Petugas menyemprotkan cairan disinfektan di ruang kelas Sekolah Dasar Negeri 08 Duri Pulo, Jakarta Pusat, Jumat (28/1/2022). penyemprotan tersebut dilakukan sebagai upaya mengantisipasi penyebaran virus Covid-19 di lingkungan sekolah. | Republika/Thoudy Badai

Kabar Utama

29 Jan 2022, 03:55 WIB

Presiden: Pemerintah Siap Hadapi Omikron

Satgas  Covid-19 meminta Jakarta, Jabar, dan Banten menekan mobilitas masyarakat.

JAKARTA – Pemerintah melakukan berbagai langkah persiapan untuk menghadapi gelombang ketiga pandemi Covid-19 akibat varian omikron. Persiapan fasilitas kesehatan (faskes) menjadi prioritas pemerintah dalam mengantisipasi kemungkinan lonjakan signifikan yang diperkirakan terjadi pada akhir Februari hingga awal Maret mendatang.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat tidak panik dengan lonjakan yang terus terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah telah melakukan perbaikan sarana dan prasarana faskes untuk perawatan pasien yang terinfeksi Covid-19. Persiapan faskes ini disesuaikan dengan karakteristik dari varian omikron yang berbeda dari varian Covid-19 sebelumnya.

“Belajar dari lonjakan kasus varian omikron yang sudah terjadi di berbagai negara, pemerintah sudah melakukan banyak persiapan untuk menghadapinya. Saya mengajak saudara sekalian menjaga kesehatan diri masing-masing sebaik-baiknya untuk meningkatkan imunitas. Saya minta bapak ibu saudara-saudara sekalian tetap tenang, tidak panik,” kata Jokowi dalam keterangan pers, Jumat (28/1).

Menurut Jokowi, tidak semua kasus Covid-19 varian omikron membutuhkan layanan langsung karena gejalanya tidak membahayakan. Yang paling penting, kata dia, meminimalkan kontak untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Jokowi melanjutkan, jika masyarakat mendapatkan hasil positif dari tes PCR namun tidak merasakan gejala, maka dapat melakukan isolasi mandiri di rumah selama lima hari.

Sedangkan jika mengalami gejala batuk dan pilek atau gejala demam, dapat memanfaatkan layanan telemedicine atau mendapatkan layanan di fasilitas kesehatan terdekat. Menurut Presiden, langkah ini dapat membantu mengurangi beban fasilitas kesehatan seiring dengan peningkatan jumlah kasus positif saat ini. Faskes diproyeksikan untuk lebih fokus menangani pasien dengan gejala berat maupun pasien-pasien penyakit lain yang membutuhkan layanan intensif.

Untuk menghindari lonjakan kasus secara drastis dalam satu waktu, Pemprov DKI Jakarta mengimbau perkantoran di Ibu Kota kembali melakukan skema work from home (WFH). Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, mengakui terjadi lonjakan cukup signifikan kasus Covid-19 di Jakarta. “Sudah kami sampaikan, Pak Jokowi berkali-kali ingatkan, berada di rumah, jangan keluar, bahkan bekerja pun kata Pak Jokowi kalau bisa dari rumah dari rumah,” kata Riza.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, pengusaha menunggu arahan dari pemerintah pusat maupun daerah, termasuk DKI Jakarta untuk melakukan WFH kembali. Dia menyatakan, pengusaha akan patuh dengan aturan. Namun, dia mengaku hingga kini belum ada arahan rencana atau imbauan demikian dari pemerintah. “Sementara ini belum ada imbauan, juga di DKI. Kami ikut keputusan pemerintah saja,” kata Hariyadi.

photo
Petugas menyemprotkan cairan disinfektan di ruang perpustakaan Sekolah Dasar Negeri 08 Duri Pulo, Jakarta Pusat, Jumat (28/1/2022). penyemprotan tersebut dilakukan sebagai upaya mengantisipasi penyebaran virus Covid-19 di lingkungan sekolah setelah ditemukannya kasus Covid-19 kepada orang tua siswa di SDN 08 Duri Pulo. - (Republika/Thoudy Badai)

Batasi mobilitas

Tren peningkatan kasus Covid-19 masih terus terjadi. Pada Jumat (28/1), kasus positif tercatat sebanyak 9.905 orang. Dari penambahan itu, DKI Jakarta masih menyumbang penambahan tertinggi sebanyak 4.558 kasus. Total kasus aktif per Jumat tercatat sebanyak 43.574 kasus. Kenaikan cepat kasus baru ini akibat varian omikron.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito meminta agar daerah yang sedang mengalami kenaikan kasus Covid-19 memperketat implementasi protokol kesehatan dan menekan mobilitas masyarakat di daerah. Ada tiga provinsi terbesar dalam menyumbang kasus nasional, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. “Penting bagi daerah yang sedang mengalami kenaikan kasus untuk memperketat implementasi protokol kesehatan dan menekan mobilitas ke daerah lain guna mencegah transmisi antara daerah,” ujar Wiku.

Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko Wahyono menilai, untuk menekan laju penularan, salah satu yang bisa dilakukan adalah memberlakukan PPKM Level 4 di daerah dengan penularan tinggi. Karakteristik varian omikron yang sangat mudah dan cepat menular hanya bisa dibatasi dengan pembatasan. “Yang bisa dilakukan adalah mengecilkan kasus hariannya dengan cara pembatasan sosial, bukan lockdown mikro. Kalau Jakarta ya se-Jakarta melakukan lockdown,” ujar dia.

Angka kasus positif Covid-19 di Indonesia pada Jumat (28/1), kembali naik menjadi 9.905 kasus. Dengan demikian, total kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 4.319.175 kasus. Sementara kasus pasien meninggal bertambah 7 kasus, dan kasus sembuh bertambah 2.028 kasus. Dari penambahan itu, DKI Jakarta menyumbang penambahan tertinggi sebanyak 4.558 kasus.

Kenaikan kasus baru konfirmasi merupakan implikasi dari peningkatan kasus konfirmasi omikron di Indonesia. Dimana sejak 15 Desember hingga Rabu (26/1) secara kumulatif tercatat 1.988 kasus konfirmasi omikron ditemukan di Indonesia.

Guru Besar Fakultas Kedokteran UI, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, berdasarkan data hingga Selasa (25/1), menunjukkan bahwa dari 372.680 sampel sekuen yang dimasukkan ke GISAID dari berbagai negara di dunia berdasar spesimen yang dikumpulkan dalam 30 hari terakhir, maka 332.155 (89,1 persen) adalah Omicron.

"Jadi memang paling banyak dari yang dimasukkan ke GISAID. Lalu disusul berturut oleh: varian delta, 39.804 sampel sekuen (10,7 persen), varian Gana 28 (di bawah 0.1 persen) , varian Alfa 4 (di bawah 0.1 persen), varian lain yaitu mu dan lambda yang tergolong dalam VOI sebanyak 2 sekuen ( di bawah 0.1 persen)," ungkap Tjandra, Jumat (28/1).

Tjandra menuturkan, saat ini juga sedang banyak dibicarakan tentang BA.2, salah satu jenis varian omikron . Varian omikron memang meliputi jenis B.1.1.529, BA.1, BA.2 dan BA.3. "Data GISAID pada 25 Januari 2022 menunjukkan 98,8 persen diantara data yang ada di mereka adalah BA.1, walaupun jumlah negara yang melaporkan BA.2 juga terus makin meningkat," kata dia.

Bahkan, lanjut Tjandra, menurut berita sudah mulai ada BA.2 omikron di Indonesia, yang tentu perlu dilakukan berbagai analisa kemungkinan dampaknya. Perlu diketahui bahwa BA.2 dikenal sebagai “stealth omicron” atau omikron yang “menipu”, khususnya karena adanya delesi fenomena “S gene target failure – SGTF”.

"Sehingga dapat tidak terdeteksi oleh pemeriksaan PCR SGTF yang kini justru mulai diperbanyak dinegara kita. Sekarang memang jumlah BA.2 masih amat kecil, tapi kalau jumlahnya makin banyak maka bukan tidak mungkin dapat mempengaruhi kebijakan yang perlu diambil," terangnya

"Di beberapa negara maka BA.2 ini makin meningkat, seperti di India, Filipina dan juga mulai ada laporan antara lain dari Denmark, Inggris dan Jerman," kata mantan direktur WHO Asia Tenggara itu.


×