Siswa SD MI Sananul Ula Daraman mengikuti vaksin Covid-19 ke-2 anak di Kalurahan Srimartani, Bantul, Yogyakarta, Ahad (13/2/2022). Sebanyak 1.500 dosis vaksin Covid-19 Sinovac disiapkan untuk vaksin ke-2 anak dan dewasa oleh Yayasan Indonesia Untuk Semua | Wihdan Hidayat / Republika

Nasional

Mungkinkah Anak-Anak Mengalami Long Covid?

Kasus Covid-19 pada anak-anak per awal Februari 2022 meningkat lebih dari 1.000 persen.

Usia muda dan gejala yang ringan tak bisa menjamin bahwa penyintas Covid-19 akan terbebas dari long covid atau sindrom pasca-Covid. Meski lebih umum terjadi pada orang dewasa, sindrom usai terinfeksi Covid-19 juga bisa dialami oleh anak.

"Kelompok anak dan remaja tetap berisiko mengalaminya," ungkap dokter spesialis paru dan pernapasan RS Pondok Indah-Puri Indah dr Desilia Atikawati SpP FAPSR, melalui surat elektronik yang diterima Republika, Ahad (13/2).

Long Covid bisa dialami oleh anak atau remaja yang mengalami gejala ringan maupun berat. Beberapa gejala long Covid yang dialami oleh anak atau remaja, antara lain, adalah kelelahan berat atau fatigue, pusing, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, nyeri otot, nyeri sendi, dan batuk.

Gejala tersebut memiliki jangka waktu yang berbeda antarpenyintas Covid-19. Namun sebuah penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal Lancet memberikan pemahaman lebih lanjut terkait hal ini.

Penelitian yang dipimpin oleh peneliti dari University College London ini melibatkan 3.765 partisipan dari 56 negara. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 91 persen partisipan membutuhkan waktu lebih dari 35 pekan untuk pulih sepenuhnya.

photo
Pemeriksaan kesehatan siswa Siswa SD MI Sananul Ula Daraman sebelum mengikuti vaksin Covid-19 ke-2 anak di Kalurahan Srimartani, Bantul, Yogyakarta, Ahad (13/2/2022). - (Wihdan Hidayat / Republika)

Gejala yang paling banyak ditemukan setelah bulan keenam adalah kelelahan, perburukan gejala setelah aktivitas atau post-exertion malaise, dan gangguan kognitif. Sebanyak 85,9 persen partisipan mengalami kekambuhan gejala, terutama dicetuskan oleh olahraga, aktivitas fisik atau mental, serta stres. "Sebanyak 1.700 partisipan membutuhkan pengurangan waktu kerja. Gangguan kognitif atau ingatan ditemukan di seluruh grup usia," jelas dr Desilia.

Di sisi lain, dr Desilia mengatakan, sebagian penderita Covid-19 yang bergejala berat mengalami dampak multiorgan. Dampak multiorgan dapat melibatkan banyak sistem tubuh seperti jantung, paru, ginjal, kulit, dan fungsi otak.

Menurut dr Desilia, cara terbaik untuk mencegah sindrom pasca-Covid adalah dengan mencegah terjadinya infeksi SARS-CoV-2. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya melalui vaksinasi lengkap.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Piprim Basarah Yanuarso mengingatkan orangtua untuk mewaspadai anak ketika menunjukkan gejala batuk, pilek, serta nyeri tenggorokan. Gejala khas omikron lebih banyak menyerang saluran pernapasan atas daripada paru-paru.

photo
Tenaga kesehatan mengambil vaksin Covid-19 Sinovac untuk vaksinasi ke- 2 siswa SD MI Sananul Ula Daraman di Kalurahan Srimartani, Bantul, Yogyakarta, Ahad (13/2/2022). - (Wihdan Hidayat / Republika)

"Sebagian besar dari saluran pernapasan, batuk, pilek, nyeri tenggorokan. Sama seperti flu biasa. Kalau ketemu anak batuk pilek, badan hangat waspada tertular varian omikron," kata Piprim, Rabu (8/2).

Piprim mengungkapkan, banyak anak yang juga tidak menunjukkan gejala saat terpapar Covid-19, khususnya varian omikron yang memang lebih sering tak bergejala. Orangtua diharapkan menjaga anak-anak agar tidak tertular Covid-19.

"Pada anak banyak juga yang OTG karena itu penting vaksin kepada anak-anak. Tidak ada gejala apa-apa, tapi nanti dia menularkan ke mana-mana, ke opung, eyangnya," terang Piprim.

IDAI sebelumnya mencatat, kasus Covid-19 pada anak-anak per awal Februari 2022 meningkat lebih dari 10 kali lipat dibandingkan sebulan lalu Januari 2022. Piprim mengungkap data per 24 Januari 2022 terjadi peningkatan konfirmasi kasus positif Covid-19 yang dialami anak sebanyak 676 kasus. 

"Kemudian per 31 Januari 2022 meningkat menjadi 2.775 kasus dan per 7 Februari 2022 kemarin sebanyak 7.990 kasus. Artinya kasus Covid-19 pada anak saat ini (bertambah) lebih dari 1.000 persen atau 10 kali lipat lebih ketika dibandingkan Januari 2022," ujar Piprim saat mengisi konferensi virtual, Rabu (9/2).

IDAI juga mencatat kasus Covid-19 pada anak saat ini dibandingkan pekan lalu naik 300 persen. Piprim mengingatkan, peningkatan kasus Covid-19 pada anak kini luar biasa.

Terkait gejala yang dialami anak ketika terinfeksi Covid-19 varian omicron, Piprim mengakui sebagian besar bersifat ringan. Kendati demikian, ia mengingatkan ini tak boleh membuat orang tua lengah. Sebab, ada pasien mengalami kemampuan jantung yang menurun pasca terinfeksi Covid-19.

"Memang kejadiannya tidak banyak, tetapi tetap saja kita harus waspada dan mencegah supaya anak tidak tertular omikron," ujarnya.

Mengenai pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah yang tetap dilakukan meski kasus Covid-19 meningkat, Piprim menegaskan IDAI sejak awal pandemi tidak merekomendasikan PTM. Apalagi ketika angka positif (positivity rate) naik di atas 8 persen. "Ketika kasus Covid-19 meningkat, positivity rate-nya juga bertambah karena omikron ini sangat menular," ujarnya.

Piprim mencontohkan, jika saat PTM ada satu murid yang terinfeksi virus ini kemudian menularkannya saat di kelas. Akibatnya, virus tersebut ada di mana-mana. "Jadi, IDAI tetap meminta supaya PTM diberhentikan," katanya.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat