Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf (tengah) didampingi Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar (kanan) dan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (kiri) bersiap menyampaikan keterangan pers di kantor PBNU, Jakarta, Rabu (12/1/2022). Yahya C | ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/YU

Khazanah

15 Jan 2022, 02:03 WIB

Perempuan NU Dinilai Semakin Punya Peran

Gus Yahya mengajak sejumlah tokoh untuk menggerakkan PBNU

JAKARTA – Untuk pertama kalinya sejak Nahdlatul Ulama didirikan pada tahun 1926, jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diisi oleh sejumlah tokoh perempuan. Akademisi Universitas Paramadina, Sunaryo, mengapresiasi hal itu dan menyebutnya sebagai sesuatu yang positif.

"Itu sinyal yang bagus. Karena wacana tentang peran perempuan di dalam organisasi keagamaan, khususnya di NU, sudah ada sejak lama," tutur pengamat pemikiran dan gerakan Islam itu, kepada Republika, Kamis (13/1).

Dalam kepengurusan PBNU periode 2022-2027 terdapat tiga nama tokoh perempuan di jajaran pengurus harian tanfidziyah, yakni Khofifah Indar Parawansa dan Alissa Qotrunnada Wahid sebagai ketua PBNU, serta Ai Rahmayanti sebagai wakil sekjen PBNU. Sementara itu, di jajaran mustasyar atau dewan penasihat terdapat tiga nama tokoh perempuan, yakni Nyai Nafisah Sahal Mahfudz, Nyai Sinta Nuriyah Wahid, dan Nyai Machfudhoh Aly Ubaid. 

Kemudian, di jajaran a’wan atau dewan pakar ada lima nama tokoh perempuan, yakni Nyai Nafisah Ali Maksum, Nyai Badriyah Fayumi, Nyai Ida Fatimah Zainal, Nyai Faizah Ali Sibromalisi, dan Nyai Masriyah Amva.

Menurut Sunaryo, masuknya tokoh-tokoh perempuan tersebut di PBNU menjadi penanda awal munculnya perempuan-perempuan NU yang berperan penting di tengah masyarakat. Ia juga berpandangan, hal itu merupakan wujud formalisasi terhadap peran tokoh perempuan NU selama ini.

Menurut dia, selama ini kalangan perempuan NU sudah berperan aktif dengan melakukan banyak kegiatan yang sifatnya pemberdayaan.  "Jadi, ini sesuatu yang baik untuk kemajuan NU," ujar dia.

Sunaryo juga menyampaikan, selama ini banyak kalangan perempuan NU yang memiliki kompetensi sangat baik. Karena itu, organisasi keagamaan seperti NU sudah seharusnya melibatkan perempuan dalam kepengurusan dan kerja-kerja programnya.

Terkait hal ini, Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, menegaskan, sejak awal tidak ada pembatasan di PBNU terhadap perempuan. PBNU tidak melarang perempuan menjadi pengurus di PBNU.

"Sekarang kita melihat kebutuhan sudah cukup mendesak, maka harus ada perempuan-perempuan yang ikut serta mengelola PBNU ini," kata Gus Yahya saat konferensi pers pengumuman jajaran kepengurusan PBNU di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (12/1).

Ia menjelaskan, perempuan menjadi pengurus PBNU karena ada masalah-masalah besar terkait dengan perempuan. Karena itu, di kepengurusan PBNU ada tokoh-tokoh perempuan yang paling tangguh dan kuat di dalam kiprahnya selama ini.

"Seperti Khofifah Indar Parawansa yang nanti pasti kita bisa andalkan untuk mengelola berbagai bidang PBNU menyangkut pemberdayaan perempuan," ujarnya.

Gus Yahya menambahkan, ada Alissa Qotrunnada Wahid  yang selama ini malang-melintang di berbagai forum internasional. Pasti bisa diandalkan untuk mengelola pekerjaan-pekerjaan PBNU terkait dengan kerja sama internasional, dan terkait dengan masalah-masalah kemanusiaan, termasuk masalah perempuan.

Di tempat yang sama, Alissa Wahid mengatakan, adanya perempuan di kepengurusan PBNU tentu saja merupakan terobosan yang sangat penting dalam perjalanan NU sebagai organisasi. Walau sejak lama ruang perempuan itu sangat besar di NU.

"Kalau teman-teman media melihat dalam acara NU selalu ada ruang yang sangat besar, nyai-nyai itu tidak hanya mengurusi kiai, tapi juga mengurusi pondok putri, pengajian bahkan mengurus berbagai kegiatan di ruang publik," jelas Alissa.

Dia menegaskan, baginya masuk jajaran kepengurusan PBNU adalah amanah, bukan hanya untuk diri pribadi, melainkan ini gerbang untuk para perempuan NU memperbesar khidmatnya bagi NU, umat Islam, bangsa, dan negara, serta peradaban dunia. 


×