Pasien Covid-19 menaiki bus untuk di evakuasi di Puskesmas Kecamatan Setiabudi, Jakarta, Rabu (9/2/2022). Sebanyak 13 warga yang terinfeksi Covid-19 dievakuasi menuju Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran untuk menjalani perawatan. | Republika/Thoudy Badai

Kabar Utama

11 Feb 2022, 03:55 WIB

Relawan Bantu Nakes Covid-19 Mulai Direkrut

Bila angka positif pada nakes terus bertambah, maka akan memengaruhi pelayanan.

JAKARTA – Pemerintah mulai melakukan proses rekrutmen relawan untuk membantu tenaga kesehatan (nakes) menangani pasien Covid-19. Rekrutmen relawan dilakukan seiring meningkatnya jumlah kasus aktif, sekaligus persiapan menghadapi gelombang ketiga yang diperkirakan terjadi pada akhir Februari hingga awal Maret mendatang.

“Sekarang kami melalui Dirjen Nakes merekrut relawan-relawan. Selama ini ada relawan ikut membantu penanganan Covid-19, sekarang ini direview ulang dilakukan registrasi ulang, kemudian dipersiapkan bila mana saat-saat tertentu kita membutuhkan tambahan nakes, sudah siap,” kata Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Abdul Kadir, dalam konferensi pers daring, Kamis (10/2).

Rekrutmen relawan menjadi pilihan Kemenkes di tengah banyaknya nakes yang dilaporkan terkonfirmasi positif Covid-19. Jika tren nakes terpapar Covid-19 terus berlangsung, dikhawatirkan terjadi kekurangan nakes saat puncak gelombang ketiga akhir bulan ini.

Menurut Kadir, hingga kini pihaknya masih mendata jumlah nakes yang terpapar Covid-19. Hal ini lantaran ada beberapa nakes yang terpapar Covid-19 dan tidak menunjukkan gejala. Data per 6 Februari menunjukkan, dari empat rumah sakit di Jakarta, lebih dari 30 persen nakes positif Covid-19.

Kabar baiknya, hingga kini belum ada nakes yang dilaporkan meninggal. Ia pun berharap agar tidak ada nakes yang berguguran pada gelombang ketiga kali ini. Kadir meyakini, untuk saat ini para nakes sudah siap berperang melawan gelombang ketiga pandemi Covid-19 lantaran sudah mendapatkan vaksin ketiga atau booster.

Selain nakes, stok oksigen dan obat juga dipastikan aman. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, pemerintah telah mengantisipasi lonjakan kebutuhan perawatan pasien Covid-19, termasuk di antaranya ketersediaan obat-obatan hingga ketersediaan oksigen.

“Sampai saat ini ketersediaan oksigen dalam konsentrator dan generator masih mencukupi untuk melayani 12-48 jam,” kata Wiku.

Tiga daerah yang diketahui sebagai penyumbang terbanyak kasus Covid-19, yakni DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, stok oksigen dipastikan aman. Kecukupan yang sama juga sudah dipastikan di daerah lain, terutama di daerah dengan kasus tergolong tinggi. Pemerintah, kata Wiku, akan koordinasi dengan pemda untuk pendataan real time dalam memenuhi kebutuhan kesehatan secara efektif.

Ketua Umum Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Bambang Wibowo mengatakan, hingga kini stok obat-obatan dan oksigen masih mencukupi untuk merawat pasien Covid-19. Hanya saja, untuk nakes, menurut Bambang sudah mulai banyak yang terpapar Covid-19 meski masih dalam kategori aman.

photo
Warga menggunakan alat pelindung diri menyemprotkan cairan disinfektan di area Rumah Singgah Sehat di Jalan Kuningan, Antapani, Kota Bandung, Rabu (9/2/2022). Pemerintah Kota Bandung menyiapkan tempat isolasi mandiri (isoman) bagi pasien Covid-19 atau keluarga pasien Covid-19 di 30 kecamatan guna mengantisipasi kasus Covid-19 yang terus mengalami kenaikan. - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Bambang menyatakan, rumah sakit siap menghadapi lonjakan kasus Covid-19. Penambahan kapasitas rumah sakit akan dilakukan jika sewaktu-waktu diperlukan. “Belajar dari pengalaman yang lalu, sudah lebih siap dari sisi ketersediaan ruang isolasi, SDM, farmasi, dan logistik. Selama tidak melampaui kapasitas, insya Allah rumah sakit siap,” ujar Bambang.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Iing Ichsan Hanafi mengatakan, saat ini sudah ada beberapa karyawan di rumah sakit yang terpapar Covid-19 dengan gejala yang ringan. Namun, ia mewanti-wanti agar tetap selalu waspada. Sebab, bila angka positif pada nakes terus bertambah, maka akan mempengaruhi pelayanan terhadap pasien.

“Untuk nakes berdasarkan laporan yang kami dapat di Jabodetabek, 10 persen dari karyawan rumah sakit swasta (positif Covid-19). Ini yang harus hati-hati,” ujar dia.

Penyedia tabung oksigen menyebut saat ini stok melimpah sehingga tidak perlu ada kekhawatiran. Hery Setiawan, pemilik Bio Medical Gas Nomor 71 yang berada Jalan Panjang, Kedoya, Jakarta Barat, menyebut, melimpahnya stok karena permintaan saat ini tergolong sangat sedikit. “Permintaan untuk homecare kami mengisi untuk 50 tabung per harinya. Saat ini tabung ukuran besar untuk homecare masih ada sekitar 350 tabung,” ujar dia.

Adapun harga tabung oksigen kecil saat ini adalah Rp 450 ribu, sementara untuk harga isi ulang oksigen dipatok Rp 20 ribu. Menurut Hery, harga saat ini pun masih dalam kategori normal.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PL) Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, saat ini stok obat-obatan di 34 provinsi aman. Nadia memastikan, pihaknya terus memperkuat fasilitas layanan kesehatan agar lebih optimal menghadapi kenaikan kasus yang diperkirakan akan terus terjadi dalam dua hingga tiga pekan ke depan. 

Tagihan Covid-19 Masih Rp 23 Triliun

Pemerintah mencatat tagihan perawatan pasien Covid-19 pada 2021 masih ada Rp 23 triliun yang belum dibayar. Jumlah tagihan yang cukup besar ini disebabkan oleh lonjakan kasus Covid-19 gelombang kedua akibat varian delta pada periode Juli hingga Agustus tahun lalu.

Menteri Keuangan (menkeu) Sri Mulyani mengatakan, lonjakan kasus Covid-19 varian delta menjadi faktor belanja kesehatan turut meningkat. “Masih ada tagihan Rp 23 triliun pada 2022, yang harus kami bayar dari perawatan 2021,” kata dia saat webinar ‘BRI Microfinance Outlook 2022’, Kamis (10/2).

photo
Petugas pemikul jenazah tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) menggotong peti jenazah pasien Covid-19 di TPU Cikadut, Jalan Cikadut, Kota Bandung, Kamis (10/2/2022). Berdasarkan keterangan petugas pemikul jenazah, ketidaktersediaan alat pelindung diri (APD) tersebut lantaran belum turunnya stok bantuan dari pihak atau instansi terkait. Hingga (10/2/2022). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Sri Mulyani menyebut, belanja kesehatan telah mendominasi belanja negara untuk membiayai pasien Covid-19 sebesar Rp 94 triliun. Angka ini dinilai sangat besar dan menunjukkan mahalnya biaya perawatan pasien Covid-19. “Kita bisa melihat Covid-19 is so expensive. Itu dari perawatan, belum termasuk vaksinasi,” ujar dia.

Menkeu memerinci, realisasi belanja negara pada 2021 sebesar Rp 2.786,8 triliun, yang sekitar Rp 200 triliun digunakan untuk penanganan Covid-19.  Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 150 triliun dialokasikan hanya untuk sektor kesehatan. Angka ini naik signifikan dibandingkan dana Covid-19 pada 2020 yang mencapai Rp 50 triliun.

Meski demikian, Sri Mulyani memastikan pemerintah akan mulai menyehatkan kembali APBN, yakni tecermin dari defisit 2021 yang sudah mengalami penurunan cukup signifikan. Sepanjang 2021, defisit sebesar Rp 783,7 triliun atau 4,65 persen dari produk domestik bruto (PDB) yang lebih rendah dari pagu Rp 1.006 triliun atau 5,7 persen dari PDB sekaligus turun dari Rp 947 triliun atau 6,14 persen PDB pada 2020.

Hal itu terjadi karena meski belanja masih tinggi, pendapatan negara sampai 31 Desember 2021 sebesar Rp 2.003,1 triliun atau 114,9 persen dari target APBN. “Ini menggambarkan APBN meski kerja extremely keras, kami mulai coba menyehatkan,” ujar Menkeu Sri. 

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengingatkan penyelenggara pelayanan kesehatan untuk menggunakan pedoman tata laksana Covid-19 terbaru. Wiku mengatakan, ini karena ada sejumlah terapi dan pengobatan Covid-19 yang selama ini digunakan, dikeluarkan dalam pedoman baru tersebut.

“Pemerintah berpesan kepada seluruh penyelenggara pelayanan, baik rumah sakit maupun tenaga kesehatan untuk mematuhi pedoman ini,” ujarnya.

Wiku menjelaskan, beberapa alternatif terapi dan pengobatan, di antaranya plasma konvalesen, ivermectin, hidroksiklorokuin, antivirus oseltamivir, antibiotik azithromycin, dinyatakan telah dihapuskan dari pedoman tata laksana Covid-19 nasional yang terbaru.

Ini berdasarkan keputusan lima organisasi profesi dokter, yaitu Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi), Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif (Perdatin), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

“Keputusan ini didukung sesuai dengan perkembangan studi dari beberapa hasil uji klinis ataupun keputusan para ahli secara global. Untuk itu, pemerintah berpesan kepada seluruh penyelenggara pelayanan, baik rumah sakit maupun tenaga kesehatan untuk mematuhi pedoman ini,” kata Wiku.

photo
Warga menggunakan alat pelindung diri menyemprotkan cairan disinfektan di area Rumah Singgah Sehat di Jalan Kuningan, Antapani, Kota Bandung, Rabu (9/2/2022). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Ketua Umum Papdi, Sally Aman Nasution mengatakan, ivermectin dan plasma konvasalen dihapus dalam pedoman terbaru. Sebab, berdasarkan bukti ilmiah terbaru, keduanya tidak terbukti bermanfaat.

Selain plasma konvalesen dan ivermectin, obat lain yang tidak dimasukkan dalam pengobatan pasien Covid-19 adalah antivirus oseltamivir, antibiotik azithromycin, dan hidroksiklorokuin. Menurut Sally, bukti ilmiah kegunaan obat-obatan tersebut belum cukup.

Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat PDPI Erlina Burhan menjelaskan, ivermectin sebetulnya tidak pernah menjadi obat standar. Namun, dalam buku Pedoman Tata Laksana Pasien Covid-19 edisi ketiga, ivermectin memang dinarasikan, tapi penggunaannya hanya dalam kerangka uji klinis.

Saat ini, menurut Erlina, ada empat obat antivirus yang digunakan. Keempat obat itu ialah remdesivir, favipiravir, molnupiravir, dan nirmatrelvir/ritonavir (paxlovid). ';

×