Adiwarman A Karim | Daan Yahya | Republika

Analisis

24 Jan 2022, 03:15 WIB

Lihatlah dengan Akal, Dengarlah dengan Hati

Lihatlah dengan akal karena mata berbohong. Dengarlah dengan hati karena telinga berkhianat.

 

OLEH ADIWARMAN A KARIM

Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah patut diberi acungan jempol. Pergub ini mengoptimalkan potensi ekonomi dan keuangan syariah untuk memperkuat ketahan ekonomi umat, memajukan pembangunan, mempercepat pertumbuhan ekonomi, serta menciptakan lapangan kerja dan daya saing.

Sebelumnya, Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah telah efektif berlaku dan menunjukkan dampak signifikan. Kewajiban seluruh lembaga keuangan di Aceh sesuai syariah, mendorong Jamsostek dan BJPS Kesehatan meluncurkan layanan syariah mereka awal tahun ini. Keberhasilan penerapan di Aceh dapat menjadi acuan penerapan secara nasional.

Aceh dan Jawa Barat hanyalah ibarat bola salju kecil. Namun, bergulirnya dua bola salju kecil di dua tempat berbeda menunjukkan adanya perubahan besar di bawah salju. Pankaj Ghemawat, profesor Harvard University, dalam risetnya “The Snowball Effect” dengan menggunakan game theory, menunjukkan dominasi pemain besar yang tadinya memonopoli pasar bila tidak lebih efisien dari pesaing yang lebih kecil, akan tergeser.

Perubahan besar di bawah salju bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga pada level global. Pergeseran kecil bola salju menunjukkan adanya momentum gerak yang akan mengubah kestabilan, kemudian menimbulkan momentum gerak yang lebih besar.

Jarkko Jääskelä dan Mariano Kulish, masing-masing periset Bank Sentral Australia dan periset University of Sydney, dalam riset mereka “The Butterfly Effect of Small Open Economies” mengonfirmasi hal itu. Bila negara besar gagal dalam mengendalikan ekspektasi, maka perubahan ekonomi pada negara kecil akan mempengaruhi ekonomi negara besar.

 
Bila negara besar gagal dalam mengendalikan ekspektasi, maka perubahan ekonomi pada negara kecil akan mempengaruhi ekonomi negara besar.
 
 

World Economic Forum dalam kajiannya The Global Risks Report 2022 memindai tujuh hal yang akan mewarnai tahun ini. Pertama, persepsi risiko global akan diwarnai dengan kepedulian sosial dan kepedulian lingkungan.

Kedua, tingkat pemulihan ekonomi yang beragam akan mengganggu kolaborasi kerja sama global. Ketiga, perubahan iklim yang tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan ketimpangan ekonomi dan ketegangan politik antarnegara.

Keempat, semakin besar ketergantungan pada digital akan meningkatkan ancaman siber. Kelima, tekanan sekaligus batasan migrasi populasi akan meningkatkan ketegangan dan risiko global. Keenam, peluang menguasai ruang angkasa akan menimbulkan friksi geopolitik. Ketujuh, dua tahun pandemi ini membuka kekuatan dan kelemahan daya tahan masing-masing negara.

Pandemi dua tahun ini membuka mata saling ketergantungan antarnegara. Allah menegur manusia, apa pun agama dan bangsanya, bahwa kebajikan sosial dan lingkungan sangat penting. Menyelamatkan diri sendiri bukan pilihan karena kita semua saling terhubung. Nilai-nilai Islam yang sangat kaya kebajikan mendorong tercapainya pembangungan berkelanjutan.

 
Nilai-nilai Islam yang sangat kaya kebajikan mendorong tercapainya pembangungan berkelanjutan.
 
 

S&P Global dalam kajiannya Islamic Finance Outlook 2022 menyimpulkan tiga hal untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan. Pertama, banyak kemajuan dalam upaya standardisasi dan integrasi industri keuangan syariah secara global. Kedua, instrumen keuangan syariah yang berdasarkan pendekatan sosial dan lingkungan akan semakin meningkat. Ketiga, kolaborasi digitalisasi dan fintek akan semakin marak.

Sucor Sekuritas dalam kajiannya “Extreme on the Ground: Where Will the Money Go?” menyimpulkan empat hal. Pertama, investor dan nasabah menyukai bank digital. Transaksi naik 46,72 persen mencapai 28,7 triliun per September 2021. Hampir 92 persen responden menggunakan jasa digital bank.

Kedua, sebagian besar nasabah sangat aktif menggunakan aplikasi digital bank setiap hari. Hanya 36 persen yang menggunakannya satu atau dua kali seminggu.

Ketiga, nasabah loyal terhadap layanan digital bank, tapi tidak loyal terhadap bank tertentu. Nasabah siap pindah ke bank lain bila lebih menarik. Keempat, bank digital semakin digemari dan akan menguasai pangsa pasar yang cukup besar.

Dalam ilmu pergaulan, diketahui beberapa Unit Usaha Syariah yang akan spin off dan Bank Umum Syariah menyiapkan rencana digital bank karena ukuran asetnya yang lebih sesuai sebagai bank digital. Beberapa memilih konversi menjadi bank syariah. 

Di industri asuransi syariah juga terjadi hal yang sama. Beberapa perubahan strategis yang akan terjadi pada semester pertama ini diharapkan memberikan penguatan mendukung industri ekonomi keuangan syariah di Indonesia.

 
Kegaduhan horizontal yang sejak tahun 2016 tumbuh subur dengan perang siber dan buzzer diperkirakan senyap menjelang perhelatan G-20.
 
 

Kegaduhan horizontal yang sejak tahun 2016 tumbuh subur dengan perang siber dan buzzer diperkirakan senyap menjelang perhelatan G-20. Kegaduhan sosial hanya akan menodai reputasi Indonesia sebagai pemimpin dan tuan rumah G-20. Padahal, Indonesia adalah negara Muslim terbesar di G-20. Suka atau tidak, reputasi Indonesia adalah reputasi Islam. Kearifan Indonesia adalah kearifan Islam.

Masa ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh umat Islam. Kegaduhan dengan buzzer-nya benar-benar menguras energi, mengaduk-aduk emosi, menekan jiwa umat Islam. Di sisi lain, hal ini membuka mata besarnya kekuatan umat Islam bila energi yang sama besarnya digunakan untuk membangun ekonomi umat.

Bila kita semua memanfaatkan energi besar umat Islam untuk kebangkitan ekonomi syariah, maka pada semester dua paling tidak ada tiga panggung internasional untuk menunjukkan keberhasilan ekonomi syariah. World Islamic Economic Forum, Indonesia Sharia Economic Forum, dan G-20 yang semuanya akan dilaksanakan di Indonesia akan mengokohkan posisi Indonesia sebagai “pemimpin masa depan dari Timur”, sebagai pusat kebangkitan ekonomi syariah dunia.

Vedi Hadiz dan Richard Robison, masing-masing profesor Murdoch University dan profesor University of Melbourne, dalam riset mereka “The Political Economy of Oligarchy and the Reorganization of Power in Indonesia” mengingatkan kita betapa kuat pun oligarki tetap memerlukan kekuatan rakyat. Ikan besar memerlukan ikan-ikan kecil dan ekosistem untuk bertahan hidup di laut.

Ketimpangan ekonomi, dominasi minoritas atas mayoritas, mempermainkan hal-hal sensitif yang dipandang sakral oleh kearifan lokal, ibarat membangun istana pasir di tepi pantai. Ini saatnya kita semua lebih arif bijaksana melihat tanda-tanda zaman.

Unzur bi a’lika innal ‘ain kadzibah, wa asmi’ bi qalbika innal sam’a khawwan. Lihatlah dengan akal karena mata berbohong. Dengarlah dengan hati karena telinga berkhianat.

Sungguh dunia ini permainan dan senda gurau. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menjadikan akhirat sebagai ujung akhir ambisinya, maka Allah akan mengumpulkan dan mencukupi segala kebutuhannya di dunia. Allah akan membuat hatinya menjadi kaya. Dunia akan selalu mendatanginya, meskipun ia enggan untuk menerimanya.”


×