Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Vaksin Covid-19 tersebut dikembangkan bersama Lembaga Eijkman. | Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Nasional

04 Jan 2022, 03:45 WIB

Pengembangan Vaksin Merah Putih Dikhawatirkan

Peleburan Eijkman dinilai bisa menghambat pengembangan vaksin Merah Putih.

JAKARTA—Peleburan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memunculkan kekhawatiran nasib pengembangan vaksin Merah Putih untuk Covid-19. Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR yang juga anggota Komisi VII Mulyanto menilai peleburan Eijkman bisa menghambat pengembangan vaksin Merah Putih.

Mulyanto menuturkan, tidak mudah mencari pengganti para peneliti vaksin Merah Putih dalam waktu singkat. Begitu pula posisi laboratorium yang strategis, sehingga akses kepada sampel, bahan, alat, dan sumber daya manusia (SDM) medis sangat mudah. "Ini akan membuat jadwal produksi vaksin Merah Putih Eijkman semakin molor," ujar Mulyanto, Senin (3/1).

Perubahan kelembagaan LBM Eijkman membuat pengembangan vaksin Merah Putih ini menjadi semakin tidak menentu nasibnya. Karenanya, pemerintah harus segera menjelaskan duduk-perkara soal ini kepada publik. "Agar harapan publik terhadap produksi vaksin Merah Putih dari LBM Eijkman ini tidak sekedar menjadi pepesan kosong," ujar Mulyanto.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Eddy Soeparno meminta Eijkman menuntaskan pengembangan vaksin Merah Putih. Peleburannya ke BRIN diharapkannya tak mengganggu pengembangannya selama ini.

"Jangan sampai peleburan itu mengebiri dan mengerdilkan rencana lembaga Eijkman dalam mengembangkan riset-riset biomolekuler yang selama ini dikembangkan," ujar Eddy saat dihubungi, Senin (3/1).

Komisi VII akan menjadikan pengembangan vaksin tersebut sebagai acuan berhasil atau tidaknya peleburan. "Mudah-mudahan peleburan ini justru akan menguatkan kelembagaan Eijkman dan percepat proses produksi vaksin dalam negeri," ujar Eddy.

Komisi VII DPR juga akan terus meminta laporan kerja BRIN terkait lembaga dan unit di bawahnya, termasuk LBM Eijkman. Mulai dari penyerapan anggaran dan hasil dari penggunaan anggaran tersebut.

"Perhatian khusus memang kita berikan ke Eijkman, karena dari merebaknya Covid-19 telah dapat penugasan untuk pengembangan vaksin Merah Putih. Jadi tidak boleh ada kemacetan dan pengembangan untuk vaksin dalam negeri," ujar Eddy.

Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga mengingatkan agar persoalan sumber daya manusia peneliti tidak menjadi masalah dalam proses peleburan ini. Eddy menyarankan BRIN melakukan integrasi seluruh unit kerja dalam proses peleburan sejumlah lembaga. Ia tak ingin ada anggapan bahwa para peneliti justru tak mendapatkan tempat di dalam negeri dalam proses peleburan LBM Eijkman.

"Jangan sampai tenaga-tenaga peneliti yang sudah dididik, sudah memiliki pengalaman dalam memiliki penelitian, sudah melakukan uji akademis terhadap beberapa penelitian itu kemudian tidak mendapatkan tempat," ujar Eddy.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Wien Kusharyoto menegaskan, peleburan Eijkman ke BRIN tak mengganggu pengembangan vaksin Merah Putih. Ia memastikan riset vaksin Merah Putih yang dikembangkan Eijkman tetap dilanjutkan. Meskipun, dalam proses peleburan ini, ada 71 peneliti honorer yang tidak diperpanjang kontraknya. "Vaksin Merah Putih masih berjalan," tegasnya.

Ia mengakui, ada ratusan tenaga honorer dan pegawai pemerintah non-pegawai negeri (PPNPN) yang diberhentikan kontraknya akibat peleburan ini. "Ada 113 tenaga honorer dan PPNPN (yang dinonaktifkan), 71 di antaranya staf peneliti," ujar Wien.

Ketua Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio sebelumnya mengungkapkan, saat ini proses pengembangan vaksin Merah Putih oleh Eijkman sedang dalam tahap transisi dari proses penelitian dan pengembangan ke industri. "Saat ini masih dalam proses transisi ke Industri," kata Amin kepada Republika, Kamis (2/9).

photo
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). - (Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO)

Vaksin Merah Putih merupakan vaksin karya para peneliti di Indonesia yang dikembangkan dari tahap awal mulai dari pengembangan seed vaksin baru hingga proses formulasi dan pengisian (filling). Amin menerangkan, pihaknya sudah menyelesaikan 90 persen lebih fase research and development.

Ia berharap, proses uji klinis dapat mulai dilakukan akhir tahun ini atau pada awal tahun 2022. "Diharapkan pertengahan tahun 2022 mendapat Emergency Use Authorization (EUA). Proses saat ini adalah scaling up, optimasi, dan peningkatan yield," kata dia September 2021 lalu.

Rencananya, lembaga Eijkman dan Biofarma akan mengadakan uji praklinik. Belum ada informasi bagaimana nasib pengembangan vaksin tersebut dengan kondisi terkini. 


×