Ilustrasi BPKH | Republika/ Wihdan

Ekonomi

13 Jan 2022, 08:45 WIB

BPKH Ajak Masyarakat Melek Perencanaan Keuangan Haji

BPKH memiliki program Haji Muda yang bertujuan meningkatkan kesadaran untuk segera menunaikan niat berhaji.

JAKARTA -- Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk merencanakan keuangan demi bisa mendapatkan porsi haji. Anggota Badan Pelaksana BPKH, Iskandar Zulkarnain, menyampaikan, ibadah haji memerlukan kesiapan atau istitha'ah secara fisik dan finansial.

"Prinsip ibadah haji tentu perlu perencanaan yang sistematis dan terukur, apalagi pada era saat ini, merencanakan perjalanan haji perlu sematang-matangnya," kata Iskandar dalam webinar Principal Haji Muda, Rabu (12/1).

Iskandar mengatakan, BPKH memiliki program Haji Muda yang bertujuan meningkatkan kesadaran untuk segera menunaikan niat berhaji. Sejak diluncurkan pada 2019, jumlah pendaftar haji usia muda atau di bawah 30 tahun terus meningkat dari semula hanya 18 persen, kini rata-rata 43 persen.

Sosialisasi dan edukasi terus dilakukan dengan menggandeng berbagai pihak. Iskandar mengatakan, Arab Saudi memiliki Visi 2030 yang akan meningkatkan kuota jamaah haji hingga lima kali lipat.

Dengan begitu, masa tunggu yang kini mencapai rata-rata 24 tahun di Indonesia bisa terserap lebih cepat. Ia mengajak agar generasi muda Indonesia dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan mulai merencanakan haji baik dari sisi fisik dan finansial.

Ada banyak cara untuk memulai perencanaan keuangan demi mengumpulkan biaya haji. Salah satunya melalui investasi di pasar modal syariah. Hal itu karena investasi akan meningkatkan aset sehingga target dana bisa lebih cepat tercapai.

Direktur Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Fadilah Kartikasari menyampaikan, ada banyak produk pasar modal syariah yang dapat dimanfaatkan untuk merencanakan keuangan dalam beribadah haji.

Menurut Fadilah, masyarakat sudah banyak yang melek investasi. Pada tahun 2021, jumlah investor ritel meningkat sangat signifikan. Per 30 Desember 2021, dari sisi pasar saham, kapitalisasinya tumbuh 19,36 persen dari Rp 3.344,93 triliun menjadi Rp 3.983,65 triliun per 30 Desember 2021. 

Selain saham syariah, produk sukuk juga mengalami pertumbuhan, baik sukuk negara maupun sukuk korporasi. Per 30 Desember 2021, sukuk negara mengalami pertumbuhan sebesar 19,08 persen atau mencapai Rp 1.156,88 triliun. "Sukuk korporasi juga berhasil tumbuh 14,54 persen mencapai Rp 34,77 triliun," katanya. 


×