Vaksinator menyuntikkan vaksin Covid-19 ke warga di Taman Dewi Sartika, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Selasa (4/1). Pemerintah akan memulai vaksinasi Covid-19 dosis ketiga atau vaksinasi booster pada 12 Januari 2022 mendatang. Vaksinasi booster terseb | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Nasional

Booster Beda Jenis tidak Jadi Masalah

Semua kelompok sasaran diharapkan mendapatkan vaksin booster

JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate menyatakan, masyarakat tidak perlu khawatir seandainya vaksin dosis penguat atau booster yang digunakan berbeda jenis dengan vaksin yang dipakai pada penyuntikan dosis pertama dan kedua. Menurut kajian para ahli, tujuan pemberian booster sama, yakni untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

“Jadi tidak masalah jenis vaksin apa yang dipakai,” katanya, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (6/1). Pemerintah belum mengumumkan secara resmi jenis vaksin dan skema pemberian booster. Keputusan itu akan menunggu rekomendasi dari ITAGI dan BPOM.

Terkait Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI), Johnny menjelaskan, berdasarkan hasil uji klinis yang dilakukan pemerintah, pemberian booster pada subjek penelitian sejauh ini tidak menunjukkan efek samping atau KIPI yang berat. “Bagi yang sudah memenuhi syarat, segerakan vaksinasi booster,” kata Johnny.

Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menganjurkan semua kelompok sasaran mendapatkan booster. "Fakta sains menunjukkan, untuk menghadapi varian omikron ternyata dua dosis vaksin tidaklah cukup. Apalagi, ada penurunan proteksi setelah tujuh bulan (disuntik), jadi semua masyarakat harus mendapatkan booster," ujar dia.

Kendati demikian, ia menyadari kalau pemerintah menghadapi beban yang lebih besar. Sehingga, ia merekomendasikan pemerintah membuat prioritas. Kemudian, mekanismenya harus lebih fleksibel menyikapi situasi.

Ia meminta vaksin Covid-19 booster pertama kali diberikan pada kelompok berisiko, seperti lansia, pemilik komorbid, atau pekerja dengan risiko tinggi, misalnya, petugas pelayanan publik. booster pada kelompok berisiko dianjurkannya diberi gratis karena mereka sangat rawan terpapar.

Lima besar

Indonesia berhasil masuk dalam jajaran 5 besar negara dengan jumlah vaksinasi terbanyak di dunia. Tercatat, cakupan vaksinasi sebanyak 166,65 juta sasaran, Indonesia menempati urutan ke 4 setelah China, India, Amerika Serikat, kemudian diikuti Brazil di peringkat kelima.

“Berdasarkan data Our World in Data per tanggal 4 Januari 2022, Indonesia sudah menyuntikkan vaksin Covid-19 sebanyak 281.574.183 dosis. Capaian ini berhasil mengantarkan Indonesia menjadi satu dari lima negara dengan cakupan vaksinasi terbanyak di dunia,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam keterangannya, Kamis (6/1/2022).

Mantan Wakil Menteri BUMN itu menekankan capaian ini tidak terlepas dari dukungan dan upaya bersama dari seluruh elemen bangsa yakni TNI/Polri, Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, Organisasi Sosial, Organisasi Keagamaan, pelaku usaha dan masyarakat dalam menyukseskan program vaksinasi nasional sebagai bagian dari ikhtiar untuk mengakhiri pandemi di Tanah Air.

Budi memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah terlibat dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19 sehingga bisa berjalan dengan baik.

Ia berjanji pemerintah akan terus menggenjot cakupan vaksinasi nasional bagi 208,2 juta penduduk yang ditargetkan akan selesai pada Maret atau April mendatang.

Menkes memastikan stok vaksin Covid-19 dalam negeri aman. Kendati ada tambahan jumlah sasaran yakni anak usia 6-11 tahun serta tambahan untuk vaksinasi booster (dosis ketiga) pada 12 Januari mendatang, Menkes meyakini jumlah vaksin yang tersedia masih mencukupi.

“Sekarang kita ada stok vaksin sekitar 140 juta dosis, Kita targetkan kecepatan vaksinasi kita 50 juta sasaran dalam kurun waktu satu bulan. Kita juga sudah siapkan untuk vaksinasi booster untuk mengantisipasi Omicron. Jadi dipastikan stoknya masih ada,” ujar Menkes.

Meski jumlah populasi yang mendapatkan vaksinasi Covid-19 terus meningkat, Menkes mengingatkan bahwa ancaman penularan COVID-19 masih ada disekitar masyarakat. Vaksinasi harus terus berjalan untuk mempercepat tercapaianya herd population dan protokol kesehatan 5M harus benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk memberikan perlindungan yang optimal.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat