Sejumlah calon jamaah umrah mengantre untuk pemeriksaan dokumen di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (8/1). Sebanyak 419 orang berangkat melaksanakan ibadah umrah setelah beberapa tahun terakhir Indonesia tidak meng | Republika

Kabar Utama

25 Jan 2022, 03:25 WIB

Kasus Covid-19 Jamaah Umrah Menurun

Pengendalian dan pencegahan penularan Covid-19 pada jamaah umrah disebut telah membaik.

 

JAKARTA -- Pengendalian dan pencegahan penularan Covid-19 pada jamaah umrah disebut telah membaik. Hal itu ditandai dengan makin berkurangnya jumlah atau persentase jamaah yang terkonfirmasi positif Covid-19. 

Hingga saat ini, ada sebanyak 1.410 jamaah umrah yang telah kembali ke Tanah Air. Mereka merupakan rombongan jamaah yang bertolak ke Arab Saudi pada empat keberangkatan pertama. Ada sebanyak 172 jamaah yang terkonfirmasi positif Covid-19. 

Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama Nur Arifin mengatakan, ada sebanyak 388 anggota jamaah umrah yang tiba pada Sabtu (22/1). Dari jumlah tersebut, terdapat 16 orang atau sekitar 4 persen jamaah yang positif Covid-19.

"Alhamdulillah, jamaah yang positif Covid-19 semakin sedikit. Namun, kita perlu terus melakukan evaluasi penyelenggaraan umrah," kata Nur Arifin kepada Republika, Senin (24/1). 

Berdasarkan data yang dihimpun Republika, kedatangan pertama jamaah umrah terjadi pada 17 Januari dengan jumlah 411 jamaah. Pada rombongan ini, 87 jamaah dilaporkan positif Covid-19.

photo
Sejumlah calon jamaah umrah berjalan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (8/1/2022). Kementerian Agama melepas sebanyak 419 orang untuk melaksanakan ibadah umrah dan menjadi pertama kali setelah beberapa tahun terakhir Indonesia tidak mengirimkan jamaah akibat pandemi COVID-19. - (ANTARA FOTO/Fauzan/aww.)

Kedatangan berikutnya adalah pada 20 Januari dengan menggunakan maskapai Qatar. Dari 109 jamaah yang pulang, 10 di antaranya positif Covid-19.

Berikutnya ada sebanyak 477 jamaah yang mendarat di Indonesia pada 21 Januari menggunakan maskapai Lion Air dan Saudia. Sebanyak 48 jamaah di antaranya dinyatakan positif Covid-19. 

Kasubdit Pemantauan Umrah dan Haji Nur Alya Fitra mengatakan, jumlah total keberangkatan per 23 Januari mencapai 4.721 orang jamaah. Sementara itu, menurut data kepulangan jamaah per periode yang sama, terdapat sebanyak 1.410 orang.

Indonesia telah mengirim jamaah umrah sejak 8 Januari. Jumlah jamaah yang berangkat bervariasi, mulai dari puluhan hingga ratusan orang. "Tidak ada pembatasan (jumlah jamaah), tapi perlu pengendalian flow keberangkatan dan kepulangan," ujar dia. 

Kementerian Kesehatan membenarkan adanya penurunan tingkat kasus Covid-19 pada jamaah umrah yang baru pulang dari Tanah Suci. Tren penurunan itu menjadi kabar baik bagi usaha di sektor umrah pada masa pandemi. "Ada yang positif, pasti. Tapi, terus terjadi penurunan jumlah yang positif," kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmidzi saat dihubungi Republika, Senin (24/1).

Nadia mengatakan, pada rombongan kedua terdapat 10 orang yang positif Covid-19 dari 109 jamaah. Berikutnya, kata dia, jumlah kasus positif Covid-19 pada jamaah umrah sebanyak 48 kasus dari 477 jamaah. "Adapun pada rombongan pertama, dari 414 jamaah, yang positif 87 jamaah," ujarnya.

photo
Petugas merapikan kamar untuk jamaah umrah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (1/12). Kementerian Agama menyiapkan Asrama Haji Pondok Gede sebagai tempat karantina jamaah umrah dan akan menerapkan kebijakan satu pintu pemberangkatan jamaah. Republika/Putra M. Akbar - (Republika/Putra M. Akbar)

Asrama haji

Ketua Komisi VIII DPR dari Fraksi PAN, Yandri Susanto, menyampaikan, asrama haji saat ini sudah bisa digunakan sebagai tempat karantina kepulangan jamaah umrah. Hal itu ditetapkan setelah rapat kerja (raker) dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada pekan kemarin. 

"Komisi VIII mengajukan kesepakatan yang, alhamdulillah, disetujui. Asrama haji disetujui sebagai tempat karantina terpusat bagi jamaah yang baru pulang dari Kerajaan Saudi," ujar dia saat membuka raker dengan Kementerian Agama, Senin (24/1).

Ia menilai keputusan tersebut membawa dampak yang positif bagi jamaah. Sebab, beban biaya jamaah akan makin berat jika harus menjalani karantina di hotel. 

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan terima kasih atas upaya yang dilakukan Komisi VIII. Ia menyetujui penggunaan asrama haji sebagai lokasi karantina kepulangan karena akan sangat membantu jamaah umrah. "Hal ini tentu membuat jamaah semakin ringan dalam pembiayaan," ujarnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Informasi Haji (informasihaji)

Menag menyebut, dengan menjalani karantina di asrama haji, biaya yang dikeluarkan jamaah nantinya lebih murah. Tak hanya itu, keberadaan mereka di asrama haji akan menekan tingkat kejenuhan jamaah sepulang umrah.

"Di asrama haji, jendelanya masih bisa dibuka. Kalau di hotel, tidak bisa. Jadi, kalau butuh ruang terbuka, di asrama haji masih memungkinkan," kata dia.  

Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi Gerindra, Abdul Wachid, mempertanyakan biaya yang harus dikeluarkan jamaah umrah untuk menjalani karantina di asrama haji. Menurut informasi yang ia terima, biaya yang harus dikeluarkan jamaah untuk karantina di asrama haji masih terbilang mahal. Berdasarkan data yang ia miliki, biaya karantina di asrama haji berkisar di antara Rp 700 ribu hingga Rp 1,5 juta per hari. 

Hal yang sama disampaikan anggota Komisi VIII dari Fraksi Nasdem, Sri Wulan. Ia juga mendapatkan informasi tentang tingginya biaya karantina di asrama haji. "Kemarin kita mendapat informasi dari penyelenggara umrah, asrama haji lebih mahal dan tidak ada fasilitas yang benar," ujar dia.

Ketika menjalani karantina di asrama haji, jamaah atau penyelenggara umrah disebut mengurus sendiri untuk akomodasi dan katering. Sementara itu, jika karantina dilakukan di hotel, semua hal itu sudah diatur.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Hilman Latief menyebut pihaknya sudah merumuskan tarif karantina di asrama haji. Secara umum, harga yang diberikan akan lebih murah daripada karantina di hotel.

Jika mengacu pada daftar yang diajukan, biaya yang ditawarkan berkisar dari Rp 2 juta hingga Rp 3,5 juta selama tujuh hari, termasuk makan jamaah tiga kali sehari. Perbedaan harga tersebut bergantung pada fasilitas atau jenis kamar yang ada.

Pada awal penerapan one gate policy (OGP), ia mengakui ada beberapa tawaran harga, termasuk untuk tes PCR. Namun, setelah harga PCR turun dan terjadi penyesuaian aspek lainnya, tarif per hari karantina di asrama haji ada di kisaran Rp 400 ribu.


×