Adiwarman A Karim | Daan Yahya | Republika

Analisis

03 Jan 2022, 03:37 WIB

Man Yujaddidu Laha

Sesungguhnya Allah akan menurunkan seorang man yudaddidu laha pada setiap permulaan 100 tahun.

OLEH ADIWARMAN A KARIM

Tom Orlik, Maeva Cousin, Enda Curran, para ekonom Bloomberg, dalam artikel mereka “What Could Possibly Go Wrong?” mengutip Bloomberg Economics tentang Risk Rankings, menempatkan Indonesia pada zona hijau muda dengan nilai 7,8. Lebih tinggi dari risiko Taiwan 6,0, Rusia 5,2, dan Saudi 4,5 pada zona hijau.

Dibandingkan dengan banyak negara lain, Indonesia memiliki tingkat risiko yang relatif rendah. Vulnerability Ranking Bloomberg ini menggunakan kriteria Current Account, External Debt, Reserve Coverage, Real Policy Rate, dan Governance.

Katharina Buchholz, peneliti Statista, dalam artikelnya “China could overtake the US as the world’s largest economy by 2024” menggunakan data Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi negara-negara Asia akan mendominasi ekonomi dunia pada 2024. Cina akan menjadi negara terbesar ekonominya, Amerika Serikat di tempat kedua, India di tempat ketiga, Jepang di ranking keempat, Indonesia peringkat kelima, dan Rusia di tempat keenam.

Melemahnya Eropa dan menguatnya Asia tidak terlepas dari menuanya populasi Eropa. Jumlah populasi muda yang memasuki perguruan tinggi menurun. Universitas-universitas terbaik Eropa dan AS dibanjiri oleh mahasiswa-mahasiswa Asia. Kualitas pendidikan meningkat. Kepercayaan diri tampil di kancah global menebal. Jiwa inferior sebagai negara kelas dua menghilang. Besarnya populasi pengguna media sosial juga membuka mata dunia akan kekuatan Indonesia.

Kemajuan teknologi yang membuka kesetaraan akses informasi menjadi salah satu faktor menebalnya percaya diri. Pada 1980-an, jurnal-jurnal luar negeri terbaru terlambat sampai dua tahun baru tersedia di perpustakaan universitas-universitas Indonesia. Pada era itu jumlah mahasiswa Indonesia di universitas terbaik di luar negeri sangat sedikit.

Caitlin Byrne, peneliti Griffith University, dalam artikelnya “All eyes turn to Indonesia as it takes on the 2022 G20 presidency” menjelaskan rivalitas Cina dan AS telah menempatkan Indonesia pada posisi yang strategis sebagai penyeimbang. Mengutip Ben Bland, peneliti Lowy Institute, Byrne menguatkan opini besarnya harapan dunia Barat, dari Washington sampai Canberra, kepada Indonesia untuk memainkan peran yang lebih besar, lebih konstruktif dalam kancah global.

 
Rivalitas Cina dan AS telah menempatkan Indonesia pada posisi yang strategis sebagai penyeimbang.
 
 

Kemajuan Asia tidak terlepas dari kemajuan Cina sebagai lokomotifnya. Global Times dalam artikelnya “China’s imports, exports rebound above pre-virus levels in Jan-Oct, but pressure persists” mencatat dalam sepuluh bulan tahun 2021, mitra dagang terbesar Cina adalah ASEAN dengan nilai 703 miliar dolar AS. Uni Eropa di tempat kedua dengan nilai 670 miliar dolar AS. Dan AS di posisi ketiga dengan nilai 609 miliar dolar AS.

Teuku Riefky dan Faradina Maizar, ekonom Universitas Indonesia, dalam artikel mereka “Indonesia’s Strategic Role as Host of G20 2022” menyampaikan harapan agar Indonesia dapat menyuarakan aspirasi negara-negara berkembang. Mendorong tercapainya konsensus untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Ini tantangan bagi Indonesia untuk mewarnai makna inklusif dan berkelanjutan dengan nilai-nilai Islam.

United Nations Sustainable Development Group menjabarkan tiga nilai-nilai universal. Pertama, pendekatan hak asasi manusia. Kedua, leave no one behind, tidak ada satu orang pun yang tersingkirkan. Ketiga, kesetaraan gender dan pemberdayaan wanita.

Bila Indonesia tidak aktif mewarnai nilai-nilai universal ini dengan nilai-nilai Islam dan budaya luhur Indonesia, maka nilai-nilai UN ini tidak akan universal secara utuh. Universal dengan bolong besar tanpa Islam, tanpa Indonesia.

 
Fenomena menarik akhir-akhir ini menunjukkan semakin besarnya peran Indonesia di dunia Islam dalam kancah global.
 
 

Fenomena menarik akhir-akhir ini menunjukkan semakin besarnya peran Indonesia di dunia Islam dalam kancah global. Berdirinya masjid-masjid Indonesia di luar negeri yang dibiayai oleh masyarakat Indonesia di Tanah Air. Beberapa bulan yang lalu di Toronto Kanada, pekan lalu di Osaka Jepang. Ini menunjukkan dua hal.

Pertama, diaspora Indonesia di luar negeri semakin kuat. Kedua, hubungan diaspora dengan masyarakat di Tanah Air semakin kuat.

Yasmine Farouk, periset Carnegie Endowment for International Peace; dan Nathan Brown, profesor George Washington University, dalam artikel mereka “Saudi Arabia’s Religious Reforms Are Touching Nothing but Changing Everything” mengkaji reformasi pemahaman Islam di Saudi. Ketika Saudi dengan pemahaman Islam ultrakonservatif mulai membuka diri terhadap ide-ide baru dari Barat, Indonesia malah mengkristal pencarian pemahaman Islam yang lentur.

Kanalisasi energi umat Islam Indonesia ke arah ekonomi syariah mulai menampakkan hasil. Kemajuan ekonomi umat Islam Indonesia secara langsung bermakna kemajuan ekonomi Indonesia. Dengan kekuatan ekonomi ini, umat Islam dapat mewarnai perekonomian Indonesia dengan nilai-nilai Islam. Dengan kekuatan ekonomi ini pula Indonesia dapat mewarnai perekonomian dunia dengan nilai-nilai Islam.

Bicara ekonomi syariah tanpa memiliki kekuatan ekonomi ibarat orang miskin mengajarkan cara menjadi kaya kepada orang kaya. Ketika Indonesia berada pada peringkat 16 negara G-20 bicara tentang ekonomi syariah, dampaknya akan jauh berbeda ketika Indonesia di peringkat kelima pada 2024.

Ma la yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib.

Diskursus ideologis yang berisi keluhan atas dominasi kekuatan non-Islam yang sebenarnya juga bermakna ketidakberdayaan umat Islam dalam realitas kehidupan ekonomi, berganti dengan diskursus optimisme kemajuan ekonomi syariah dan ekonomi Indonesia.

Ketimpangan ekonomi yang dibalut kemarahan ideologis, mulai diurai dengan aksi nyata membangun ekonomi umat. Menjawab fitnah dengan kelapangan hati, kejernihan pikiran, dan kesungguhan ikhtiar.

 
Kemajuan ekonomi yang dibangun dengan ketegaran iman dan kemuliaan akhlak.
 
 

Kemajuan ekonomi yang dibangun dengan ketegaran iman dan kemuliaan akhlak. Ketinggian akhlak yang mengubah kemarahan terpendam menjadi pembuktian kebenaran melalui kebajikan.

Menjawab celaan dan hinaan dengan karya nyata yang membanggakan Indonesia. “Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan.”

Biarlah Allah yang menghinakan orang yang terhina. Rasulullah SAW bersabda, “Agama ini akan menyebar sejauh jarak yang dicapai malam dan siang, dengan kemulian orang yang mulia dan kehinaan orang yang terhina.”

Biarlah Allah memberi kemuliaan kepada pembawa kegemilangan. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah akan menurunkan seorang --man yudaddidu laha-- pada setiap permulaan 100 tahun yang akan mengembalikan kegemilangan agama mereka.”


×