Ilustrasi Covid-19 varian omikron | Pixabay

Nasional

14 Jan 2022, 03:15 WIB

Daerah Bersiap Hadapi Omikron

Penambahan nakes untuk menangani omikron dimungkinkan jika terjadi lonjakan kasus seperti tahun lalu.

 

 

BANDUNG—Pemerintah daerah mulai menyiapkan antisipasi menghadapi lonjakan kasus Covid-19 akibat varian omikron. Selain kesiapan fasilitas kesehatan, penguatan juga dilakukan pada 3T (testing, tracing, dan treatment).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat Nina Susana Dewi mengimbau masyarakat agar tidak panik namun harus tetap waspada. Salah satu bentuk kewaspadaan yakni disiplin dalam penerapan protokol kesehatan dan vaksinasi. Nina mengatakan, 14 warga Jabar yang terkonfirmasi positif Covid-19 varian omikron sudah mendapatkan penanganan yang maksimal. Sebanyak 10 orang melakukan isolasi di Wisma Atlet Jakarta dan empat warga lainnya menjalani perawatan di RSUD Al-Ihsan.

"Semua sudah di-tracing, termasuk yang pernah kontak erat. Alhamdulillah semua negatif," katanya, Kamis (13/1). Menurut Nina, pengalaman penanganan gelombang dua pada pertengahan tahun lalu akan menjadi rujukan. Hal itu mulai dari penyiapan tempat isolasi di level desa, kabupaten/kota, dan provinsi, gencar melakukan tes Covid-19 dan telusur kontak erat, sampai kesiapan obat-obatan dan alat pelindung diri (APD).

"Termasuk vaksinasi Covid-19. Sampai saat ini, cakupan vaksinasi sudah 78-80 persen dari target. Jadi, masih ada 20 persen yang kita lakukan vaksinasi," tegasnya. Direktur Perencanaan, Organisasi, dan Umum Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) drg Muhammad Kamaruzzaman mengaku, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah skenario menghadapi varian omikron. Antara lain, menyiapkan kamar terpisah untuk pasien suspek omikron. Jadi, tidak disatukan dengan pasien suspek Covid-19 lain. "Jadi terpisah supaya kita bisa melacak men-tracing pasien ini," katanya. Untuk kapasitas ruang isolasi,

IGD RSHS menyiapkan isolasi yang disiapkan dengan tabung oksigen berjumlah 40 buah, oksigen konsentratol sebanyak 22, transpot lebih dari tujuh buah, dan hepafilter enam buah.

Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika mengaku, pengawasan ditingkatkan hingga RW dan RT mengenai penerapan protokol kesehatan oleh warga. Pemkab Purwakarta telah menyiapkan empat rumah sakit rujukan jika ada yang terjangkit omikron, yaitu di RSUD Bayu Asih, RS Asri, RSAbdul Radjak, dan RS Siloam. "Dengan keempat rumah sakit itu sudah dilakukan koordinasi dan mereka siap," kata Anne.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Yogyakarta Pembayun Setyaningastutie mengeklaim, seluruh rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 sudah diminta untuk siaga menghadapi potensi lonjakan varian omikron. Rumah sakit pemerintah yang ada di kabupaten/kota diminta untuk menyiapkan 30 persen kapasitas bed (tempat tidur) untuk penanganan Covid-19. "Kalau rumah sakit swasta kurang lebih 20 persen," kata Pembayun di Jogja Expo Center (JEC), Bantul, DIY, Kamis (13/1).

Pihaknya juga sudah menyiapkan tempat isolasi terpadu (isoter). Pembayun mengatakan, isoter yang saat ini tidak terisi siap dioperasikan jika nantinya terjadi kenaikan kasus positif di DIY. Penambahan tenaga kesehatan ini dimungkinkan nantinya jika terjadi lonjakan kasus seperti pada Juni hingga pertengahan Agustus 2021 lalu.

Sekretaris Daerah Kota Kediri Bagus Alit memastikan tempat isolasi terpusat di Kota Kediri sewaktu-waktu siap difungsikan jika didapati kasus baru sesuai rekomendasi dari pusat. "Ada sedikitnya 130 tempat tidur yang bisa difungsikan di tempat isolasi terpusat Kota Kediri. Selain itu, sarana dan prasarana penunjang lainnya juga telah disiapkan berikut dengan ambulans dan SDM yang bertugas dalam operasional pelaksanaan di isolasi terpusat," kata dia.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memastikan, sistem kesehatan di Indonesia siap menghadapi lonjakan omikron. Menurutnya, tren peningkatan kasus yang terjadi saat ini disebabkan pelaku perjalanan luar negeri. “Perlu saya tegaskan kembali bahwa sistem kesehatan kita hari ini cukup siap menghadapi adanya varian baru yang kembali mengancam kehidupan kita,” ujar Luhut.

Transmisi Lokal Omikron DKI Jakarta 17,9 Persen

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengaku, sejauh ini, Covid-19 varian omikron mengalami kenaikan. Data terakhir yang dimilikinya, ada 498 orang dan dirawat di Wisma Atlet serta RSPI Sulianti Saroso. “Transmisi lokal 89 kasus, 17,9 persen yang dari impor itu 409 kasus atau 80,1 persen. Memang mungkin ada penambahan lagi, nanti kita lihat data-datanya lagi ya,” kata Riza saat ditemui di Balai Kota, Kamis (13/1).

Ia menambahkan, ada banyak peningkatan terkait bed occupancy rate (BOR) atau keterisian tempat tidur. Mengutip data terbaru, kata dia, BOR hingga Ahad (9/1) ada di angka sembilan persen, dari jumlah sekitar 3.885 tempat tidur, terisi sekitar 348. “Ya BOR ada peningkatan memang dari yang tadinya sudah turun sampai di empat persen. Begitu juga ICU, dari 604 sudah terpakai 31 ini sedikit peningkatan,” kata dia.

Hingga berita ini ditulis, data BOR di DKI Jakarta belum diperbarui pihak terkait. Republika sudah berupaya menghubungi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, tetapi belum mendapat respons. Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengakui, peningkatan BOR di RS rujukan Covid-19 memang terjadi. Menurut dia, hal itu karena kapasitas maksimal masih ditahan hingga kini. Dia menjelaskan, sejauh ini, pihaknya hanya menggunakan 5.000 tempat tidur. Jumlah itu, kata dia, bisa dimaksimalkan hingga 15 ribu.

“Jumlah RS di DKI yang siap melakukan pelayanan Covid-19 saat ini 140-an,” kata dia. Jika BOR saat ini mengalami peningkatkan, kata dia, karena pihaknya memang belum meluaskan fasilitas yang ada. Dia menyebut, akan melihat tren lebih jauh.

“Kebijakannya adalah semua siaga, kita lihat trennya, nanti kalau trennya begitu (naik terus) ya kami luaskan sambil melihat regulasi,” jelas dia. Kendati demikian, Widyastuti menampik jika kenaikan BOR saat ini sama dengan kenaikan BOR saat delta merebak. Ditanya gelombang susulan, dia menyebut, akan mendengarkan saran para ahli dan mempertimbangkan sehingga tidak terjadi peningkatan terus menerus.

“Kami sih tetep mengimbau tidak usah panik, omikron adalah varian yang memang relatif baru meski penularan cepat. Tapi, untuk menjadi (gejala) berat itu secara teori dan berbagai pengalaman tidak seperti delta ya,” ucapnya. zainur mahsir ramadhan

Sumber : Antara


×