ILUSTRASI Buku Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisme Islam membahas sejumlah inspirator gerakan modernisme di sepanjang sejarah | DOK REP Thoudy Badai

Kitab

16 Jan 2022, 06:42 WIB

Telaah Sejarah Modernisme Islam

Buku ini merangkum biografi cendekiawan dan ulama yang berperan besar memotori kebangkitan Islam.

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

Sejak abad ke-16, umat Islam menghadapi kekuatan tandingan dari Barat. Portugis dan Spanyol mulai menguasai berbagai wilayah strategis di Asia dan Afrika.

Langkah keduanya lalu diikuti bangsa-bangsa Eropa lain, semisal Belanda, Prancis, dan Inggris. Memasuki abad ke-17 dan 18, imperialisme dan kolonialisme pun menggurita di seluruh dunia.

Hingga abad ke-19, terasa sekali posisi kaum Muslimin kian terpinggirkan. Sementara, bangsa-bangsa Barat semakin mapan memasuki dan menguasai negeri-negeri Islam.

Mereka didukung persenjataan yang canggih sehingga hampir selalu memetik kemenangan, di darat maupun lautan. Seakan tidak punya pilihan, para penguasa Muslim menyerahkan pengawasan atas wilayah dan warga, serta sistem ekonominya ke tangan Barat. Menjelang abad ke-20, kekalahan mereka nyaris total pada semua bidang kehidupan.

 
Memasuki abad ke-17 dan 18, imperialisme dan kolonialisme pun menggurita di seluruh dunia. Menjelang abad ke-20, kekalahan umat Islam nyaris total pada semua bidang kehidupan.
 
 

Dalam kondisi demikian, muncul suara-suara kritis dari kaum cendekiawan dan ulama. Mereka memandang, kaum Muslimin perlu kembali pada ajaran Alquran dan sunah Rasulullah SAW. Di samping itu, kemajuan yang dialami Barat perlu dipelajari. Gerakan inilah yang dinamakan modernisme Islam.

Buku Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisme Islam membahas sejumlah inspirator gerakan tersebut di sepanjang sejarah. Tidak hanya pembahasan biografi para tokoh. Karya kolaboratif dari Akhmad Taufik, M Dimyati Huda, dan Binti Maunah itu juga membedah kaitan antara ajaran Islam dan semangat pembaruan yang muncul sejak abad ke-18 hingga era kekinian.

Secara keseluruhan, buku itu terdiri atas enam bab, yakni “Pendahuluan”, “Islam dan Tantangan Modernisme”, “Islam dan Tradisi Kontemporer”, “Landasan Teoretis Pembaru”, “Pembaru Abad XVIII-XX”, dan “Kaum Modernis Kontemporer.”

Bab pertama berisi selayang pandang tantangan zaman yang dihadapi kaum Muslimin sejak abad ke-18 hingga kini. Menurut para penulis, kebangkitan Islam bermula dari umat agama itu sendiri. Apakah mereka bersedia untuk mengambil nilai-nilai kemajuan dari ajaran tauhid.

Bab kedua membicarakan lebih lanjut perihal posisi umat Islam di dalam sejarah. Menurut Taufik dan kawan-kawan, sejarah Islam dapat dibagi menjadi Periode Klasik (650-1250 M), Pertengahan (1250-1800 M), dan Modern (1800 M-sekarang).

Periode Klasik itu terbagi lagi menjadi Masa Kemajuan I (650-1000 M), yang ditandai dengan ekspansi wilayah Islam dan berdirinya pelbagai pusat keunggulan peradaban. Selanjutnya, terjadilah Masa Disintegrasi (1000-1250 M), yakni antara momen keruntuhan Dinasti Umayyah dan perpecahan politik Dinasti Abbasiyah.

Pada 1258 M, jantung Kekhalifahan Abbasiyah, Baghdad, diserbu bangsa Mongol. Kota kosmopolitan itu luluh lantak. Pada awal Periode Pertengahan, situasi kaum Muslimin umumnya dilanda kegamangan. Di Andalusia (Spanyol), Granada jatuh ke tangan Kristen pada 1491 M. “Pada masa ini, umat Islam berada dalam periode kegelapan, terutama dalam bidang pemikiran kemajuan ilmiah sudah tidak ada lagi, dengan ditutupnya pintu ijtihad, pemikiran menjadi mati” (hlm 7).

 
Pada masa ini, umat Islam berada dalam periode kegelapan, terutama dalam bidang pemikiran kemajuan ilmiah sudah tidak ada lagi, dengan ditutupnya pintu ijtihad, pemikiran menjadi mati.
 
 

Perlahan namun pasti, anak cucu Mongol menjadi pemeluk Islam. Bahkan, mereka kemudian turut memulihkan peradaban Islam. Berbagai dinasti bermunculan. Kondisi demikian terus berlangsung hingga awal abad ke-16.

Antara tahun 1500 dan 1800 M, terjadilah apa yang disebut sebagai Masa Tiga Kerajaan. Adapun ketiga kerajaan besar yang dimaksud ialah Kesultanan Utsmaniyah di Turki, Safawi di Persia, dan Mughal di India. Menurut ketiga penulis, periode 1500-1700 M dinamakan pula Masa Kemajuan II. Masing-masing dari ketiga kerajaan tersebut mempunyai masa kejayaan tersendiri, terutama dalam bidang literatur dan arsitek.

Lebih lanjut, perbedaan antara kedua “masa kemajuan” itu cukup kentara. Yang pertama dinilai lebih baik daripada yang kedua. Sebab, progres yang terjadi dalam fase kedua itu lebih banyak pada bidang politik. Sementara itu, Barat mulai bangkit, terutama melalui terbukanya jalan ke pusat rempah-rempah dan pelbagai komoditas mentah di Timur jauh.

Antara tahun 1700 dan 1800 M, baik Kesultanan Utsmaniyah, Safawi, maupun Mughal mengalami kemunduran. Sebab utamanya, menurut para penulis buku ini, ialah adanya pemberontakan dari dalam masing-masing kerajaan Islam itu. Maka kekuatan politik dan militer kaum Muslimin secara agregat ikut menurun.

Semangat kaum cendekia Muslim untuk mengeksplorasi sains dan ilmu pengetahuan terasa stagnan. Tarekat-tarekat kala itu diliputi suasana khurafat. Bahkan, banyak umat Islam dilanda sikap fatalisme kala memandang diri dan masa depan.

Sementara itu, bangsa-bangsa Barat terus melakukan ekspansi melalui imperialisme dan kolonialisme di Asia, Afrika, dan juga Amerika. Mereka terus menekan ruang-hidup umat Islam di wilayah-wilayah manapun yang didudukinya.

Pada 1798 M, pemimpin Prancis Napoleon Bonaparte menguasai Mesir. Sadarlah pemuka-pemuka Muslimin khususnya di dunia Arab bahwa umat Islam dalam kondisi mundur.

 
Semangat kaum cendekia Muslim untuk mengeksplorasi sains dan ilmu pengetahuan terasa stagnan. Tarekat-tarekat kala itu diliputi suasana khurafat.
 
 

Para penggerak

Buku ini berupaya merangkum biografi para cendekiawan dan ulama yang berperan besar memotori kebangkitan Islam antara abad ke-18 dan 20. Mereka antara lain adalah Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha, Sayyid Ahmad Khan, dan Muhammad Iqbal.

Di samping itu, para penulis juga menerangkan sosok-sosok pembaru dari Indonesia, semisal KH Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, dan KH Hasyim Asy’ari. Bahkan, tokoh-tokoh dari masa kontemporer juga disertakan, yakni Nurcholish Madjid, Harun Nasution, dan Abdurrahman Wahid. Semuanya, baik dari dalam maupun luar negeri, dinilai telah berjasa besar dalam mengupayakan kemajuan Islam pada era modern.

Ibnu Abdul Wahab digambarkan sebagai pelopor gerakan Wahabi. Menurut para penulis, istilah “Wahabi” sesungguhnya dicetuskan oleh musuh-musuh aliran ini. Adapun para pengikut sang tokoh menyebut diri mereka sebagai al-Muslimun atau al-Muwahhidun.

Artinya, pendukung ajaran yang memurnikan ketauhidan. Karena mengikuti mazhab fikih Imam Ahmad bin Hanbal, golongan itu pun menganggap dirinya ahl as-salaf sehingga termasuk dalam ahlus sunnah waljama’ah (aswaja).

Sementara itu, Jamaluddin al-Afghani diceritakan sebagai sosok yang tidak hanya berjuang di ranah pemikiran, tetapi juga pernah terjun langsung memimpin jihad. Ia menyaksikan dan merasakan betapa kerasnya kolonialisme terhadap rakyat Muslimin di Mesir dan Asia Selatan.

Karena itu, ulama yang lahir di Afghanistan itu menyuarakan persatuan umat Islam melalui gerakan pan-Islamisme. Pemikiran al-Afghani kemudian menginspirasi generasi sesudahnya, termasuk Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.

 
Pemikiran al-Afghani kemudian menginspirasi generasi sesudahnya, termasuk Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.
 
 

Indonesia juga mendapatkan pengaruh pan-Islamisme yang bermula sejak awal abad ke-20. Hal itu melalui para pelajar Nusantara yang menimba ilmu di Tanah Suci. Di antara mereka ialah KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari.

Begitu kembali ke Tanah Air, kiai kelahiran Yogyakarta itu terus berproses hingga kemudian mendirikan Muhammadiyah. Adapun kiai asal Jombang, Jawa Timur, itu memotori berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Keduanya merupakan organisasi bercorak modern meskipun tidak mesti mengusung warna keislaman yang sama.

Sesudah Indonesia merdeka, wacana seputar modernisme Islam terus berkembang. Pada masa 10 atau 20 tahun belakangan, cukup banyak tokoh di Tanah Air yang turut mendinamiskan perbincangan itu. Dalam buku ini, tersaji nama-nama antara lain Cak Nur dan Gus Dur.

photo
Buku ini dengan bernas menjelaskan latar belakang dan tokoh-tokoh di balik gagasan modernisme Islam di sepanjang sejarah. - (DOK PRI)

Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisme Islam dapat menjadi rujukan dalam mendalami diskursus tentang perjumpaan antara Islam dan Barat, khususnya antara abad ke-18 hingga 20. Seperti diungkapkan para penulisnya, karya tersebut ditujukan pertama-tama untuk kalangan mahasiswa, sebagai pegangan matakuliah Pembaruan Pemikiran Dalam Islam. Bagaimanapun, kandungan di dalamnya berguna untuk membuka mata pembaca pada umumnya akan perjalanan sejarah umat Islam.

Sejarah bukanlah sebuah garis lurus yang bertepi. Sering kali, kesukaran yang dialami kini merupakan awal dari kegemilangan di masa depan. Karena itu, kaum Muslimin pada era sekarang barangkali masih menyaksikan keterpinggiran Islam pada berbagai bidang kehidupan.

Namun, boleh jadi kelak peradaban agama tauhid kembali bersinar. Dengan membaca buku ini, semangat untuk mempersiapkan diri dalam menyongsong perubahan insya Allah dapat dirasakan.

DATA BUKU

Judul: Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisme Islam

Penulis: Akhmad Taufik, M Dimyati Huda, dan Binti Maunah

Tebal: 225 halaman

Penerbit: PT Raja Grafindo Persada


×