Seorang anak mengenakan masker saat digendong untuk mengantisipasi dari tertular virus Covid-19, di Beijing, Cina, Ahad (2/12022). | AP/Ng Han Guan

Internasional

18 Jan 2022, 23:01 WIB

Kelahiran Terendah Membuat Cina Gusar

Tingkat kelahiran yang rendah membuat cemas Cina, negara populasi terbesar di dunia ini.

OLEH LINTAR SATRIA

Pada akhir 2021, total populasi Cina melampaui 1,413 miliar jiwa. Namun, tingkat kelahiran yang rendah membuat cemas negeri dengan populasi terbesar di dunia ini.

Pada 2021 terdapat 10,62 juta kelahiran bayi. Angka ini bahkan turun dari kelahiran tahun sebelumnya, yaitu sekitar 12 juta bayi. Data menunjukkan, angka kelahiran Cina pada 2021 mencapai titik terendahnya.

Pada 2015 Cina melonggarkan kebijakan satu anak yang telah diterapkan selama puluhan tahun. Namun, tingginya biaya hidup tinggal di perkotaan menghambat pasangan memiliki anak lebih satu.

Biro Statistik Nasional (NSB) Cina melaporkan, pada 2021 angka kelahiran hanya 7,52 per 1.000 orang. Ini terendah sejak 1949, ketika biro itu mulai mengumpulkan data kelahiran.

Data ini memaksa pemerintah untuk mendorong angka kelahiran. Angka pertumbuhan alami populasi Cina termasuk imigrasi pada 2021 juga hanya 0,034 persen, terendah sejak 1960.

Pada 2021 persentase usia angkatan kerja pada 16-59 tahun sebanyak 882,2 juta orang. Jumlah ini sekitar 62,5 persen dari total populasi. Padahal, pada 2020 persentasi usia angkatan kerja sebesar 63,3 persen. Bahkan, satu dekade lalu, persentase tersebut mencapai 70,1 persen dari total populasi.

photo
Warga bersama anaknya berjalan sambil mengenakan masker di daerah yang telah dihias menyambut Tahun Baru Cina, di kawasan Beijing, Cina, Selasa (11/1/2022). - (AP/Ng Han Guan)

Para ahli kependudukan memperkirakan, persentasi usia angkatan kerja bahkan bisa mencapai 50 persen pada 2050 mendatang. Ini akan terjadi jika tren penurunan terus terjadi.

"Tantangan demografi sudah banyak diketahui, tapi cepatnya penuaan populasi jelas lebih cepat dari yang diperkirakan," kata kepala ekonomi Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, Senin (17/1).

"Ini menandakan total populasi Cina mungkin sudah mencapai puncaknya pada tahun 2021. Selain itu, juga mengindikasi potensi pertumbuhan Cina lebih lambat dari yang diperkirakan," tambahnya.

 
Ini menandakan total populasi Cina mungkin sudah mencapai puncaknya pada tahun 2021.
 
 

Selain mengizinkan setiap pasangan memiliki tiga anak, Cina juga mengadopsi kebijakan untuk mengurangi beban finansial membesarkan anak. Seperti melarang les swasta, industri pendidikan nonformal yang sangat besar.

Pakar demografi Cina di Center for China and Globalization Huang Wenzheng mengatakan, angka kelahiran tampaknya berfluktuasi di angka sekitar 10 juta. Angka itu pun akhirnya menurun karena tidak adanya perubahan kebijakan. "Namun, kebijakan akan memberikan dukungan pada angka kelahiran dalam jangka panjang," kata Huang.

Populasi kelompok kerja Cina sudah menurun, artinya akan menambah beban pada negara untuk membayar dan merawat makin banyaknya orang lanjut usia di negara itu. Rendahnya tingkat kelahiran juga menghambat ambisi Partai Komunis Cina untuk meningkatkan pengaruh dan kekayaan nasional melalui angkatan kerja.

photo
Anak-anak bermain di sebuah pusat perbelanjaan saat musim dingin melanda pusat kota Beijing, Cina, Ahad (2/1/2022). - (AP/Ng Han Guan)

Cina ingin membangun teknologi dan pertumbuhan ekonomi swasembada dengan mengandalkan tingkat konsumsi dalam negeri. Cina tak ingin hanya mengandalkan pada ekspor dan investasi.

Penurunan jumlah angkatan kerja ini bertepatan dengan program Presiden Xi Jinping yang terus meningkatkan anggaran militernya. Xi juga meningkatkan pengaruhnya untuk menjadi pesaing di pentas global di bidang kendaraan listrik dan teknologi lainnya.

Namun, penurunan angkatan kerja ini tak hanya dihadapi Cina. Hal serupa juga dihadapi Jepang, Jerman, dan negara kaya lainnya. Namun, negara-negara itu lebih mengandalkan pada investasi, teknologi, dan aset asing untuk mempertahankan kekayaan mereka.

Strategi itu berbeda dengan Cina. Negeri Tirai Bambu itu amat mengandalkan pertanian dan manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja.

Sumber : Reuters/AP


×