Ilustrasi pertandingan sepak bola piala Afrika | Youtube

Olahraga

Menanti Tuah Piala Afrika 2022

Piala Afrika awalnya dijadwalkan untuk bergulir pada tahun 2021, tetapi ditunda dua kali karena pandemi Covid-19.

Turnamen Piala Afrika (Afcon) 2021 resmi tergelar. Banyak sukacita menjelang hajat termegah di sepak bola Benua Hitam tersebut, dari mulai badai Covid-19 yang menimpa skuad dan masyarakat, aksi teror pergerakan separatis, pun roda ekonomi yang meningkat di beberapa kota penyelenggara.

Ini menjadi gelaran Piala Afrika ke-33 dan berlangsung dari 9 Januari 2022 hingga 6 Februari mendatang. Turnamen ini awalnya dijadwalkan untuk bergulir pada tahun 2021, tetapi ditunda dua kali karena pandemi Covid-19. Kamerun menjadi tuan rumah kompetisi dan sebanyak 24 negara akan bersaing untuk memperebutkan gelar juara alias menjadi yang terbaik di benua tersebut.

Para peserta terbagi menjadi enam bagian atau grup, Grup D diklaim sebagai hunian neraka di Piala Afrika 2021. Pasalnya, grup tersebut ditempati oleh kampiun terbanyak timnas Mesir, Nigeria, Guinea-Bisau, serta Sudan. Sedangkan, timnas Aljazair selaku kampiun edisi sebelumnya tergabung di Grup E bersama tim kandidat kuat juara lainnya Pantai Gading.

Hajatan Piala Afrika memang tak semegah turnamen Euro dan Piala Amerika yang menyita banyak jutaan pasang mata pencinta sepak bola. Namun, penyelenggaraan tetap mampu menarik atensi publik dan berdampak positif bagi perputaran ekonomi setempat.

Mengintip situasi di luar arena hijau, Piala Afrika 2021 nyatanya menghadapi tantangan yang cukup pelik. Para pemain dihadapkan pada kondisi mencekam dengan melonjaknya kasus Covid-19 varian omikron yang terus meneror sendi masyarakat global, khususnya Afrika.

Sebelumnya, sebanyak 19 kasus positif telah dikonfirmasi membuat ajang ini semakin diragukan untuk tetap digelar. Selain itu, situasi tersebut diperparah dengan minimnya kampanye vaksinasi yang terjadi di Kamerun, selaku tuan rumah.

Nasi sudah menjadi bubur, geliat Piala Afrika jelas tidak boleh kembali ditunda. Menanggapi langkah tersebut, pihak Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) mengeklaim para penonton akan dibatasi 80 persen dari kapasitas stadion untuk partai yang melibatkan tuan rumah dan 60 persen untuk semua pertandingan lainnya di turnamen tersebut.

CAF lebih dahulu berkonsultasi dengan pemerintah Kamerun mengenai pandemi Covid-19. Penonton harus divaksin lengkap dan menunjukkan hasil tes negatif untuk memasuki area stadion.

Sumber BBC Sport International menambahkan, hanya terdapat 2 persen orang di Kamerun yang telah mendapatkan dua kali dosis vaksin. Namun, laporan terbaru menunjukkan adanya peningkatan jumlah orang di negara itu yang mencoba mendapatkan vaksinasi sehingga mereka berpeluang untuk bisa menyaksikan gelaran Piala Afrika.

Sebelum bola ditendang dan peluit dibunyikan, turnamen Piala Afrika lebih dahulu menghidupkan kembali harapan dan bisnis di sektor ekonomi masyarakat Kamerun. Puluhan ribu penggemar diperkirakan akan mengunjungi Kamerun untuk menyemangati tim nasional mereka, dan dengan itu muncul potensi peningkatan ekonomi. Puluhan ribu penggemar diperkirakan bakal mengunjungi Kamerun untuk menyemangati tim nasional mereka. Alhasil, dampak tersebut bisa memunculkan potensi peningkatan ekonomi.

Beberapa penduduk setempat sudah beralih bisnis, seperti Issa Hamadou, 23 tahun, yang dahulu berdagang telur rebus di Yaounde. Ia sekarang beralih ke pakaian olahraga karena acara sepak bola dan percaya itu adalah model bisnis yang menguntungkan sekarang karena gelaran Piala Afrika.

Mereka jelas sangat gembira karena kota mereka, termasuk Limbe, dinobatkan menjadi tuan rumah gelaran Piala Afrika 2021.

Hamadou bukan satu-satunya yang “bersolek” menjelang Afcon. Banyak hotel dan tempat perdagangan lokal melihat pekerjaan renovasi yang signifikan untuk memperluas basis pelanggan dan berharap mampu mengerek untung.

Menurut kepala ekonom di Bank Informasi Bisnis Afrika, Kennedy Tumemnta, beberapa bisnis sudah mencapai titik impas. Ia menyebut //spin-off// ekonomi dari Afcon mungkin sangat besar. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat