Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev menyampaikan pidato dalam Sidang Umum PBB, beberapa waktu lalu. Tokayev memerintahkan aparat untuk melakukan tembak di tempat untuk menumpas aksi massa. | AP/U.N. Web TV

Internasional

08 Jan 2022, 03:00 WIB

Gejolak Kazakhstan, Tokayev Perintahkan Tembak di Tempat

Sang presiden memberikan mandat penggunaan kekuatan mematikan untuk menumpas aksi massa.

MOSKOW — Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev memerintahkan tembak di tempat untuk menumpas aksi massa. Ia menyebut, para pelaku kerusuhan sebagai "teroris" dan "militan". Ia juga memberi mandat kepada aparat untuk menggunakan kekuatan mematikan melawan mereka.

"Militan masih belum meletakkan senjata, mereka terus melakukan kejahatan atau setidaknya berniat melakukannya. Perlawanan menghadapi mereka harus dilanjutkan hingga akhir. Siapa saja yang tidak menyerahkan diri akan dihancurkan," kata Tokayev dalam pidato yang disiarkan televisi secara nasional pada Jumat (7/1).

 
Negosiasi macam apa yang bisa dilakukan dengan para penjahat, pembunuh?
Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev
 

"Saya telah memberikan perintah kepada para penegak hukum dan militer untuk menembak di tempat, tanpa perlu peringatan," kata presiden berusia 68 tahun ini. Tokayev pun menyalahkan orang-orang tertentu yang disebutnya mendapat pelatihan di negara lain.

Tokayev menampik seruan sejumlah negara agar ia berunding dengan para pengunjuk rasa. Ia menyebut seruan itu "tidak masuk akal".

"Negosiasi macam apa yang bisa dilakukan dengan para penjahat, pembunuh?" ujar Tokayev.

Ia mengeklaim, ketertiban telah pulih di sebagian besar wilayah negeri. Pemerintah daerah, katanya, telah berhasil mengendalikan keadaan.

Namun, ia menambahkan, "Para teroris masih menggunakan senjata dan merusak properti rakyat." Maka, ia memerintahkan, tindakan kontraterorisme harus dilanjutkan.

Pada Jumat, Kementerian Dalam Negeri Kazakhstan melaporkan, 26 pengunjuk rasa tewas dan belasan orang cedera dalam kerusuhan. Lebih dari 3 ribu orang ditahan. Sedangkan, di pihak aparat 18 penegak hukum tewas dan lebih dari 700 orang cedera.

Unjuk rasa bermula dari kenaikan harga gas alam cair untuk kendaraan. Kenaikan ini nyaris dua kali lipat dari harga semula dan mulai berlaku 1 Januari.

Atas desakan massa, pemerintahan Perdana Menteri (PM) Askar Mamin mengundurkan diri. Kini kursi pelaksana tugas PM diduduki Alihan Smaylov.

Pemerintah kemudian mengumumkan batas harga tertinggi yang berlaku 180 hari untuk bahan bakar kendaraan. Pemerintah juga menetapkan larangan kenaikan tarif listrik. Semua itu tak sanggup meredam aksi massa.

 

Kekecewaan massa

Kazakhstan menghadapi unjuk rasa jalanan terhebat sejak negeri kayak gas alam ini merdeka tiga dekade silam. Kekecewaan massa tak hanya akibat kenaikan gas, tapi juga karena kekuasaan mantan presiden Nursultan Nazarbayev (81 tahun) yang terus memainkan pengaruh besar di Kazakhstan.

Nazarbayev berkuasa sejak 1990 lalu ia menyerahkan kekuasaan kepada Tokayev pada 2019. Namun, keluarga Nazarbayev diyakini masih mengendalikan kekuasaan di negeri ini.

Unjuk rasa berubah menjadi tak terkendali. Gedung pemerintah dibakar dan sejumlah pengunjuk rasa serta aparat tewas. Internet di seluruh negeri diputus dan dua bandar udara ditutup.

Hingga Jumat pagi, pasukan keamanan terlihat sudah mengendalikan keadaan di Kota Almaty. Namun, suara tembakan sesekali terdengar di Kota Almaty.

Koresponden Reuters mengaku menyaksikan sejumlah kendaraan lapis baja Rusia memenuhi lapangan Almaty. Di bagian lain kota, sebuah toko penjual amunisi dijarah.

Menurut kantor berita Rusia, Interfax, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan telah mengirim lebih dari 70 pesawat untuk mengangkut personel militer Rusia ke Kazakhstan sejak Kamis. Mereka hadir di bawah bendera pasukan perdamaian kawasan, Collective Security Treaty Organization, atas undangan Tokayev.

Sumber : Reuters/AP


×