Pengurus PP Muhammadiyah mengikuti vaksinasi Covid-19 Pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah di Gedung PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Selasa (9/3). Jajaran pimpinan, ketua majelis-lembaga, serta karyawan PP Muhammadiyah dan Aisyiyah mengikuti vaksinasi Covid-19 | Wihdan Hidayat / Republika

Khazanah

21 Dec 2021, 09:56 WIB

Aisyiyah: Perempuan Berperan Strategis di Masa Pandemi

Aisyiyah mencatat, kekerasan terhadap perempuan terus meningkat yang salah satu pemicunya yakni ekonomi.

YOGYAKARTA – Perempuan memiliki peran strategis di masa pandemi Covid-19, terutama dalam hal ketahanan ekonomi keluarga. Di saat kemiskinan meningkat akibat banyaknya masyarakat yang terdampak pandemi, perempuan justru menjadi sosok penting dalam menyangga ekonomi keluarga.

Menurut Ketua Bidang Ekonomi PP Aisyiyah, Latifah Iskandar, ada 36 persen perempuan Indonesia yang menjadi penyangga ekonomi keluarga selama pandemi. Angka ini terbilang cukup tinggi, mengingat banyaknya kaum laki-laki yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi.

"Sebanyak 36 persen (perempuan yang menjadi penyanga ekonomi keluarga) itu di sektor informal," kata Latifah dalam talkshow virtual bertema “Peran Perempuan dalam Penguatan Ekonomi di Masa Pandemi” yang digelar Republika, Senin (20/12).

Tak hanya menyangga ekonomi keluarga, perempuan juga harus membagi waktunya dengan hal lain, seperti mengurus rumah dan mendampingi anak belajar. Apalagi, pada masa pandemi pembelajaran dilakukan secara jarak jauh (daring), sehingga anak sangat butuh pendampingan dari orang tua.

Latifah juga menyebut, terjadi pula peningkatan jumlah perempuan yang menjadi kepala keluarga akibat pandemi. Hal ini dikarenakan banyak perempuan yang suaminya meninggal akibat terpapar Covid-19.

Menurut Latifah, perempuan yang menjadi kepala keluarga meningkat hingga 55 persen selama pandemi. Dalam hal ini, terlihat jelas peran perempuan yang sangat sentral dalam ketahanan keluarga.

"Perempuan memiliki peran penting untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Di era Covid-19 timbul masalah ekonomi, kesehatan, sosial hingga pendidikan,” katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pimpinan Pusat 'Aisyiyah (aisyiyahpusat)

Di bidang kesehatan, juga terbukti bahwa perempuan berkontribusi banyak dalam penanganan pandemi. Data menunjukkan, sebanyak 70 persen tenaga kesehatan yang merawat pasien Covid-19 merupakan perempuan.

Di tengah perannya yang sentral, mirisnya masih ada perempuan yang mengalami kekerasan. Selama pandemi, kata dia, Aisyiyah mencatat, kekerasan terus meningkat yang salah satu pemicunya yakni ekonomi.

Organisasi perempuan Islam terbesar di Indonesia itu juga melakukan upaya pendampingan bagi perempuan yang mengalami kekerasan. Termasuk bantuan hukum kepada perempuan korban kekerasan.

“(Perempuan jadi korban kekerasan) Karena suaminya banyak yang kehilangan pekerjaan. Saya pernah wawancara langsung, ternyata suaminya di-PHK dari Kalimantan dan di sini (di Yogya) mau kerja bingung, masih bawa uang tetapi bertahannya hanya berapa lama," ujar dia.

Dalam pandangan Latifah, permasalahan ini harus menjadi perhatian bersama. Tidak hanya menjadi perhatian kaum perempuan saja, tetapi pemerintah dan masyarakat luas juga diharapkan memberikan perhatian yang lebih dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan.

"Harus ditangani bersama-sama, taawun dalam kebaikan. Mengatasinya harus ada pihak lain, orang ketiga yang membantu seperti kekuatan internal ketetanggaan, harus baik dan saling peduli. Mudah-mudahan semangat untuk gotong royong dan silaturahim tetap ada, walaupun dari rumah," kata Latifah.

Taawun juga dinilai menjadi modal sosial yang penting dalam menghadapi berbagai permasalahan akibat pandemi. Aisyiyah, kata dia, juga terus mendorong gerakan taawun, terutama di masa pandemi. Melalui gerakan ini, diharapkan permasalahan yang masih terus terjadi dapat diselesaikan dengan kontribusi dari berbagai pihak. 

';

×