Ilustrasi Bank BNI | ANTARA FOTO/ Reno Esnir

Ekonomi

27 Jan 2022, 15:04 WIB

BNI Raup Laba Bersih Rp 10,89 Triliun

BNI menyalurkan kredit t Rp 582,44 triliun sepanjang tahun lalu.

JAKARTA — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk meraup laba bersih sebesar Rp 10,89 triliun sepanjang 2021. Realisasi tersebut melesat 232,2 persen dibandingkan laba bersih pada tahun sebelumnya. 

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, pencapaian laba bersih 2021 diperoleh dari pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) tumbuh 14,8 persen atau sebesar Rp 31,06 triliun.

“Pencapaian ini bahkan menjadi yang tertinggi yang pernah dihasilkan BNI, lebih tinggi dari pendapatan operasional sebelum pandemi,” kata Royke saat konferensi pers virtual kinerja BNI di Jakarta, Rabu (26/1).

Realisasi laba bersih juga ditopang dari perbaikan kualitas kredit melalui monitoring, penanganan, dan kebijakan yang efektif membuat cost of credit membaik menjadi 3,3 persen.

Royke mengatakan, peningkatan pendapatan operasional bank dihasilkan dari pertumbuhan kredit sebesar 5,3 persen menjadi Rp 582,44 triliun, net interest margin (NIM) sebesar 4,7 persen serta pendapatan berbasis komisi (FBI) yang pada akhir 2021 tumbuh 12,8 persen. 

“Kami menutup 2021 dengan peningkatan laba bersih tiga kali lipat dari perolehan 2020 dan kami yakin itu sudah berada di atas ekspektasi pasar. Kami pun sepenuhnya memahami ada ruang untuk peningkatan lebih baik lagi depan,” ujar Royke.

BNI menyalurkan kredit sebesar Rp 582,44 triliun sepanjang tahun lalu. Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan, angka tersebut naik tipis 5,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Novita menjelaskan, pendorong utama kredit sepanjang 2021 berasal dari sektor business banking, terutama pembiayaan ke segmen korporasi swasta tumbuh 7,6 persen menjadi Rp 180,4 triliun, segmen large komersial naik 10,4 persen menjadi Rp 40,9 triliun, dan segmen kecil tumbuh 12,9 persen menjadi Rp 95,8 triliun. “Secara keseluruhan kredit sektor business banking tumbuh 4,5 persen menjadi Rp 482,4 triliun,” kata Novita.

Novita memerinci sektor konsumer, kredit terbesar berasal dari kredit payroll tumbuh 18,3 persen menjadi Rp 35,8 triliun, kredit kepemilikan rumah (mortgage) tumbuh 7,7 persen menjadi Rp 49,6 triliun. Ia menyebutkan, secara keseluruhan kredit konsumer BNI tumbuh 10,1 persen menjadi Rp 99 triliun pada 2021.

Kinerja pendapatan nonbunga BNI juga tercatat menguat pada 2021. Fee based income (FBI) emiten berkode saham BBNI itu pada akhir 2021 tumbuh 12,8 persen menjadi Rp 13,64 triliun. 

“FBI 2021 didukung oleh fee consumer dan fee business banking yang masing-masing tumbuh enam persen dan 10,7 persen sehingga menandai pemulihan yang kuat dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Novita.

Novita menambahkan, pertumbuhan kredit ditopang raihan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 729,17 triliun pada 2021. Angka itu tumbuh 15,5 persen dan membawa BNI pada situasi likuiditas yang sangat mencukupi dan jauh melampaui pertumbuhan kredit tahun lalu. 

“Penghimpunan DPK menguat pada kuartal IV 2021, meskipun suku bunga simpanan terus menurun. Bekal DPK membuat BNI memiliki cadangan likuiditas yang tangguh dan siap digunakan jika permintaan kredit meningkat atau pasar obligasi berubah menjadi lebih baik 2022,” ujar Novita.

Dana murah (CASA) masih mendominasi DPK sebesar 69,4 persen dari seluruh DPK BNI. Dana murah tumbuh 17,1 persen menjadi Rp 506,06 triliun. “Pertumbuhan dana murah ini mendorong perbaikan cost of fund dari 2,6 persen pada akhir 2020 menjadi 1,6 persen pada 2021,” kata Novita.

Direktur Corporate Banking BNI Silvano Rumantir menyampaikan, kredit korporasi pada 2021 tumbuh positif akibat kinerja positif di manufacturing, konstruksi, FMCG, transportasi, dan telekomunikasi. Menurut Silvano, memasuki tahun 2022, terdapat tiga tema kunci ekonomi yang telah masuk ke dalam antisipasi pelaku industri perbankan.

Pertama, momentum pemulihan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh optimisme terhadap keberlangsungan program vaksinasi dalam rangka penanganan pandemi. Kedua, laju inflasi yang kami perkirakan meningkat pada kisaran 2-4 persen. Implikasi dari kedua hal tersebut adalah proyeksi pertumbuhan kredit yang lebih tinggi serta kualitas aset yang terus membaik. 

Selain itu, sebagai dampak tapering Amerika Serikat (AS), BNI memproyeksikan suku bunga acuan BI akan naik ke level 3,5-4 persen pada tahun ini. 

“Namun, BNI telah menetapkan langkah strategis untuk mengoptimalkan dana berbiaya murah (CASA) dalam mendukung ekspansi bisnis yang lebih agresif kepada pelaku industri utama pada sektor-sektor ekonomi unggulan,” kata Silvano.


×