Seorang anak menangis saat mendapat suntikan vaksin Covid-19 pada acara Vaksinasi Massal Untuk Pelajar di SD Negeri Bujanggadung, Cilegon, Banten, Rabu (19/1/2022). Pemprov setempat bekerjasama dengan BIN dan TNI-Polri menggelar vaksinasi massal untuk ana | ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Nasional

22 Jan 2022, 09:27 WIB

TNI AD Jadi Penyalur Vaksin Gotong Royong

Semakin banyak warga divaksin semakin kuat kekebalan kelompok menghadapi Covid-19.

JAKARTA -- TNI Angkatan Darat (AD) dan PT Kimia Farma Diagnostika menandatangani perjanjian kerja sama terkait penyaluran vaksin Covid-19 gotong royong dan pendistribusian sembako untuk masyarakat. Penandatanganan kerja sama dilakukan di Mabesad, Jakarta, Jumat (21/1).

Kepala Staf AD Jenderal Dudung Abdurachman mengatakan, kerja sama ini sejalan dengan kebijakan TNI AD dalam membantu pemerintah meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. TNI AD ikut berperan dalam mengatasi pandemi Covid-19 yang masih melanda Tanah Air.

“Vaksin Gotong Royong akan segera didistrubusikan kepada satuan komando kewilayahan yang memiliki angka vaksinasi masih rendah,” kata Dudung dalam keterangan tertulis, Jumat (21/1).

Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika drg Ardhy Nugrahanto mengatakan, kerja sama dengan TNI AD akan dapat mempercepat proses distribusi vaksin hingga tercapainya tujuan. Sebab, selama ini, ada kendala tersendiri dalam memobilisasi massa di daerah-daerah terpencil.

Siswa dan guru akan dites PCR

Siswa dan guru yang mengikuti kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) di Kota Bandung akan dilakukan kembali tes PCR secara acak. Kebijakan tersebut dilakukan mengingat kasus Covid-19 varian Omicron di Kota Bandung yang mengalami peningkatan.

"Mulai hari Senin kita akan melakukan surveilans dengan tim dinkes dan itu tentu saja langkah-langkah ini akan menjadi parameter bagi kita apakah PTM ini berdampak atau tidak terhadap kesehatan anak-anak ataupun PTK (pendidik dan tenaga kependidikan)," ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Hikmat Ginanjar, Jumat (21/1).

Pemerintah tengah berupaya melakukan hal tersebut dan berharap dampak vaksinasi dapat terlihat. Terkait jumlah sekolah yang akan dites, pihaknya masih mendata tapi diperkirakan akan lebih banyak.

"Itu kelihatannya banyak juga, nanti kita lihat saja semuanya dan sampelnya juga. SOP yang biasa dilakukan nanti jika ada hal-hal yang tidak sesuai nanti puskemas terdekat akan melakukan langkah-langkah," katanya.

Hikmat mengatakan apabila ditemukan kasus Covid-19 di atas 5 persen di satu sekolah maka PTM dihentikan sementara. Namun apabila di bawah itu PTM tetap berlanjut.

"Iya karena SOP nya seperti itu, kalau di bawah 5 persen masih bisa melaksanakan PTM. Tetapi saya kira melihat permasalahan yang ada di masing-masing satuan pendidikan, jadi apakah rombel atau di seluruh tingkatan sekolah," katanya.

photo
Sejumlah siswa sekolah dasar mengantre untuk mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 di SDN 36 Pekanbaru, Riau, Jumat (21/1/2022). Vaksinasi anak usia 6-11 tahun terus dilakukan sebagai upaya percepatan vaksinasi Covid-19 sekaligus persiapan dalam pembelajaran tatap muka 100 persen. - (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

Ia menuturkan, tes PCR secara acak merupakan kebutuhan di tengah penyebaran kasus Omicron. Hikmat menambahkan vaksinasi anak saat ini fokus menyasar anak usia 6 hingga 11 tahun.

"Sekarang yang 6-11 tahun itu sedang berlangsung dan alhamdulillah di-support juga sama TNI dan Polri ikut membantu dalam percepatan vaksinisasi ini, dan itu hampir sudah lebih dari 55 persen," katanya.

Semakin banyak yang divaksin maka tercipta kekebalan kelompok. "Insya Allah, semakin banyak yang divaksin semakin herd immunity-nya terbentuk," katanya.


×