Toyota Sienta menggunakan teknologi CVT |

Ekonomi

04 Feb 2022, 09:33 WIB

Dongkrak Efisiensi dengan CVT

Produk Toyota yang menggunakan CVT adalah Vios, Yaris, Corolla, Corolla Cross, Camry, Voxy, Aplhard, Avanza, dan Veloz.

 

Beberapa tahun belakangan, masyarakat mulai lebih berselera dengan mobil yang menerapkan teknologi transmisi otomatis. Oleh karena itu, pabrikan pun melakukan beragam inovasi agar bisa menyajikan transmisi yang praktis tapi tetap andal.

Jenis teknologi yang kerap diterapkan, antara lain, transmisi hydraulic automatic dan continuously variable transmissions (CVT). Kedua jenis transmisi ini dipilih pabrikan sesuai dengan segmen dan karakter dari masing-masing produk yang dipasarkan.

Dalam penyegaran terbaru, Toyota baru saja melakukan peralihan jenis transmisi untuk produk Avanza dan Veloz. Tadinya, produk itu menggunakan transmisi hydraulic automatic yang ditunjang oleh planetary gearset, hydraulic controls, dan torque converter.

Kini, produk terlaris di Indonesia itu beralih menggunakan CVT. Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM), Anton Jimmi Suwandy, mengatakan, beberapa produk telah banyak yang menggunakan transmisi CVT. Setelah melalui beragam riset yang menyeluruh, Avanza dan Veloz terbaru pun mulai menerapkan teknologi CVT.

"Peralihan ini didasari atas pertimbangan dari aspek konsumen. Karena, transmisi CVT terbukti mampu memberikan kenyamanan dan peningkatan performa, baik dari sisi akselerasi, efisiensi, dan emisi," kata Anton kepada Republika pada Senin (31/1).

Saat ini, kata dia, produk Toyota yang menggunakan CVT adalah Vios, Yaris, Corolla, Corolla Cross, Camry, Voxy, Aplhard, Avanza, dan Veloz. Hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa teknologi yang baru dibenamkan di Avanza dan Veloz itu telah dibuktikan keandalanya oleh sejumlah produk lain di kelas yang beragam.

Menurutnya, riset yang telah dilakukan oleh Toyota pun membuktikan bahwa CVT memberikan peningkatan performa yang signifikan bagi Avanza dan Veloz. "Akselerasi naik sekitar 11 persen, efisiensi bahan bakar naik sekitar 15 persen," ujarnya.

Pada saat yang hampir bersamaan, Mitsubihi juga mulai memercayakan penyaluran tenaga Xpander dengan teknologi CVT. General Manager of After Sales Division PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Boediarto, mengatakan, penerapan ini juga didasari oleh peningkatan performa dan efisiensi bahan bakar.

"Transmisi ini didesain sehingga jadi transmisi yang lebih awet, nyaman, dan lebih andal. Performanya bisa ditingkatkan karena kami juga melakukan tuning pada bagian control unit," kata Boediarto.

Bahkan, Mitsubishi mengeklaim bahwa transmisi baru ini mampu menyajikan akselerasi yang maksimal dan tajam layaknya transmisi otomatis delapan percepatan.

Performa teknologi ini dikatakan telah diuji oleh brand ambassador Mitsubishi Motors Indonesia, Rifat Sungkar. Menurutnya, Xpander kini jadi kendaraan yang lebih nyaman karena perpindahan gigi bisa dilakukan tanpa ada entakan yang terasa. "Mobil ini nyaman, tapi tenaganya selalu ada. Dorongannya sangat terasa saat putaran mesin berada pada level 3 .000 hingga 3.500 rpm," kata Rifat.

Selain Toyota dan Mitsubishi, Honda juga telah memercayakan CVT sebagai sistem transmisi untuk produk dengan varian automatic transmissions. Business Innovation and Marketing & Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Yusak Billy, mengatakan, saat ini seluruh produk automatic transmissions telah menggunakan sistem CVT.

"Kami menerapkan CVT karena sistem ini mampu melakukan perpindahan gigi dengan nyaman dan tanpa entakan. Kami pun selalu melakukan pengembangan sehingga CVT generasi terbaru dari Honda mampu menyajikan performa yang baik sehingga membuat mobil jadi irit dan tetap fun to drive," kata Billy kepada Republika.

Artinya, meski Honda telah lama menggunakan CVT, pabrikan Jepang ini terus melakukan inovasi dan perbaikan. Dia mencontohkan, CVT pada All New BR-V mampu menyajikan peningkatan efisiensi sekitar 4 persen dibandingkan dengan CVT produk sebelumnya.

Di satu sisi, kebijakan Honda untuk lebih memilih CVT juga didasari oleh pertimbangan perawatan. "Harga oli CVT sedikit lebih mahal, tapi usia pakainya lebih panjang. Sedangkan, harga oli hydraulic automatic lebih murah, tapi penggantiannya lebih sering," ujarnya.

Penerapan CVT ini pun mendapat sorotan dari salah satu bengkel spesialis transmisi otomatis yang bernama Worner Matic. Pemilik Worner Matic, Hermas E Prabowo, mengatakan, sistem CVT memang cukup diminati karena lebih nyaman dan halus dibandingkan dengan sistem transmisi hydraulic automatic atau yang disebut juga dengan step automatic transmission.

"CVT lebih smooth karena sistem kerjanya berbasis belt dan pulley. Dengan begitu, sistem ini bisa melakukan perpindahan percepatan dengan rasio yang sangat rapat," kata Hermas.

Tapi, dia menilai sistem transmisi ini tidak pas digunakan di kendaraan yang membutuhkan performa tinggi. Artinya, CVT sebaiknya tidak digunakan dalam kendaraan yang kerap melibas tanjakan curam dan mengangkat beban berat.

"Kemampuan CVT dalam menyalurkan torsi sangat terbatas. Selain itu, perubahan suhu ekstrem bisa memengaruhi tekanan oli sehingga berdampak pada kinerja dan masa pakai. Oleh karena itu, agar sistem ini bisa bekerja dengan optimal, temperatur CVT harus dijaga pada rentang suhu tertentu sesuai karakter dari masing-masing kendaraan," ucapnya.

Dia pun beranggapan, penerapan CVT pada sejumlah low multi purpose vehicle atau low MPV dimaksudkan agar mampu menghadirkan kendaraan yang nyaman dalam harga yang relatif murah. Ini mengingat perpindahan gigi yang halus biasanya hanya bisa dihadirkan oleh mobil dengan transmisi hydraulic automatic dengan delapan atau sembilan pecepatan.

Akan tetapi, teknologi hydraulic automatic delapan atau sembilan pecepatan merupakan transmisi yang mahal. Dengan demikian, hal itu hanya diterapkan pada mobil kelas atas yang menonjolkan performa dan kenyamanan berkendara.


×