujuan jangka panjang, semisal mengembalikan dominasi paham Sunni di seluruh wilayah Kekhalifahan.

 
Nizham percaya, pendidikan menjadi alat yang ampuh untuk mewujudkan ambisi tersebut
 
 

Nizham percaya, pendidikan menjadi alat yang ampuh untuk mewujudkan ambisi tersebut. Penulis kitab Siyasatnama (Buku Pemerintahan) itu kemudian mendirikan jaringan universitas di berbagai kota besar Abbasiyah, termasuk Baghdad, Nishapur, Isfahan, Mosul, dan Basrah. Semua kampus itu dinamakan sebagai Madrasah Nizhamiyah, sesuai dengan julukan sang inisiator.

Sebagai pribadi, Nizham merupakan seorang yang terpelajar. Sejak masih muda, dirinya gemar melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk mengambil ilmu dari ulama-ulama setempat. Beberapa disiplin yang ditekuninya ialah ilmu hadis dan fikih. Ia ikut berpartisipasi dalam menyebarkan sejumlah hadis walaupun selalu menolak untuk dikatakan sebagai ahli hadis.

Naiknya Nizham dan Arselan masing-masing sebagai wazir dan raja Seljuk merupakan kabar gembira bagi ulama-ulama Sunni, terutama yang beraliran teologi Asy’ariyah dan bermazhab fikih Syafii. Sebab, sebelumnya pemerintah Seljuk justru memusuhi para pengikut Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Syafii—bukan hanya kaum Syiah dan Mu’tazillah. Tughril dan wazirnya, al-Kunduri, memandang semua aliran itu hanya menimbulkan perselisihan di tengah umat.

Sesudah Madrasah Nizhamiyah berdiri di Nishapur, Baghdad, dan lain-lain, Nizham al-Mulk meminta para ulama Asy’ariyah dan Mazhab Syafii untuk kembali pulang. Mereka diminta kesediaannya untuk memimpin atau menjadi pengajar di kampus-kampus yang didirikannya itu.

Di antara tokoh-tokoh besar yang menyanggupi permintaan tersebut ialah Imam al-Haramain al-Juwaini. Sang imam, sekembalinya dari Tanah Suci, lantas menjadi rektor Madrasah Nizhamiyah Nishapur. Kelak, ahli usul fikih itu memiliki banyak murid, termasuk Imam al-Ghazali—yang akhirnya juga menjadi rektor Madrasah Nishapur di Baghdad.


Misi dan Inovasi Nizhamiyah

Pendidikan Nizhamiyah berfokus pada dua materi inti, yakni fikih yang berdasarkan mazhab Syafii dan akidah.

SELENGKAPNYA
×