Seorang guru mengajar secara daring di SMA Negeri 2, Kota Kediri, Jawa Timur, Senin (31/1/2022). | ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Tajuk

Evaluasi Pembelajaran Tatap Muka

Jokowi meminta evaluasi pembelajaran tatap muka di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

Peningkatan kasus Covid-19 di Tanah Air memasuki tahap mengkhawatirkan. Kasus harian Covid-19 pada Selasa (1/2) bertambah menjadi 16.021 kasus. Kasus aktif hingga kemarin tercatat naik hingga 10 kali lipat, dari sebelumnya sebanyak 6.108 kasus pada 9 Januari 2022 menjadi 81.349 kasus pada 1 Februari.

Peningkatan kasus yang luar biasa mendorong Presiden Jokowi menginstruksikan agar pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) dievaluasi. Ini karena karakter varian omikron yang mudah menyebar sehingga butuh kesigapan untuk memutus rantai penularan.

Secara khusus, Jokowi meminta evaluasi PTM di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Ketiga daerah itu memang menjadi penyumbang terbanyak kasus harian Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 melaporkan, Provinsi DKI mendominasi angka tambahan kasus, yakni 6.391 pasien. Kemudian diikuti Provinsi Jawa Barat 4.249 pasien dan Banten 2.463 pasien.

 

 
Secara khusus, Jokowi meminta evaluasi PTM di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. 
 
 

 

Klaster-klaster PTM terdeteksi banyak bermunculan di ketiga provinsi tersebut. Meski pemerintah daerah terkait belum memutuskan untuk menghentikan PTM secara menyeluruh, beberapa sekolah yang diketahui terjadi penularan mengambil inisiatif untuk menghentikan PTM sementara.

Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengatakan, berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (inmendagri) tentang PPKM terbaru, DKI Jakarta masih berada di PPKM Level 2. Karena itu, pelaksanaan PTM di DKI Jakarta masih bisa masuk ke kategori PTM 100 persen.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, Pemprov DKI saat ini sedang melakukan pemantauan. Sebelum memutuskan menghentikan PTM, menurut Anies, ada beberapa faktor yang perlu dilakukan. Utamanya, menimbang keterisian tempat tidur di rumah sakit. Menurut dia, saat ini memang ada peningkatan keterisian tempat tidur perawatan pasien Covid-19 di Jakarta.  

Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, Reisa Broto Asmoro mengatakan, pemerintah telah memprediksi gelombang ketiga Covid-19 akan terjadi dalam beberapa pekan mendatang. Kita tentu tak ingin prediksi terjadinya gelombang ketiga serangan Covid-19 benar-benar terjadi. Karena itu, antisipasi perlu dilakukan, termasuk di antaranya evaluasi PTM.

Salah satu kelemahan PTM adalah sulitnya mengontrol siswa untuk tetap menjaga prosedur kesehatan saat berada di sekolah. Pada saat pelajaran berlangsung, siswa akan mudah untuk diatur dalam menjaga jarak dan memakai masker. Namun, titik krusial terjadi pada saat siswa diantar ke sekolah dan dijemput pulang. Kerumunan terjadi, dan tak terhindarkan.

 
Kita berharap, evaluasi PTM juga dilakukan dengan memberlakukan penutupan sekolah di daerah yang tingkat penyebaran Covid-19 tinggi. 
 
 

Maka itu, evaluasi terhadap PTM tidak hanya dalam bentuk menutup sekolah jika terjadi kasus positif Covid-19, tetapi juga sekolah yang tak mampu menerapkan prokes dalam proses belajar-mengajar. Pihak yang berwenang selayaknya menutup sekolah yang tak menjalankan prokes. Lebih baik mencegah daripada siswa tertular Covid-19.

 Kita berharap, evaluasi PTM juga dilakukan dengan memberlakukan penutupan sekolah di daerah yang tingkat penyebaran Covid-19 tinggi. Kendati belum terjadi kasus positif di sekolah, jika banyak terjadi kasus penularan di daerah sekitarnya, sekolah yang bersangkutan layak untuk dihentikan PTM-nya.

Penghentian PTM ini memang seperti buah simalakama. Di satu sisi, PTM perlu segera digelar agar anak didik tidak terlalu tertinggal dengan pelajarannya. Di sisi lain, pelaksanaannya juga menimbulkan klaster-klaster penularan Covid-19 baru di sekolah.

Evaluasi PTM ini pun perlu dilakukan dengan hati-hati. Tetap mempertimbangkan kebutuhan siswa dan guru akan pembelajaran tatap muka, tetapi juga tetap menjaga agar tidak menjadi tempat penyebaran kasus Covid-19.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat