Polisi membagikan masker kepada pedagang pasar saat mengawasi penerapan protokol kesehatan di Pasar Badung, Denpasar, Bali, Jumat (14/1/2022). | ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/rwa.

Nasional

17 Jan 2022, 03:45 WIB

Luhut Imbau Perkantoran WFH

Kemenkes menyiapkan opsi isolasi mandiri bagi pasien positif Covid-19 dengan varian omikron.

JAKARTA – Pemerintah mengimbau perkantoran agar kembali menerapkan work from home atau WFH selama dua pekan ke depan. Langkah itu untuk mengantisipasi penularan Covid-19 varian omikron yang diprediksi mencapai puncak pada pertengahan Februari hingga awal Maret nanti.

“Kami mengimbau kalau di kantor tidak perlu 100 persen, ya, tidak usah 100 persen yang hadir. Jadi, diatur saja melihat situasinya, apakah dibikin 75 persen untuk dua pekan ke depan,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan seusai rapat terbatas evaluasi PPKM, Ahad (16/1).

Namun, kata Luhut, pemerintah menyerahkan keputusan tersebut kepada masing-masing pimpinan perusahaan. Melalui upaya pembatasan karyawan yang bekerja di kantor, ia berharap kenaikan kasus bisa terkendali. Dia juga mengimbau seluruh kementerian/lembaga agar meminimalkan kegiatan rapat secara tatap muka. Kegiatan tersebut, kata dia, dapat dilakukan secara daring.

“Jika ada opsi WFH masih tetap mampu mencapai tingkat produktivitas, kita serahkan kepada pimpinan untuk melakukan asesmen sendiri. Saya mengimbau opsi tersebut bisa diambil,” ujar dia.

Koordinator PPKM Jawa-Bali ini memperingatkan potensi terjadinya peningkatan kasus yang lebih tinggi, khususnya di Provinsi DKI Jakarta, akibat varian omikron. Pemerintah, kata dia, menyadari lonjakan kasus di Indonesia pasti akan terjadi, cepat atau lambat.

Menurut Luhut, kasus transmisi lokal didominasi wilayah di Jawa-Bali, seperti Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya. Selain itu, kenaikan kasus di Jawa-Bali juga terlihat di Provinsi Jawa Barat dan Banten. “Hal tersebut didorong wilayah mereka yang masih masuk aglomerasi di wilayah Jabodetabek,” kata dia.

Kasus harian Covid-19 di Tanah Air diketahui kembali menyentuh angka psikologis sebanyak lebih dari 1.000 konfirmasi positif. “Capaian” itu harus menjadi alarm bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan kembali menguatkan peran masing-masing di setiap lini untuk mencegah penularan.

Pada Sabtu (15/1), kasus harian Covid-19 terkonfirmasi sebanyak 1.054 orang. Kasus di atas 1.000 orang ini menjadi yang pertama sejak Oktober 2021. Terakhir kali Covid-19 mencapai di atas 1.000 kasus terjadi pada 14 Oktober 2021, persisnya sebanyak 1.053 kasus. Setelah itu, kasus harian konsisten turun. Indonesia bahkan pernah mencatat kasus harian 100-an orang pada akhir Desember 2021.

photo
Sejumlah warga menunggu pelaksanaan tes usap di kawasan Krukut, Taman Sari, Jakarta, Senin (10/1/2022). Ditargetkan sebanyak 500 warga mengikuti tes usap massal Covid-19 pasca ditemukannya 36 warga yang positif Covid-19 hingga membuat 4 RT melakukan mikro lockdown. - (Republika/Putra M. Akbar)

Dalam beberapa hari terakhir, lonjakan kasus terjadi cukup signifikan. Pada Senin (10/1), kasus positif Covid-19 berada di angka 454 orang. Kasus terus naik pada Selasa (11/1) sebanyak 802 kasus, Rabu (12/1) 646 kasus, Kamis (13/1) 793 kasus, Jumat (14/1) 850 kasus, Sabtu (15/1) 1.054 kasus, dan Ahad (16/1) 855 kasus. Meski kasus harian pada Ahad lebih sedikit dari Sabtu, positivity rate tercatat hampir sama, yakni 0,5 persen. Itu karena jumlah orang yang dites pada Ahad lebih sedikit.

Salah satu penyebab lonjakan kasus beberapa hari terakhir adalah varian omikron. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan, infeksi varian omikron sudah mencapai 748 kasus hingga Sabtu (15/1). Sebanyak 155 kasus di antaranya merupakan kasus transmisi lokal.

“Sebagian besar dari kasus omikron ini merupakan pelaku perjalanan luar negeri sebanyak 569 (orang) dan transmisi lokal sebanyak 155,” kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi.

Dari 748 kasus itu, lanjut Nadia, sebanyak 24 kasus di antaranya masih dalam tahap penyelidikan epidemiologi. Sebanyak 24 kasus itu belum diketahui akibat transmisi lokal atau akibat perjalanan luar negeri sehingga belum dimasukkan ke salah satu kategori tersebut.

Nadia mengatakan, saat ini juga terdapat sekitar 1.800 lebih kasus probable omikron. Seribu lebih kasus diduga omikron itu masih dalam tahap pemeriksaan lebih lanjut. Sementara itu, kasus terbanyak terjadi pada pelaku perjalanan dari Arab Saudi dan Turki. “Terbanyak ketiga adalah Amerika Serikat, lalu Malaysia dan Uni Emirat Arab,” ujar Nadia.

Kemenkes, kata Nadia, menyiapkan opsi isolasi mandiri bagi pasien positif Covid-19 dengan varian omikron. Opsi itu akan diterapkan apabila kasus omikron terus melonjak. Penerapan isolasi mandiri bakal disertai pengawasan ketat oleh petugas puskesmas dan fasilitas kesehatan setempat. Selain itu, pihak berwenang turut menyediakan layanan telemedicine alias konsultasi dengan dokter secara jarak jauh menggunakan gawai.

Di sisi lain, Kemenkes mengimbau pemerintah daerah untuk meningkatkan pengetesan Covid-19 dan pelacakan kasus. Apabila menemukan kasus omikron, pemerintah daerah diminta segera melokalisasi area tempat kasus berada atau melakukan micro lockdown. Dengan begitu, klaster penularan dan lonjakan kasus dapat dicegah.


×