Foto yang dilansir Kementerian PErtahanan Rusia menunjukkan prajurit Rusia berlatih di Golovenki, Rusia, Selasa (25/1/2022). | Russian Defense Ministry Press Service via AP

Internasional

27 Jan 2022, 03:45 WIB

Rusia: Ada Tindakan Balasan

Lavrov mengatakan, Rusia masih menanti jawaban tertulis dari AS.

MOSKOW -- Rusia memperingatkan, Rabu (26/1), mereka akan melakukan tindakan balasan. Itu dilakukan jika Amerika Serikat (AS) dan sekutunya menolak tuntutan keamanan Rusia dan terus menerapkan kebijakan yang agresif.  

"Jika negara Barat terus melakukan tindakan agresif, Moskow akan mengambil tindakan balasan yang diperlukan," kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di hadapan parlemen.

Menurut Lavrov, ia dan pejabat Rusia lain akan memberi masukan kepada Presiden Vladimir Putin mengenai langkah selanjutnya jika mendapatkan jawaban tertulis dari AS. Rusia mengharapkan Jawaban tersebut mereka dapatkan pada pekan ini, tapi AS dan sekutunya di Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyatakan akan menolak permintaan Rusia.

Lavrov menyatakan secara tersirat, Rusia tidak bisa terus-menerus menunggu. "Kami tidak akan membiarkan proposal kami akhirnya tenggelam dalam diskusi tiada akhir," katanya.

photo
Foto lansiran Angkatan Udara Amerika Serikat enunjukkan prajurit menyusun bantuan senjata dan amunisi untuk Ukraina di Pangkalan Udara Dover, Delaware, Jumat (21/1/2022). - (Mauricio Campino/U.S. Air Force via AP))

Parlemen menanyakan kemungkinan Rusia memperluas kerja sama militer dengan Kuba, Venezuela, dan Nikaragua. Lavrov mengatakan, Rusia memang memiliki hubungan baik dengan negara-negara tersebut.

Proposal Rusia mengacu pada pada permintaan agar AS dan NATO menolak permintaan Ukraina dan negara bekas Uni Soviet lainnya untuk menjadi anggota NATO. Ukraina terletak di sebelah Rusia. Posisi tersebut membuat Ukraina menjadi zona penyangga bagi Rusia dengan NATO.

Belakangan, Rusia telah memobilisasi sekitar 100 ribu personel militernya ke dekat perbatasan Ukraina. Rusia juga menggelar latihan militer di kawasan tersebut.

Selanjutnya muncul tudingan dari AS dan NATO bahwa Rusia ingin menyerang Ukraina. Dalam perkembangan terakhir pada Selasa (25/1), Presiden AS Joe Biden mengatakan, salah satu opsi terhadap Rusia adalah menjatuhkan sanksi secara perseorangan kepada Putin jika Rusia menginvasi Ukraina.

Negara-negara Eropa juga mengancam akan menjatuhkan sanksi jika Rusia menginvasi Ukraina. Namun, Eropa juga tergantung kepada Rusia dalam hal suplai gas. Gangguan pada rantai pasokan bahan bakar akan memperparah krisis di Eropa.

Rusia pun membalas, mereka memperingatkan bahwa menjatuhkan sanksi kepada Putin secara pribadi tidak akan berdampak hanya kepada dirinya. Tindakan itu akan bersifat destruktif secara politik.  

Ukraina menilai tindakan Rusia mengerahkan pasukan di perbatasan Ukraina adalah upaya untuk menimbulkan rasa panik. Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan, Rusia sejauh ini belum melancarkan serangan.

Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal mengatakan, pemerintah memiliki sumber daya untuk mempertahankan stabilitas keuangan dan ekonomi mereka.

photo
Pihak Kedutaan Besar Ukraina untuk Jepang menunjukkan presentasi soal kondisi di Ukraina, beberapa waktu lalu. - (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

"Bukan berarti tidak ada ancaman, justru ancaman itu masih ada selama delapan tahun terakhir. Kami hanya ingin mengatakan, Pemerintah Ukraina memiliki semua sumber daya untuk menjaga perekonomian stabil,” ujar Perdana Menteri.  

Pada 2014, Rusia mencaplok Krimea. Konflik itu menewaskan lebih dari 14 ribu orang. Rusia juga mendukung kelompok separatis di Donbass, Ukraina timur. Kawasan bekas Uni Soviet itu mungkin menjadi tempat konfrontasi paling berbahaya  antara Barat dan Timur.  

Mengenai Donbass, Paris menjadi tuan rumah pembicaraan antara Rusia, Ukraina, Prancis, dan Jerman pada Rabu. Ukraina mengeklaim ada sinyal kuat bahwa perdamaian akan tercapai. Format segi empat yang disebut "Format Normandy" setidaknya membuka jalur komunikasi dengan Rusia di tengah krisis antara Rusia, AS, dan NATO.

Harapan Terakhir di Zolote

Suasana di Zolote, sebuah kota di Ukraina yang berbatasan dengan Rusia, diselimuti ketegangan dan kewaspadaan. Setiap hari, warga di sana berusaha memperoleh sinyal ponsel untuk mendengar perkembangan kabar dari Kiev yang berjarak 478 kilometer. Mereka harus siap jika sewaktu-waktu tersiar laporan bahwa Rusia melancarkan serangan.

photo
Tentara Ukraina berpatroli di jalan menuju lokasi konflik dengan separatis di Verkhnotoretske, Distrik Yasynuvata, Donetsk, Sabtu (22/1/2022). - (AP Photo/Andriy Andriyenko)

Di Zolote 4, parit-parit telah dibangun. Selama bertahun-tahun, para prajurit Ukraina di sana sudah terlibat pertempuran dengan kelompok separatis pro-Rusia. Mereka hanya terpisah beberapa ratus meter dari pos pemeriksaan.

Nama Zolote 1 hingga 5 tercetus beberapa dekade lalu pada era Uni Soviet. Angka melambangkan unit operasi penambangan batu bara lokal. Saat ini, Ukraina menguasai Zolote 1 sampai 4. Sementara itu, Zolote 5, yang jaraknya kurang dari 1 kilometer, berada di seberang pos pemeriksaan. Wilayah itu lepas dari tangan Ukraina ke tangan separatis yang didukung Rusia.  

Para prajurit Ukraina di Zolote 4 yakin terdapat penembak jitu di seberang pos pemeriksaan. Oleh Surhov, seorang tentara Ukraina di Zolote 4, mengungkapkan, ketenangan bisa berlangsung beberapa hari. Namun, kelompok separatis pro-Rusia bisa tiba-tiba melepaskan tembakan dan meluncurkan granat.

"Satu mortir terbang dan jatuh di ladang belakang kami. Dua tembakan lagi antara kami dan posisi berikutnya. Dalam 15 menit, semuanya kembali tenang. Mengapa? Untuk apa? Tak ada yang tahu. Dan begitulah di sekitar sini," kata Surhov, Rabu (26/1).

Ketegangan pun terasa di Katerynivka, sebuah desa terdekat dari Zolote. Parit-parit yang lebih baru untuk tempat berlindung prajurit telah dibangun di sana.

photo
Tentara Ukraina berpatroli di jalan menuju lokasi konflik dengan separatis di Verkhnotoretske, Distrik Yasynuvata, Donetsk, Sabtu (22/1/2022). - (AP Photo/Andriy Andriyenko)

"Kami bercanda bahwa harapan adalah hal terakhir yang mati. Kami semua sedang menunggu perdamaian. Baik anak-anak maupun cucu-cucu kami tidak dapat mengunjungi kami," kata Liubov, seorang nenek di Katerynivka.

Di Vesele, daerah separatis di wilayah Donetsk timur, tak banyak yang berubah sejak pertempuran tahun 2014. Plang-plang peringatan tentang ladang ranjau masih terpasang. Bangunan-bangunan terbengkalai menambah nuansa ketegangan di sana.

"Praktis tidak ada orang di sini karena semuanya rusak. Ada penerangan, gas, pasokan air, tapi tidak ada kehidupan," kata Vladimir, seorang warga yang tinggal di Vesele.

Ketegangan di perbatasan Ukraina-Rusia kembali meningkat sejak Rusia dilaporkan mengerahkan lebih dari 100 ribu pasukannya ke zona terdepan. Moskow juga menempatkan ribuan tentaranya di perbatasan Ukraina di utara dengan Belarus.

Kini, warga Zolote menanti dengan harap cemas. Apakah kabar dari Kiev, nun jauh di sana? 

Sumber : Reuters/Associated Press


×