Ulama menyampaikan dakwah secara virtual di Masjid Raya Bandung, Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Senin (27/4/2021). | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA

Opini

28 Dec 2021, 03:50 WIB

Disrupsi Dakwah

Disrupsi mulai merambah ke banyak hal, termasuk dakwah dan keumatan.

IPANG WAHID, Pendiri Tebuireng Initiatives

Dini hari itu saya dan Gus Yahya Staquf duduk santai bersebelahan di sofa besar baris terdepan yang menghadap ke panggung utama Muktamar NU Ke-34 di Aula Gedung Serbaguna Universitas Lampung. Di panggung, tampak para muktamirin sedang bergilir secara tertib memberikan suaranya untuk calon ketua umum PBNU. Sambil menahan kantuk, saya mencoba untuk memulai pembicaraan dengan beliau.

“Gus, saya tahu, panjenengan kan salah satu visi utamanya adalah 'menghidupkan kembali Gus Dur'. Paling tidak, itu yang selalu saya baca saat njenengan sampaikan kepada PWNU dan  PCNU se-Indonesia kalau ingin NU sebagai organisasi ini sungguh-sungguh bisa berfungsi dan dirasakan kehadirannya.”

Gus Yahya yang berusaha untuk tidak tertidur menoleh ke saya. “Lalu?” jawabnya ringkas. Maklum, waktu menunjukkan pukul 04.00. Saya lalu terus mencerocos. Dua kata “dirasakan kehadirannya” inilah yang menggelitik saya untuk sotoy nan lancang mencoba melengkapi gagasan menarik Gus Yahya tersebut.

Saya mulai dari perjalanan satu abad NU dan tantangan nyata ke depannya. Sebuah tantangan pada era yang sangat penting, saat disrupsi mulai merambah ke banyak hal, termasuk dakwah dan keumatan. Saya bilang ke Gus Yahya, “Gus, seperti panjenengan tahu, kan tantangan NU ke depan, bukan saja sebatas berorganisasi, dakwah, dan pendidikan saja. Tapi juga tak kalah penting adalah bagaimana NU bisa ambil peran dalam disrupsi dakwah dan kemandirian pesantren. Khususnya di bidang ekonomi.”

Dalam pemikiran saya, disrupsi dalam dakwah adalah bagaimana kita bisa menyertakan warga NU dalam transformasi digital sehingga efektivitas dari dakwah akan semakin optimal. Bukan saja bagaimana kita bisa membumikan bahasa ‘dakwah’ menjadi lebih cair sehingga mudah diterima dan diaplikasikan dalam keseharian, melainkan juga sekaligus bagaimana amplifikasi dari ‘tebaran kebaikan’ tersebut bisa tersebar kepada target audience yang dituju, dengan optimalisasi ala digital marketing kekinian.

 
Tantangan berikutnya yang juga penting adalah memberdayakan pesantren, sehingga lulusannya memiliki keahlian tambahan melengkapi ilmu agamanya.
 
 

Tantangan berikutnya yang juga penting adalah memberdayakan pesantren, sehingga lulusannya memiliki keahlian tambahan melengkapi ilmu agamanya. “Santri plus plus!”, begitu bahasa saya ke Gus Yahya. Karena itulah menjadi sangat penting menyuntikkan energi vokasi di pesantren.

Pilihannya pun bisa beragam. Tinggal pilih, mau berbasis pertanian, kelautan, kuliner, fashion, kreasi konten audio visual, manajemen bisnis, hingga aplikasi dan games sekalipun.

Dengan begitu, lulusan pesantren akan makin siap dan percaya diri dalam menghadapi tantangan ke depan. Termasuk di dalamnya tentu saja mulai memberikan pemahaman tentang block chain, crypto currency, financial engineering, robot, dan forex/gold trading. Terlepas kontroversi halal dan haramnya, keuangan digital itu sudah di depan mata.

“Milenial sekarang ketertarikannya sangat tinggi dengan hal-hal di atas. Dan bicara milenial Indonesia pasti di dalamnya ada milenial NU,” lanjut saya. Cepat atau lambat, kita akan berhadapan dengan dunia itu semua. Daripada kita gagap, lebih baik kita persiapkan dengan matang. Begitu kira-kira dalam benak saya.”

“Yang terakhir, Gus”, kata saya menutup diskusi, “Adalah bagaimana kita membuat anak muda makin mengenal Nahdlatul Ulama.”

 
Memang, kini Gus Yahya menjadi magnet bagi banyak orang. Bukan saja ingin mendekat, melainkan juga ingin bersama membesarkan NU yang kita cintai bersama.
 
 

Buat saya ini penting, karena ini bukan perkara NU yang mau menjadi narsis atau mengenalkan anak muda dengan kitab kuning semata. Tetapi yang tak kalah penting adalah ajaran kebangsaan ala NU yang telah terbukti efektif membuat bumi pertiwi adem ayem selama hampir 80 tahun republik ini berdiri.

Tiga value NU, Tawassuth (sikap tengah-tengah, tidak ekstrem kiri ataupun ekstrem kanan), Tawazun (seimbang dalam segala hal), dan Tasamuh (toleransi, menghargai perbedaan) adalah bukti value berkebangsaan yang sudah teruji. Contoh paling simpel adalah bagaimana saat maestro musik Addie MS membuat versi orkestra dari Ya Lal Wathon ciptaan KH Wahab Hasbullah dengan berkolaborasi dengan Macedonia Symphony.

Dengan menghadirkan musik kelas ‘atas’ di panggung NU, mendadak membuat euforia kebangsaan melalui marsnya wong NU tersebut menjadi terlahir kembali. Gus Yahya yang sedari tadi hanya sesekali menimpali dan sisanya mendengarkan saya yang sibuk nyerocos, kemudian berujar singkat: “Sampean ojok ngomong wae…ndang diwujudkan! Karena itu, sejalan dengan pemikiran saya”.

Diskusi terpaksa harus diakhiri saat saya ‘dicolek halus’ oleh ajudan kiai sepuh yang ingin kiainya duduk di sebelah Gus Yahya. Saya pun lalu mlipir pergi.

Memang, kini Gus Yahya menjadi magnet bagi banyak orang. Bukan saja ingin mendekat, melainkan juga ingin bersama membesarkan NU yang kita cintai bersama.

Semoga, dengan terpilihnya KH Miftahul Ahyar sebagai rais aam dan Gus Yahya sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada Muktamar Ke-34 Bandar Lampung dapat membawa NU lebih maju.  ';

×