Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

11 Jan 2022, 03:30 WIB

Tersandung Malu

Jangan terlalu gampang melontarkan tuduhan keburukan pada orang lain.

OLEH PROF FAUZUL IMAN

Seorang ulama besar yang luas ilmunya dan terkenal alim bernama Hasan al-Basri berjalan menelusuri kota dan kampung hingga sampai di tepi Sungai Dajlah. Ia melihat anak muda yang duduk di bawah pohon bersama wanita dan di sisinya terpampang botol minuman.

Melihat dua pasang muda mudi itu, sang ulama dalam hatinya terbetik buruk sangka seraya berucap dengan penuh ujub (sombong), “Andaikan pemuda ini adalah saya tentu tidak akan berbuat sebejat itu."

Tidak lama setelah itu, kapal yang telah berlayar di Sungai Dajlah mengalami kecelakaan, para penumpangnya berloncatan dan tenggelam. Melihat peristiwa ini, sang pemuda tadi dengan cepat bergerak menuju ke kapal itu untuk menolong para korban yang tenggelam.

Beberapa orang berhasil diselamatkan. Sementara sang ulama yang melihat kecelakaan itu tak mampu sedikit pun menolongnya. Lalu pemuda itu menghampiri sang ulama seraya berucap, “Aku adalah pemuda yang duduk di bawah pohon bersama ibuku dengan membawa sebotol air minuman.”

Mendengar ucapan pemuda itu, sang ulama terdiam dan tersandung rasa malu. Pemuda yang selama ini diduganya bejat ternyata tidak benar. Semakin bertumpuk rasa malunya saat sang alim tadi merasa tidak bisa berbuat demi kemanusiaan, dibandingkan pemuda yang tangkas menyelamatkan nyawa manusia dari malapetaka.      

Kisah di atas boleh jadi dibuat oleh Hasan al-Basri sendiri untuk memberikan pesan pelajaran berharga bagi setiap insan terutama bagi yang telah menyandang gelar tokoh agar bersikap hati-hati dalam melontarkan suatu tuduhan antarsesama.

Tuduhan negatif yang selalu ditimpakan kepada sesama di luar sumber yang akurat bukan saja dapat menurunkan martabat sang penuduh atau korban sosiologis bagi pihak yang tertuduh. Namun, juga bila sikap negatif itu selalu ditaburkan membuat batin yang bersangkutan berlumuran penuh cairan energi negatif.

Dalam kondisi energi negatif yang terus mencair di pusat-pusat saraf, membuat yang bersangkutan terancam untuk move ke arah yang lebih positif. Dalam dirinya hanya tertumpuk dan berlingkar pandangan dari negatif ke negatif. Pada akhirnya, sikap buruk sangka merupakan pilihan profesinya hanya untuk mendestruksi tatanan sosial umat karena menepikan sumber-sumber maslahat dari lubuk kemanusiaan.

Itulah bahaya mengerikan dari cairan negatif yang selalu bersarang di saraf otak manusia. “Tepikan ke jarak paling jauh sikap buruk sangka karena sikap buruk sangka merupakan sumber hoaks terbesar.” (HR Bukhari).

Kisah tersandung malu yang terjadi pada tokoh di atas yang notabenenya ulama besar menyadarkan kita semua, terutama bagi para segenap tokoh dari elite manapun, untuk tidak terlalu gampang mem-bully atau melontarkan keburukan pada orang lain.

Boleh jadi objek yang disangkakan sebagai yang paling buruk atau bejat itu ternyata hanya imajinasi dan sentimentalitas kaum penyangka belaka. Bahkan, kontribusi kemanusiaannya saat itu, boleh jadi justru lebih kapabel pihak yang tertindas (tertuduh) dari pada pihak yang menuduh (menindas) itu sendiri.

Wallahu a’lam.


×