Pegawai Bank Syariah Indonesia (BSI) Kantor Cabang Mayestik menjelaskan fitur gadai dan cicil emas di BSI Mobile kepada nasabah pemilik toko emas pada kegiatan Grebek Pasar BSI di Pasar Mayestik, Jakarta, beberapa waktu lalu. | ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/hp.

Ekonomi

15 Jan 2022, 00:05 WIB

Teknologi Tepat Guna untuk Bank Syariah

Ini bukan tentang menerapkan teknologi tercanggih, melainkan yang ternyaman.

Teknologi telah menjadi senjata perbankan syariah menjalankan maqasid syariah. Kekuatannya mampu memperluas akses dan jangkauan, mempermudah transaksi keuangan, dan membawa manfaat lebih besar bagi masyarakat luas.

Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Hery Gunardi menyampaikan, transformasi digital adalah inti dari arah pengembangan BSI untuk bisa bersanding dengan jajaran bank syariah kelas dunia. Inisiatif digital BSI diarahkan pada konsep bionic banking yang merupakan pengembangan layanan perbankan dengan mengalihkan beberapa layanan ke ranah digital, terutama pada BSI Mobile.

"Meski, keberadaan cabang masih tetap berperan untuk layanan yang lebih kompleks," kata Hery, beberapa waktu lalu.

Ini membuat BSI harus menggenjot kapasitas Mobile Banking BSI agar multitalenta. Hery mengatakan, BSI Mobile akan menjadi superapps yang tidak hanya menyediakan layanan transaksi perbankan, tapi juga menjadi sumber gaya hidup Muslim, termasuk jadwal shalat, hingga informasi ketersediaan tempat shalat terdekat.

Upaya menggenjot kelengkapan layanan dalam satu aplikasi ini telah berhasil membuat volume transaksi kanal digital naik signifikan. Periode September 2021 mencatat transaksi BSI Mobile tumbuh sebesar 132,8 persen secara tahunan atau mencapai 74,2 juta transaksi.

photo
Nasabah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mengakses aplikasi BSI Mobile di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (1/11/2021). BSI menghadirkan layanan pembiayaan Mitraguna Online melalui aplikasi BSI Mobile guna meningkatkan layanan keuangan syariah bagi masyarakat dengan menargetkan jumlah pembiayaan Mitraguna Online tersebut sebesar Rp5 triliun hingga Desember 2021. - (ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/wsj.)

Pakar marketing yang juga Managing Partner Inventure Yuswohady mengatakan, pamor digital tidak terlepas dari peran milenial yang disebutnya momentum millenial megashift. Gaya hidup yang serbapraktis dan pesat membuat digital menjadi syarat utama adopsi sebuah layanan, termasuk perbankan.

"Keberadaan milenial setidaknya mengubah lima hal penting yang bisa dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan," kata dia.

Lima hal tersebut dirangkum dalam 5S, yakni spiritual, safety, screen, self-expression, and social. Yuswohady mengatakan, millenial megashift ini diperkuat dan semakin diperjelas oleh adanya pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak tahun lalu.

Teknologi juga dapat menjadi cara agar perbankan syariah bisa lebih dikenal masyarakat. Ia meyakini, bank syariah bisa lepas dari jebakan marketshare rendah dengan bantuan teknologi.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PT Bank Syariah Indonesia Tbk (@banksyariahindonesia)

 

Merangkul kelas bawah

Dari sisi model bisnis, teknologi juga telah dimanfaatkan dengan baik oleh PT Bank BTPN Syariah Tbk melalui cara yang berbeda. Pengembangan digitalisasi tidak berfokus pada nasabah, tapi juga bankir pemberdaya yang melayani nasabah.

BTPN Syariah terus mengembangkan teknologi yang sesuai untuk target pasar di segmen ultramikro. Business Development Head BTPN Syariah Ade Fauzan mengatakan, sejak 2015, BTPN Syariah banyak belajar bahwa teknologi untuk kalangan ultramikro tidak bisa disamakan dengan nasabah-nasabah perkotaan.

Ade mengatakan, butuh waktu dan adaptasi agar pengembangan teknologi bisa secara tepat memenuhi kebutuhan golongan prasejahtera dan ultramikro. BTPN Syariah menyebutnya teknologi untuk kebaikan karena mempertimbangkan kondisi operasional di lapangan.

"Tidak mudah karena kondisi mereka berbeda, akses internet masih terbatas, perilakunya juga beda, yang biasanya satu ponsel untuk satu keluarga, mereka juga sulit menghafal password, dan lainnya," kata Ade menjelaskan.

Teknologi mobile banking untuk nasabah tersebut jelas bukan jawaban. Karena itu, BTPN Syariah fokus pada bankir pemberdaya dan Mitra Tepat yang juga merupakan nasabah. BTPN Syariah meluncurkan aplikasi Terra untuk operasional bankir pemberdaya.

photo
Karyawan melayani nasabah di kantor pusat Bank Muamalat, Jakarta, Jumat (19/11). - (Prayogi/Republika.)

"Kita sudah luncurkan digunakan di tablet bankir pemberdaya, seluruh proses transaksi yang mereka lakukan dengan nasabah, mulai dari fitur pelatihan, akuisisi, pembayaran angsuran, semuanya sudah ada di sana," kata dia.

BTPN Syariah juga melengkapi layanan yang dapat diberikan oleh Mitra Tepat. Yakni, melakukan pemesanan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang disediakan oleh partner strategis BTPN Syariah, termasuk pengurusan logistiknya.

Ade mengatakan, BTPN Syariah berkomitmen terus meningkatkan inisiatif dalam membantu menyediakan kebutuhan yang sesuai. Menurutnya, ini bukan tentang menerapkan teknologi tercanggih, tapi membuat nasabah, mitra, dan bankir pemberdaya nyaman dengan layanan bank. BTPN Syariah mencatat jumlah bankir pemberdaya sebesar 12 ribu orang dan total nasabah sekitar empat juta orang.

photo
Nasabah mengecek produk sebelum melakukan transaksi di kantor pusat Bank Muamalat, Jakarta, Jumat (19/11). - (Prayogi/Republika.)

Ketua Dewan Pakar Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) yang juga Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga mengatakan, transformasi digital dan pembangunan ekosistem digital syariah sangat mutlak diperlukan. "Indonesia dalam keadaan mendesak untuk merealisasikan potensi yang selama ini hanya bisa digembar-gemborkan dan dibanggakan," kata Perry.

Perlu kolaborasi dan sinergi yang intensif antara sektor keuangan syariah komersial dengan sosial, mendesain digitalisasinya agar proses penghimpunan dan penyaluran jadi lebih efektif. Pengembangan ekosistem tersebut tentu perlu dilakukan secara berjamaah agar dapat mendorong kesejahteraan secara berkelanjutan bagi umat.

"Indonesia jelas punya bahan bakar utama untuk mencapainya," ujar Perry.

 

 

Secara peluang, asuransi syariah ke depan masih akan terus tumbuh karena risiko atau ketidakpastian masih tetap ada.

 

PERRY WARJIYO
 

 

Memelihara Kedekatan Emosi dengan Nasabah

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) berjuang dengan caranya sendiri di tengah pesatnya pergerakan era teknologi. Satu fakta yang dihadapi BPRS adalah tidak semua masyarakat Indonesia masuk kategori digital savvy.

Pada 2020 lalu Bank Indonesia (BI) menyebut, ada 91,3 juta orang belum tersentuh layanan finansial. Selain masyarakat unbanked tersebut, sebanyak 62,9 juta pelaku UMKM belum terkoneksi dengan fasilitas pembiayaan.

Direktur BPRS Suriyah Cilacap Ahmad Mujahid mengatakan, BPRS punya khitah sendiri. Di daerah, masih banyak masyarakat yang kurang familier dengan teknologi. Mereka juga tidak punya banyak waktu untuk mengutak-atik aplikasi keuangan.

"Mereka ya maunya bertemu langsung, transaksi langsung, ada interaksinya," kata Mujahid kepada Republika.

Di masa pandemi, mayoritas nasabah juga masih datang ke kantor BPRS atau BPRS yang menjemput bola. Adanya ikatan sosial dan emosional itulah yang selama ini terus menjadi pendorong kinerja BPRS.

photo
Pegawai Bank Syariah Indonesia (BSI) Kantor Cabang Mayestik menjelaskan fitur gadai dan cicil emas di BSI Mobile Banking kepada nasabah pemilik toko emas pada kegiatan Grebek Pasar BSI di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan, Rabu (15/12/2012). - (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/hp.)

Mujahid mengatakan, kinerja BPRS Suriyah Cilacap pada 2021 hingga Oktober telah mencapai rata-rata lebih dari 100 persen target. Aset tumbuh 12,44 persen menjadi Rp 28,7 miliar, penyaluran dana tumbuh 15,28 persen menjadi Rp 29,7 miliar. Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 14,6 persen menjadi Rp 29,7 persen dan laba naik 53,42 persen menjadi Rp 1,7 miliar.

Meski demikian, Mujahid mengatakan, BPRS juga tidak bisa menjauh dari inovasi teknologi. Apalagi, jika keberadaannya akan memudahkan para nasabah. Menurut dia, meski BPRS Suriyah belum memiliki kerja sama konkret dengan perusahaan-perusahaan teknologi finansial atau fintech, ia akan selalu terbuka.

Ketua Kompartemen BPRS Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Cahyo Kartiko menyampaikan, teknologi memang salah satu upaya menjaga daya saing. Namun, industri BPRS tetap harus menjaga dan menunjukkan identitas serta keunggulan-keunggulan yang dimiliki. Seperti penerapan prinsip syariah dalam kegiatan operasional produk maupun aktivitas.

"Ada kedekatan dengan nasabah, dibarengi kecepatan layanan dan kemudahan dalam pelayanan," kata Cahyo.

Cahyo menjelaskan, performa BPRS pada kuartal III 2021 ini cukup menggembirakan meski masih dilanda pandemi sekaligus memasuki masa normalisasi. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, secara nasional, aset BPRS tercatat tumbuh 12,0 persen menjadi Rp 15,73 triliun. Pembiayaan yang diberikan tumbuh 6,2 persen menjadi Rp 11,25 triliun dan DPK juga tumbuh 17,85 persen menjadi Rp 10,70 triliun.

bank

photo
Pembeli membayar pesanan dengan memindai QRISpeluncuran usaha Mauthai di Ujung Gurun, Padang, Sumatera Barat, Jumat (10/12/2021). - (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Gandeng fintech

Untuk selalu relevan dengan perkembangan zaman, beberapa BPRS juga telah bekerja sama dengan fintech. Kompartemen BPRS Asbisindo juga telah meresmikan kerja sama dengan Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) pada November 2021.

Ketua AFSI Ronald Wijaya menambahkan, kolaborasi fintech dengan perbankan memang telah menjadi opsi yang bisa signifikan membantu pertumbuhan. Bergerak bersama juga menjadi cara paling efektif agar industri ekonomi syariah bisa membesar.

Ronald mengatakan, kolaborasi fintech dan bank yang marak saat ini dilakukan adalah channeling atau sebagai kanal pembiayaan. Ini juga merupakan kolaborasi yang paling sederhana.

photo
Warga mencoba mengakses salah satu fintech syariah di Jakarta, Ahad (15/3). Prayogi/Republika. - ( Prayogi/Republika.)

Selain kolaborasi, fintech dan BPRS juga bisa memiliki hubungan investasi. Seperti yang dilakukan PT Alami Fintek Sharia saat membeli sebuah BPRS.

Pada kuartal I 2021 lalu, Alami mengakuisisi BPRS Cempaka Al Amin yang berlokasi di Jakarta. Dalam proses akuisisi tersebut, Alami telah melakukan penambahan modal Rp 50 miliar.

CEO Alami Dima Djani mengatakan, Alami memoles BPRS tersebut dengan penerapan teknologi untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan profesionalisme layanan. Alami menjadikannya bank digital bernama Hijra setelah melakukan revisi teknologi.

"Kami akan bantu digitalisasi sesuai dengan misi OJK untuk digitalisasi BPRS," kata Dima.


×