Petugas kesehatan menyiapkan vaksin saat digelar vaksinasi Covid-19 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Ikatan Alumni Universitas Airlangga di Airlangga Convention Center, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (4/9/2021). | ANTARA FOTO/Zabur Karuru/foc.

Nasional

29 Jan 2022, 03:45 WIB

Uji Klinis Vaksin Unair Dimulai 8 Februari

Kandidat vaksin Merah Putih buatan Unair akan menjalani tiga fase uji klinis.

JAKARTA -- Uji klinis fase 1 vaksin Merah Putih Universitas Airlangga (Unair) dimulai pada 8 Februari 2022. Rencananya 90 orang akan menjadi peserta uji klinis vaksin tersebut.

"Persiapan sesuai rencana," kata peneliti utama uji klinik vaksin Merah Putih Unair Surabaya Jawa Timur dr Dominicus Husada SpA(K), Jumat (28/1). Ia menjelaskan sebanyak 90 orang peserta akan mengikuti uji klinis fase 1 dengan usia 18 tahun ke atas.

Uji klinis kandidat vaksin tersebut akan dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo Surabaya. "Uji klinis fase 1 direncanakan dilakukan selama setahun, yang bertujuan untuk mengevaluasi keamanan dan kekebalan yang dihasilkan dari kandidat vaksin tersebut," katanya.

Kandidat vaksin Merah Putih buatan Unair, katanya, akan menjalani tiga fase uji klinis. Setiap fase direncanakan dilaksanakan selama setahun. "Sukarelawan yang menjadi peserta uji klinis fase 1 kebanyakan berasal dari Jawa Timur, khususnya Surabaya," katanya.

Terkait persiapan uji klinis fase 1, ia mengatakan semua aspek saat ini sesuai rencana, yang meliputi antara lain para kandidat peserta uji, kelengkapan gedung dan peralatan, peralatan medis, kesiapan petugas, kesiapan administrasi, dan kesiapan pendanaan. Persetujuan untuk pelaksanaan uji klinis kandidat vaksin itu akan dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Unair mengembangkan vaksin Merah Putih untuk Covid-19 dengan menggunakan platform inactivated virus atau berbasis virus yang dilemahkan atau dimatikan. Selain itu, Unair telah menyerahkan bibit vaksin kepada PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia untuk disiapkan bagi pelaksanaan uji klinis vaksin tersebut.

Bibit vaksin Merah Putih yang dikembangkan Unair tersebut telah melalui uji praklinis fase 1 dan 2. Uji praklinis fase 1 menggunakan hewan mencit dan fase 2 menggunakan hewan macaca atau monyet. Setelah berhasil melalui uji klinis fase 1, 2, dan 3, diharapkan vaksin Merah Putih tersebut dapat memperoleh izin penggunaan darurat dari BPOM. 

Sebelumnya, Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Herawati Sudoyo mengatakan, benih vaksin Covid-19 buatan dalam negeri Merah Putih yang dikembangkan oleh Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini sudah ada di tangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) penghasil vaksin PT Biofarma. Kemudian kunci pengembangan vaksin ada di tangan Biofarma.

Menurut Herawati, vaksin merah putih merupakan salah satu contoh kolaborasi lembaga penelitian dengan industri. "Kalau ditanyakan bagaimana vaksin merah putih yang ada di Eijkman, benih vaksin ini sudah ada di tangan PT Biofarma. Jadi, kunci atau bola vaksin ini tinggal bergulir di industri," ujarnya saat mengisi konferensi virtual Lokapala 3.0 "Habis Gelap Terbitlah Terang?", Kamis (27/1/2022).

Namun, peran lembaga Eijkman tak terhenti sampai di tahap ini. Ia menambahkan, Eijkman masih harus mengikuti perkembangan vaksin Merah Putih. Sebab, dia melanjutkan, nantinya ada uji klinik 1,2, dan 3. Kemudian pemeriksaan setiap tahap uji klinik ini menggunakan virus harus dilakukan di laboratorium khusus. Pihaknya melihat teknologi laboratorium yang dibutuhkan teraebut telah dimliki lembaga Eijkman. Ia mengakui memang ada beberapa alternatif dalam pengembangan vaksin ini. 

"Tetapi kalau melihat ekosistem penelitian atau budaya riset yang ada goncangan buat saya sendiri tidak begitu pasti dengan apa yang akan kita hadapi di 2022. Ini tentunya jadi satu hal yang negatif buat saya," katanya.

Sebelumnya, Vaksin Merah Putih kini sudah dalam tahap hilirisasi industri. Vaksin yang dikembangkan oleh Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu diharapkan sudah dapat melakukan proses uji praklinik dan uji klinik beberapa bulan ke depan. 

"Seed vaksin Merah Putih yang kami kembangkan berhasil mengekspresikan protein RBD di sel ragi, baik pada skala flask (labu) maupun pada skala bioreaktor di fasilitas milik mitra industri, Bio Farma. Selain itu seed vaksin Merah Putih Eijkman juga mampu menghasilkan protein RDB-Delta dengan yield yang tinggi dan mudah untuk dipurifikasi,” kata Periset PRBM Eijkman BRIN, Tedjo Sasmono, dalam siaran pers, Kamis (27/1).

Sumber : antara


×