ILUSTRASI Saat mendengar surah an-Najm, orang-orang musyrik spontan bersujud lantaran terpesona akan keindahan Alquran. | DOK WIKIPEDIA

Kisah

Dan Orang Musyrik pun Sujud

Itu termasuk ayat sajadah. Nabi SAW pun bersujud yang diikuti orang-orang musyrik Makkah.

 

OLEH HASANUL RIZQA

Dalam fase dakwah di Makkah, Nabi Muhammad SAW menghadapi banyak permusuhan dari kaum musyrikin. Mereka berupaya menghalang-halangi syiar Islam. Terhadap Muslimin yang lemah dan miskin, orang-orang kafir itu bahkan melakukan kekerasan fisik dan verbal.

Rasulullah SAW kemudian mengizinkan umatnya untuk pindah. Keputusan itu disampaikan beliau sesudah turunnya wahyu, yakni surah az-Zumar ayat 10. Artinya, “Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Hijrah pertama ke luar Makkah itu diikuti sejumlah sahabat beliau, baik dari kalangan pria maupun wanita. Para muhajirin berangkat ke arah barat Hijaz, menyeberangi laut, hingga sampailah di Habasyah (Etiopia).

 
Para muhajirin berangkat ke arah barat Hijaz, menyeberangi laut, hingga sampailah di Habasyah.
 
 

Etiopia kala itu merupakan sebuah negeri yang makmur di kawasan Tanduk Afrika. Kristen menjadi agama resminya. Rajanya, Najasyi, adalah seorang Nasrani yang taat dan berpengetahuan luas.

Berdasarkan kitab Injil yang dibacanya, raja tersebut mengetahui bahwa kelak sesudah masa Nabi Isa AS akan datang seorang utusan Allah. Karena itu, Najasyi menaruh empati terhadap orang-orang Islam yang mengungsi dari Makkah itu. Perasaan solidaritas itu kian menguat sejak mereka mengabarkan kepadanya tentang sosok Rasulullah Muhammad SAW.

Peristiwa hijrah ke Etiopia itu terjadi pada bulan Rajab, tahun kelima sejak kenabian. Muhajirin terdiri atas 12 orang Muslim dan empat Muslimah. Pemimpinnya ialah Utsman bin Affan. Turut serta dalam rombongan ini, antara lain, ialah putri Nabi SAW, Ruqayyah.

Sebelum diterima Raja Najasyi, mereka telah melalui berbagai rintangan. Untuk dapat keluar dari Hijaz saja, para sahabat Nabi SAW itu terpaksa mengendap-endap. Perjalanan lintas benua itu dimulai pada malam hari, ketika mayoritas penduduk Makkah masih lelap dalam tidur.

Spontan bersujud

Masih di tahun yang sama, bulan Ramadhan pun tiba. Suatu hari, Nabi SAW keluar dari Masjidil Haram. Tanpa sengaja, beliau berpapasan dengan beberapa tokoh musyrikin di jalan.

Rasulullah SAW menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada mereka. Beliau juga membacakan surah an-Najm. Betapa terpesonanya para pembesar Quraisy itu mendengar bacaan Kalamullah. Memang, kaum elite Arab kala itu biasanya sangat peka pada keindahan bahasa.

Beliau lalu sampai pada ayat ke-62 dari surah tersebut. Artinya, “Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).” Itu termasuk ayat sajadah. Nabi SAW pun bersujud. Ternyata, gerakan itu diikuti orang-orang musyrik yang tadi menyimak pembacaan surah.

 
Datanglah segerombolan orang dari kalangan kafir Quraisy. Mereka mendapati kawan-kawannya itu sedang sujud, seperti halnya Nabi SAW.
 
 

Tiba-tiba, datanglah segerombolan orang dari kalangan kafir Quraisy. Mereka mendapati kawan-kawannya itu sedang sujud, seperti halnya Nabi SAW. Dengan segera, kelompok yang baru saja tiba menarik mereka agar menjauh dari Rasulullah SAW.

Seseorang dari tokoh musyrik itu membentak temannya yang telah sujud mengikuti al-Musthafa. Katanya, seharusnya kalian tidak mendengarkan Alquran. “Kalau Muhammad sedang membacakan sesuatu, mestinya buat keributan agar orang-orang tidak bisa mengikuti (pembacaan Alquran),” begitu katanya.

Tak lama kemudian, turunlah wahyu, yakni surah Fussilat ayat 26. Artinya, “Dan orang-orang yang kafir berkata, ‘Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Alquran ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya agar kamu dapat mengalahkan (mereka).’”

Disinformasi

Kabar tentang sujudnya orang-orang musyrik itu sampai ke telinga para muhajirin di Etiopia. Kaum Muslimin itu sangat terkejut. Sayangnya, ada disinformasi yang terjadi.

Mereka mengira, kaum musyrikin telah bertobat dan sadar sehingga menjadi pengikut Nabi SAW. Dianggapnya, sujudnya para pembesar Quraisy itu adalah bukti keislaman. Padahal, yang sebenarnya adalah, tokoh-tokoh kafir itu hanya secara spontan mengagumi indahnya Kalamullah yang dibacakan. Sesudah sujud, tetap saja memusuhi Rasul SAW.

Karena salah kaprah ini, belasan Muslimin itu memutuskan untuk kembali dari negerinya Najasyi ke Makkah. Perjalanan pulang dilakukan pada bulan Syawwal. Di perbatasan Hijaz, mereka akhirnya mengetahui informasi yang sesungguhnya.

Sebagian mereka kemudian balik lagi ke Etiopia. Ada pula yang tetap memasuki Makkah walaupun dengan cara sembunyi-sembunyi agar terhindar dari gangguan musyrikin.

Hijrah pertama ke Habasyah merupakan rintisan yang cukup sukses. Terbukti, berikutnya semakin banyak orang Islam yang pindah dari Makkah ke negeri sana. Hijrah kedua diikuti sebanyak 83 Muslim dan 18 Muslimah. Semuanya atas izin Rasulullah SAW.