Ketua Umum Wahdah Islamiyah Zaitun Rasmin. | Republika/ Wihdan Hidayat

Nasional

21 Dec 2021, 03:45 WIB

Wahdah Islamiyah Turut Wujudkan Indonesia Emas 2045

Wahdah Islamiyah menargetkan eksistensi di lebih dari 400 kabupaten atau kota se-Indonesia.

JAKARTA – Ketua Umum Wahdah Islamiyah Zaitun Rasmin mengatakan, Muktamar IV merupakan menjadi kontribusi untuk mengantarkan Indonesia pada visi Emas 2045. Wahdah Islamiyah akan mengawali kontribusi itu dengan keyakinan segala kesulitan dengan cepat terlewati meski Indonesia sedang dilanda berbagai persoalan.

Zaitun mengatakan, keyakinan itu menjadi inspirasi dan motivasi untuk berbuat, berkarya, dan bekerja keras. “Keyakinan ini akan mengundang rahmat dan pertolongan Allah SWT,” ujar Zaitun, dalam saran pers yang diterima Republika, Senin (20/12). 

“Muktamar ini akan menjadi landasan gerak dan amal saleh ke arah sana, dimulai dengan pencapaian Visi Wahdah Islamiyah 2030,” kata Zaitun. 

Wahdah Islamiyah menargetkan eksistensi di lebih dari 400 kabupaten atau kota se-Indonesia. Zaitun mengatakan, target ini diwujudkan diantaranya dengan sejumlah langkah diantaranya mendirikan sekolah, pesantren, klinik, lembaga zakat, Wahdah Peduli, dan semua yang dibutuhkan untuk layanan masyarakat.

Secara khusus, Zaitun menyampaikan bahwa Wahdah Islamiyah juga akan melakukan penguatan di bidang ekonomi. Ia mengatakan, core business organisasi ini adalah sebagai lembaga dakwah tetap dalam bidang dakwah, pendidikan, dan sosial. “Namun di Muktamar IV ini kita coba untuk lebih jauh melangkah menjangkau sisi ekonomi. Wahdah akan mencanangkan program Satu Rumah Satu Pengusaha,” jelas Zaitun.

Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) sedang menggelar Mukhtamar ke-IV bertema 'Mewujudkan Indonesia Jaya dengan Pendidikan Paripurna dalam Wasatiyah Islam' pada 19-22 Desember 2021. Ada empat agenda utama yang dibahas dalam Muktamar ke-IV ini.

Pertama, laporan pertanggungjawaban pengurus Wahdah Islamiyah periode 2016-2021. Kedua, pemilihan kepengurusan Wahdah Islamiyah periode 2022-2026. 

Ketiga, pembahasan materi-materi Muktamar yang terdiri dari 12 kelompok kerja (pokja) di antaranya membahas isu ekonomi. Agenda keempat, yakni membuat rekomendasi terkait rencana strategis lima tahun mendatang. 

Pada pembukaan Ahad (19/12), Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengingatkan pentingnya Pancasila. "Pancasila lahir berdasarkan kesepakatan para pendiri bangsa. Karena itu, saya menamakan Pancasila itu sebagai kesepakatan nasional yang menjadi titik temu di antara kita semua bangsa dan ini harus dijaga," ujar Ma’ruf.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan berharap Wahdah Islamiyah bisa berperan mewarnai dunia pendidikan dengan menyiapkan materi-materi pendidikan bagi orang tua. Hal itu disampaikannya saat memberi pengarahan pada Grand Opening Muktamar ke-IV Wahdah Islamiyah yang berlangsung secara virtual pada Ahad (19/12).

"Kalau boleh kami menganjurkan salah satu area di mana Wahdah Islamiyah bisa berperan adalah dengan menyiapkan materi-materi pendidikan bagi orang tua, bukan pendidikan untuk anak di rumah tapi pendidikan terhadap pembekalan untuk orang tua," kata Anies dalam siaran pers resmi Wahdah Islamiyah yang diterima Republika, Senin (20/12).

Anjuran Anies ini terkait dengan model pendidikan paripurna yang salah satu cirinya adalah pembelajaran yang tinggi dan proses penumbuhan nilai yang bukan hanya bermodalkan penanaman ataupun pembentukan. Penumbuhan nilai-nilai itu harus disampaikan sebagai bibit yang membutuhkan ekosistem sehat, sehingga bisa tumbuh besar di dalam jiwa, pikiran dan dalam keseharian bagi anak-anak.

Menurut Anies, proses penumbuhan ini membutuhkan ekosistem yang sehat, maka fokus pertama dan terutama jika berbicara tentang pendidikan paripurna adalah pendidikan oleh orang tua di dalam sebuah keluarga. "Ini pendidikan pertama dan terutama serta ini pendidikan terpenting," ujarnya.

Dijelaskan Anies, menjadi guru ada proses pembelajaran, menjadi dosen ada proses persiapan, menjadi suami istri ada proses persyaratan administrasinya, tapi menjadi pendidik sebagai orang tua di situ tidak ada persyaratannya. Maka sering tidak ada proses penyiapan yang sistemik di sana.

Menurutnya, proses penyiapan pendidikan yang sistemik inilah yang sering kali terlewatkan. Banyak orang ketika mengatakan pendidikan, hampir selalu kepada anak-anak, padahal sesungguhnya pendidikan haruslah dimulai dari orang tuanya.

Anies juga mengatakan pentingnya menjadi sosok pembelajar. "Karena kebanyakan dari kita tumbuh besar sebagai orang-orang generasi abad 20, di mana anak-anaknya merupakan generasi abad 21 yang akan bertemu dengan teknologi abad 21," jelasnya,

Ia menegaskan, jika tidak menjadi sosok pembelajar dengan menyiapkan materi pendidikan dengan baik. Maka ada potensi kekurangan teknik-teknik yang tepat di dalam menumbuhkan nilai-nilai kepada anak-anak. "Ketika kita berhasil membuat guru merasa dirinya pembelajar dan semua orang tua merasa dirinya pembelajar maka Insya Allah bekal untuk anak-anak kita akan tersedia dengan baik," jelasnya Anies.

Menurut Anies, masalah yang sering ada, baik yang mendidik di rumah ataupun di sekolah adalah merasa sudah cukup belajar sehingga terjadi stagnasi. Padahal di dunia yang berubahnya begitu cepat, stagnasi dalam belajar itu tidak boleh terjadi karena korbannya adalah anak-anak.

"Bukan hari ini mereka menjadi korban tapi 10 tahun atau 20 tahun yang akan datang. Inilah konsekuensi jika kita tidak mengambil langkah yang tepat hari ini," kata Anies.  ';

×