Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) menyemprotkan disinfektan di SMPN 43 Jakarta, Kamis (20/1/2022). | ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Tajuk

28 Jan 2022, 03:45 WIB

Bahaya Omikron

Jumlah kasus harian dalam sepekan ini menunjukkan peningkatan yang luar biasa bila dibandingkan kondisi pada November dan Desember 2021.

Jumlah terinfeksi Covid-19 di Tanah Air dalam tiga hari ini mengalami peningkatan yang tajam. Bila pada Selasa (25/1) tercatat penambahan kasus positif Covid-19 masih berada di angka 4.878, satu hari berikutnya melonjak menjadi 7.010. Sedangkan Kamis (27/1) ini, kasusnya kembali naik menjadi sebanyak 8.077 kasus.

Jumlah kasus harian dalam sepekan ini menunjukkan peningkatan yang luar biasa bila dibandingkan kondisi pada November dan Desember 2021. Kala itu, kasus baru per hari tercatat hanya di angka 500-an. Dengan keadaan seperti itu, Indonesia pun dinilai sudah mampu menangani wabah Covid-19. Apalagi, serangan gelombang kedua melalui varian delta yang terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus 2021, kasus harian sempat menyentuh angka 50 ribu.

Kini setelah sejumlah negara mendapat serangan varian omikron pada Desember 2021, negara kita pun harus menerima kenyataan yang sama. Varian omikron masuk dalam satu bulan terakhir ini melalui warga negara Indonesia (WNI), yang baru saja melakukan perjalanan dari luar negeri.

Bedanya, di sejumlah negara Eropa, kasus hariannya mencapai angka yang cukup tinggi. Inggris, misalnya, kasus harian mencapai 200 ribu kasus. Negara Eropa lain, seperti Prancis dan Jerman pun mengalami serangan varian omikron nyaris tak jauh berbeda.

 

 
Jumlah kasus harian dalam sepekan ini menunjukkan peningkatan yang luar biasa bila dibandingkan kondisi pada November dan Desember 2021. 
 
 

Sementara itu, di Indonesia, jumlah masyarakat yang terinfeksi varian omikron masih jauh lebih rendah jika dibandingkan negara-negara, baik di Eropa maupun India. Menurut data Kementerian Kesehatan RI per Kamis (27/1), kasus omikron sudah mencapai 1.998 orang. Dari jumlah itu, 1.160 merupakan pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) dan 606 lainnya transmisi lokal.

Walaupun kasus yang terjangkit Covid-19 dalam beberapa hari ini mengalami peningkatan, kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman gelombang ketiga sejauh ini belum terasa. Di jalan-jalan, kita dapat dengan mudah menemukan orang yang tidak memakai masker. Di pusat perbelanjaan ataupun pasar tradisional kita pun menemukan warga yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Begitu juga, di tempat-tempat ibadah, tidak sedikit yang tidak lagi menerapkan protokol kesehatan.

Tidak sedikit masyarakat yang merasa wabah Covid-19 telah berakhir. Padahal, anggapan itu keliru. Upaya pemerintah yang terus mengingatkan agar semua masyarakat ketat dalam menerapkan protokol kesehatan diabaikan, karena sebelum ini peningkatan kasus Covid-19 sangat rendah.

Kini ketika ancaman gelombang ketiga wabah Covid-19 melalui varian omikron mengancam negeri tercinta ini, kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan kembali menjadi pekerjaan rumah yang harus kembali diselesaikan. Apalagi, bahaya varian omikron menurut para ahli, baik di dalam maupun luar negeri, tidak seganas varian delta.

 
Tidak sedikit masyarakat yang merasa wabah Covid-19 telah berakhir. Padahal, anggapan itu keliru.
 
 

Bahkan, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson sudah menganggap varian omikron seperti flu biasa. Karena itu, Pemerintah Inggris dalam pekan ini menghapuskan kebijakan pengetatan. Bahkan, pemakaian masker pun tidak lagi diharuskan. Padahal, saat kebijakan yang sangat longgar tersebut diterapkan, kasus harian di negeri itu masih mencapai 100 ribuan.

Di Tanah Air, suara-suara varian omikron tidak begitu membahayakan juga beredar luas di masyarakat. Apalagi, tidak sedikit masyarakat yang terjangkit varian omikron lebih banyak yang tidak mengalami gejala. Kondisi tersebut membuat masyarakat tidak takut terhadap Covid-19 dan abai terhadap protokol kesehtan. Belum lagi epidemiolog di dalam negeri juga berbeda pendapat soal bahaya varian omikron.

Epidemiolog yang juga Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia,  Prof dr Mondastri Korib Sudaryo, MS, Dsc, misalnya, mengungkapkan varian omikron kemungkinan tak akan membuat rumah sakit kolaps seperti varian delta. Meskipun penyebarannya lima kali lebih cepat, varian omikron tak menimbulkan gejala yang parah seperti varian delta.

Tentu saja suara-suara yang menganggap varian omikron tidak menimbulkan gejala yang parah akan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah, terutama bagaimana mengedukasi masyarakat agar tetap berdisiplin tinggi dalam menerapkan protokol kesehatan.

Kita berharap, pemerintah terus bekerja keras dalam menyosialisasikan potensi ancaman dari varian omikron ini. Pemerintah harus terus menyadarkan masyarakat agar patuh pada protokol kesehatan. Sebab, dengan protokol kesehatan yang rendah, potensi wabah ini akan terus menyebar. Selain itu, pemerintah juga dituntut mempercepat program vaksinasi, termasuk vaksinasi booster.

Jumlah penduduk yang divaksinasi di negeri kita masih belum pada batas yang aman. Berbeda dengan Inggris, yang jumlah warganya mayoritas sudah divaksin. Data per Rabu (26/1) menunjukkan, jumlah penduduk RI yang sudah divaksin dosis pertama sebanyak 182.500.827 orang dan total penduduk kita, sekitar 270 juta jiwa. Sedangkan yang sudah mendapat vaksin dosis dua, 125.673.513 orang. 


×