Penampakan Hotel Mutiara 2 yang dijadikan tempat isolasi terpusat pasien Covid-19 di Malioboro, Yogyakarta, Selasa (15/2/2022). | Wihdan Hidayat / Republika

Nasional

Orang Tua Sulit Bedakan Flu Biasa dengan Covid-19

Varian omikron diprediksi dua kali lebih mematikan dari flu.

JAKARTA -- Ketua Satgas UKK Respiratori Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Nastiti Kuswandani SpA(K) mengatakan, banyak orang tua yang sulit membedakan flu biasa dan Covid-19 pada anak. Terutama untuk anak usia di bawah satu tahun.

"Kalau ada gejala infeksi saluran pernapasan akut, itu harus PCR kalau mau tahu Covid-19 atau bukan, terutama terhadap anak bayi," ujarnya, Rabu (16/2).

Gejala lain yang bisa diamati adalah demam, batuk, dan sebagian anak memgalami gejala diare. Bila gejala tersebut dialami anak yang belum dites PCR, tapi sedang melakukan isolasi mandiri bersama keluarga, maka kemungkinan besar anak terpapar Covid-19.

"Kapan tanda bahaya itu banyak ya, tahunya sesak napas atau tidak, paling baik pakai saturasi, tapi jari masih kecil sehingga sulit. Kita bisa menghitung napas dalam satu menit pakai stopwatch, berapa kali menarik dan mengeluarkan napas. Kalau melebihi batasan normal berarti sesak napas. Untuk anak satu tahun itu 50 kali per menit. Kalau lebih dari 50 kali itu artinya sesak napas dan segera bawa ke rumah sakit," jelasnya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, memang ada peningkatan kasus Covid-19 pada anak. Sebagian besar anak terpapar dari keluarga.

"Secara absolut memang terjadi peningkatan karena kasus jumlahnya meningkat. Kita melihat juga anak banyak terpapar dikarenakan penularan terjadi di keluarga. Banyak kasus positif dari orangtua kemudian karena tidak bergejala, seringkali gejalanya sangat ringan seperti flu biasa sehingga tidak dirasakan sebagai gejala Covid," kata Nadia.

Salah satu penyebab penularan, kata Nadia, lantaran kurangnya disiplin protokol kesehatan. Ia pun mengimbau untuk tetap menjalani prokes saat menjalani isoman di rumah

Nadia menambahkan, meskipun terjadi peningkatan kasus, perawatan di rumah sakit terhadap anak tidak meningkat tajam. "Kalau kita lihat jumlah anak dirawat di rumah sakit itu angkanya sangat kecil, kurang dari dua persen dari kasus anak yang sebesar 14 persen," ungkap Nadia. 

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya menyampaikan, berdasarkan studi di luar negeri mengkonfirmasi menurunnya tingkat kematian karena Covid-19. Pada pertengahan 2020 lalu, kata dia, Covid-19 dideteksi 13 kali lebih mematikan dari flu biasa.

photo
Wisatawan melintas di depan Hotel Mutiara 2 yang dijadikan tempat isolasi terpusat pasien Covid-19, Malioboro, Yogyakarta, Selasa (15/2/2022). - (Wihdan Hidayat / Republika)

Namun pada awal 2022, Covid-19 varian omikron diprediksi dua kali lebih mematikan dari flu. “Jadi omikron ini hanya dua kali lebih parah dari penyakit flu,” kata Luhut saat konferensi pers, dikutip pada Selasa (15/2).

Sejak 1 Januari 2022 hingga saat ini, Luhut mengatakan kasus puncak omikron belum melebihi puncak kasus Ddelta pada tahun lalu. Padahal di negara lain, puncak omikron biasanya 3-4 kali lebih tinggi dari puncak delta. Selain itu, tingkat rawat inap rumah sakit dan tingkat kematian juga tercatat masih jauh lebih rendah daripada periode delta.

Karena itu, Luhut pun menyampaikan, upaya yang diambil pemerintah untuk menghadapi varian omikron tidak sama dengan delta. “Tapi ini juga tidak mengurangi tingkat kehati-hatian kita,” tambah dia.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat