Mualaf Endang Setyowati sudah mengenal Islam sejak usia anak-anak. | DOK IST

Oase

23 Jan 2022, 04:27 WIB

Endang Setyowati, Tertarik Berislam Sejak Dini

Mualaf ini dahulu senang mengikuti neneknya beribadah Islam, seperti shalat dan puasa.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

Biasanya, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Saat memerhatikan lingkungan sekitar, mereka akan cenderung tertarik pada hal-hal yang terasa kontras atau berbeda. Perbedaan itu kemudian ditanyakan kepada orang dewasa, seumpama kedua orang tua di rumah atau guru di sekolah.

Endang Setyowati mengatakan, saat berusia anak-anak dirinya mempunyai keingintahuan yang besar terhadap Islam. Wanita yang kini berusia 59 tahun itu menuturkan, keluarganya menganut iman Nasrani. Ketika berinteraksi sosial dengan teman-teman ataupun tetangganya, ia mulai menyadari adanya perbedaan.

Lingkungan tempat tinggalnya dihuni kebanyakan oleh Muslim. Sementara itu, kedua orang tua dan Endang sendiri saat itu beragama Kristen. Perlahan namun pasti, ia pun menyadari adanya kontras antara minoritas dan mayoritas.

Yang diingatnya bukanlah semacam konflik suku, agama, ras, dan antagolongan (SARA). Pertikaian seperti itu tidak pernah terjadi. Walaupun demikian, Endang mengingat ketika dirinya bertanya tentang perbedaan agama antara keluarganya dan orang-orang sekitar. Kadang kala, ayahnya mengeluhkan suasana hidup sebagai minoritas di tengah umumnya penduduk Muslim setempat.

 
Endang suka mengamati kegiatan ibadah rutin yang dilakukan tetangganya yang Muslim.
 
 

Bagi Endang kecil, berteman dengan kawan-kawan Muslim bukanlah masalah sama sekali. Malahan, ia suka mengamati kegiatan ibadah rutin yang mereka lakukan. Ambil contoh, shalat maghrib berjamaah begitu azan berkumandang dari arah menara masjid. Begitu pula dengan suasana islami yang kian intens selama Ramadhan. Puncaknya, perayaan Idul Fitri yang selalu dijadikan ajang untuk saling maaf-memaafkan.

Momen-momen semisal Lebaran memang menyenangkan. Sebab, itulah hari libur yang bisa diisi dengan bermain bersama teman-teman, terutama setelah usai shalat Id.

Akan tetapi, sering kali Endang kecil kesepian apabila kawan-kawan Muslimnya harus beribadah dengan sesama mereka. Ia hanya bisa melihat dari kejauhan, canda tawa mereka ketika berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah, mengaji, atau tarawih.

Maka Endang mulai tertarik untuk mengenal agama teman-temannya itu. Beruntung, ia mendapatkan kesempatan saat berada di sekolah. Mata pelajaran Islam pun diikutinya meskipun dirinya saat itu masih memeluk agama non-Islam.

 
Mata pelajaran Islam pun diikutinya meskipun dirinya saat itu masih memeluk agama non-Islam.
 
 

Orang tuanya sering kali mendapatkan tugas kedinasan. Alhasil, keluarga ini beberapa kali pindah tempat tinggal. Endang pun terpaksa pindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya.

Bapaknya itu kemudian memahami kesulitan yang dialami putrinya. Maka diputuskanlah bahwa Endang bersekolah di Tulungagung, Jawa Timur, yakni kampung halaman ibunya. Sejak SMP, anak itu pun tinggal di rumah neneknya.

Memang ada perbedaan latar antara ayah dan ibu kandungnya. Sang ayah sejak kecil beragama Kristen. Adapun ibundanya baru memeluk iman tersebut sejak menikah. Sebelumnya, perempuan yang telah melahirkan Endang itu beragama Islam.

Maka neneknya yang di Tulungagung itu merupakan seorang Muslimah. Tinggal bersamanya, Endang kecil tidak langsung diajak memeluk Islam. Bahkan, sang nenek tidak pernah mempersoalkan perbedaan agama dengan cucunya itu.

Akan tetapi, justru Endang sendiri yang tertarik untuk mengamati cara-cara ibadah orang Islam. Ia sering kali menyaksikan neneknya sedang shalat. Pada akhirnya, ia hafal gerakan-gerakan shalat dan bacaan ibadah itu.

 
Justru Endang sendiri yang tertarik untuk mengamati cara-cara ibadah orang Islam. Ia sering kali menyaksikan neneknya sedang shalat.
 
 

Malahan, Endang mulai sering pergi ke masjid walaupun sekadar mengikuti temannya. Memasuki Ramadhan, ia juga ikut-ikutan berpuasa kendati tidak disiplin, yakni berbuka pada tengah hari. Ketika neneknya sahur, ia pun bangun dan makan bersamanya.

Hingga saat itu, agama non-Islam tetap dipertahankannya. Tiap akhir pekan, Endang masih rutin pergi ke gereja untuk beribadah. Namun, tidak serajin sebelumnya. Selama di Tulungagung, tidak lagi dirinya mengikuti kegiatan-kegiatan di luar ritual di gereja.

“Saya tidak pernah ikut acara muda-mudi. Ibadah ya setiap Ahad saja, setelah selesai (beribadah), langsung pulang. Jadi saya tidak punya teman di tempat ibadah itu,” kata Endang saat menuturkan kisahnya kepada Republika, baru-baru ini.

Begitu lulus dari SMP, Endang muda meneruskan bersekolah pada sebuah SMA di Tulungagung. Ia masih tertarik untuk mempelajari Islam, terutama melalui mata pelajaran agama di sekolah negeri itu.

Pada waktu itu, ia sudah harus bolak-balik tiap menjelang akhir pekan ke rumah kedua orang tuanya. Maka setiap Ahad, dia akan membersamai ayah dan ibunya untuk beribadah ke gereja. Keduanya tidak mengetahui bahwa Endang sudah bertahun-tahun tertarik mendalami Islam.

Tamat dari SMA, Endang pun meninggalkan Tulungagung. Ia kembali tinggal serumah dengan ayah dan ibunya. Keduanya telah pensiun dari tempatnya bekerja.

Sejak tahun 1982, Endang pun meneruskan pendidikan tinggi di sebuah universitas di Malang, Jawa Timur. Untuk membersamai, kedua orang tuanya juga ikut pindah ke Malang dengan membeli rumah.

Tidak seperti dahulu, Endang praktis tidak bisa lagi mempelajari Islam. Apalagi kedua orang tuanya termasuk yang menentang anak-anaknya berpindah keyakinan.

Memeluk Islam

Endang mulai menemukan peluang berhijrah saat bertemu dengan seorang pria—yang akhirnya menjadi calon suaminya. Lelaki itu beragama Islam. Pada suatu hari, Endang menceritakan kisah masa kecilnya, yakni tertarik untuk memeluk agama tauhid.

Calon suaminya itu mendengarkan dengan baik. Menurut lelaki itu, apa pun keputusan kembali kepada diri Endang sendiri. Sebab, tidak ada paksaan dalam memeluk agama.

Kira-kira satu bulan menjelang pernikahan, Endang berinisiatif menyambangi sebuah pondok pesantren di Tumpang, Kabupaten Malang. Lembaga itu diasuh seorang dai yang biasa membimbing para mualaf.

Setelah berdiskusi, perempuan tersebut kemudian membulatkan tekadnya untuk berislam. Maka tepat pada Januari 1987, ia mengucapkan dua kalimat syahadat, dengan disaksikan beberapa orang jamaah di masjid pesantren tersebut.

 
Setelah berdiskusi, perempuan tersebut kemudian membulatkan tekadnya untuk berislam. Maka tepat pada Januari 1987, ia mengucapkan dua kalimat syahadat.
 
 

Sebelum bersyahadat sebenarnya Endang telah mendiskusikan dengan keluarga. Hanya saja orang tua tentu menentang keras. Ayahnya menduga bahwa putrinya itu masuk Islam karena dibujuk calon suaminya. Maka, keduanya ditentang keras apabila hendak menikah di kantor urusan agama (KUA).

“Ayah saya akhirnya menyerah setelah mendapat penjelasan dari pihak catatan sipil jika seorang calon suami Muslim, maka harus menikah di KUA meski si calon istri masih menganut agama non-Islam,” ujar dia mengenang.

Ketika itu, secara administrasi agama Endang masih tercatat sebagai orang non-Muslim. Maka dia tetap mendatangkan ayahnya sebagai wali nikah di KUA.

Hampir saja pernikahan tersebut tidak terlaksana. Sebab, ayahnya masih saja enggan menyaksikan anaknya melangsungkan akad di KUA. Namun, setelah berdiskusi, ayah Endang akhirnya luluh juga.

Beberapa pekan kemudian, sang ayah meninggal dunia. Adapun ibunya kemudian mengetahui keislaman Endang. Awalnya, sang ibu merasa keberatan dengan pernikahan putrinya tersebut karena tak lagi satu agama.

“Sikap ibu kemudian kembali cair ketika saya memiliki anak pertama. Tahun 1989, saat anak pertama saya berusia dua tahun ibu saya lebih terbuka,” tutur dia.

 
Sikap ibu kemudian kembali cair ketika saya memiliki anak pertama. Tahun 1989, saat anak pertama saya berusia dua tahun ibu saya lebih terbuka.
 
 

Ibunya terlihat senang dengan kehadiran cucunya. Apalagi ketika Endang melahirkan anak keduanya.

Mereka melalui Ramadhan dengan toleran. Lantas, Idul Fitri tiba. Waktu shalat Id akan segera dimulai. Tidak seperti biasanya, ibunya mengingatkan Endang untuk segera pergi ke tempat shalat berjamaah itu. Sejak saat itu, Endang merasa bahwa perbedaan agama di antara mereka tidak lagi menjadi masalah. Hubungan ibu dan anak kembali hangat.

Endang bekerja sebagai guru. Selain di sekolah umum, ia juga ditugaskan mengajar di sebuah madrasah tsanawiyah. Perempuan guru yang mengajar di sana diharuskan berhijab. Maka ia pun mulai mengenakan kain itu. Lambat laun, ia justru mulai merasa nyaman mengenakan hijab. Waktu itu, tahun 1990-an. Fenomena jilbab belum seramai seperti sekarang.

Kini, usia Endang hampir memasuki 60 tahun. Satu hal yang masih terus diupayakannya ialah lancar mengaji Alquran. Ketika membuka Kitabullah, ia hanya bisa membaca teks terjemahan. Dia masih merasa kesulitan saat mengeja huruf Arab.

Berbeda dengan ibadah lain, seperti shalat dan puasa—mengaji masih menjadi sebuah tantangan tersendiri baginya. Karena terbiasa sejak kecil, Endang lancar melakukan gerakan-gerakan shalat beserta dengan bacaannya. Begitu pula dengan ibadah puasa yang sering dilakukan saat tinggal bersama nenek.

Belajar dari pengalamannya, Endang tidak ingin penyesalannya terjadi kepada anak-anaknya. Ia pun mendukung keputusan suaminya untuk menyekolahkan anak-anaknya di pondok pesantren.

“Awalnya saya ragu karena saat itu tak banyak orang tua yang menyekolahkan anak di pondok pesantren, tetapi dengan penjelasan suami, saya pun mendukung kedua anak saya sekolah di sana,” ucap dia.

Setelah tiga tahun mendalami Islam di pondok pesantren, Endang dan suami kemudian tetap menyekolahkan anak-anaknya di sekolah umum, yakni SMK. Dengan begitu, mereka begitu lulus nanti akan memiliki keterampilan bekerja.

"Maklum, saat itu ekonomi kami belum stabil, sehingga kedua anak kami memilih bekerja kemudian baru menempuh pendidikan sarjana," ujar dia.


×