Opini
Cermin Akhlak Sejarah Para Pendiri Bangsa
Ketika sekarang kita meneriakkan “NKRI harga mati”, dari mana itu? Bagaimana ceritanya?
HIDAYAT NUR WAHID; Wakil Ketua MPR RI 2019-2024
Hari Bela Negara, sesuai Kepresnya, dilatarbelakangi peristiwa dibentuknya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Kala itu, 73 tahun lalu, tepatnya pada 19 Desember 1948, sistem pemerintahan Indonesia yang berpusat di Yogyakarta jatuh pada tangan Belanda bersamaan dengan ditangkapnya Bung Karno dan Bung Hatta.
Ketika itu, Mr Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran yang berasal dari Partai Masyumi, diberi mandat untuk membela eksistensi Indonesia merdeka dengan membentuk PDRI dan berpindahnya ibu kota negara dari Yogyakarta ke Bukittinggi. Pada 22 Desember 1948, para tokoh pimpinan negara menetapkan Sjafruddin sebagai ketua PDRI yang setara dengan jabatan presiden. Dan alhamdulillah, situasi genting bisa diatasi sehingga pemerintahan Indonesia tetap eksis.
Salah satu ibrah dari peristiwa ini adalah bagaimana Mr Sjafruddin Prawiranegara, demi membela eksistensi Indonesia merdeka di bawah kepemimpinan Bung Karno, dengan etika dan moral kebangsaan luar biasa, legowo berkenan mengembalikan mandat kepemimpinan nasional kepada Presiden Sukarno pada 13 Juli 1949.
Itu sebabnya peringatan Hari Bela Negara ditetapkan untuk lebih mendorong semangat kebangsaan dalam Bela Negara dan dalam rangka mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.
Hari-hari ini, peringatan Bela Negara bisa saja dikaitkan dengan Bela NKRI. Apalagi sekarang diancam dengan gerakan separatis OPM di timur Indonesia, dan intervensi RRC di Laut Natura Utara, termasuk juga utang menumpuk yang potensial menyandera marwah dan kedaulatan NKRI.
Hari-hari ini, peringatan Bela Negara bisa saja dikaitkan dengan Bela NKRI.
Generasi muda penting memahami bagaimana sejarah NKRI sehingga pemahaman itu memunculkan semangat untuk melakukan Bela Negara yang pasti terkait dengan upaya menjaga keutuhan NKRI. Jika saat ini diteriakkan “NKRI harga mati”, banyak dari generasi bangsa yang belum memahami bahwa NKRI pernah mati.
Dalam sejarah disebutkan setelah kemerdekaan Indonesia, penjajah Belanda pernah berhasil mematahkan NKRI dan menjadikan Indonesia sebagai Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan memecah Indonesia menjadi 16 negara bagian. Saat itu pun di Indonesia terjadi pergolakan.
Ada yang ingin mengubah ideologi negara menjadi komunis, seperti Muso dengan pemberontakan PKI tahun 1948. Lalu ada juga DI/TII pada 1949. Jadi gangguan serius dari PKI, DI/TII, dan juga Belanda yang berupaya memecah menjadi RIS. Ketika sekarang kita meneriakkan “NKRI harga mati”, dari mana itu? Bagaimana ceritanya?
Ketika sekarang kita meneriakkan “NKRI harga mati”, dari mana itu? Bagaimana ceritanya?
Para pimpinan bangsa, para warga bangsa, termasuk anak-anak muda, penting sekali mengetahui sejarah masalah ini. Dengan demikian kita secara moral dan etika memiliki pegangan yang kokoh dan kuat untuk melanjutkan perjuangan ke depan.
Jika kita melihat sejarah yang lalu, ternyata kita melewati begitu banyak suka dan duka, begitu banyak ujian dan tantangan. Tetapi kemudian para bapak bangsa itu menyelamatkan Indonesia.
Etika mengakui, menghormati, menghargai perjuangan para pendiri bangsa untuk sampai Indonesia seperti hari ini sangatlah penting untuk Indonesia ke depan. Tanpa etika seperti itu, kita tidak mau belajar, tidak mau mendengar, tidak mau menghormati, tidak mau melanjutkan kebaikan, bukan tidak mungkin Indonesia akan mudah dipecah belah dan dijajah, secara langsung maupun tidak langsung.
Etika seperti ini adalah landasan penting untuk mengetahui perjuangan liku-liku, pasang surutnya, keberanian yang ditampilkan, membersamai, lalu silaturahim dan berani maju ke depan untuk menjadi solusi.
Ternyata, teriakan “NKRI harga mati” baru ada setelah keberhasilan Mohammad Natsir. Karena dengan pidato Mosi Integralnya, ia berhasil merangkai Indonesia kembali bersatu menjadi NKRI, pada 3 April 1950.
Itulah yang meluruskan perjalanan cita-cita Indonesia merdeka dari PKI, DI/TII, dan juga RIS yang tidak sesuai dengan cita-cita bangsa. Mohammad Natsir adalah tokoh partai Islam, ormas Islam, sekaligus tokoh pimpinan Fraksi di DPR RIS.
Keberanian Natsir tampil lalu berpidato menutut dikembalikannya NKRI. Diterimalah pidato itu oleh Mohammad Hatta yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri RIS dan kemudian disampaikan kepada Bung Karno yang juga setuju. Hingga akhirnya pada 17 Agustus 1950 diproklamasikanlah NKRI.
Hingga akhirnya pada 17 Agustus 1950 diproklamasikanlah NKRI.
Memahami ini adalah salah satu etika dan akhlak sejarah. Karena banyak pihak yang ingin mengaburkan masalah ini dan tidak mencantumkannya dalam buku-buku sejarah. Banyak yang mengaburkan fakta dalam publikasi-publikasi resmi tentang Mosi Integral 3 April 1950, proklamasi kembalinya NKRI 17 Agustus 1950, itu jarang sekali disebut, sehingga anak muda sekarang hanya tahu ‘NKRI harga mati’.
Bahkan ada yang mengasumsikan seolah umat Islam-lah yang memecah belah, umat Islam yang anti NKRI. Padahal justru umat Islam-lah yang menyelamatkan NKRI.
Itu bagian yang penting untuk dikenali karena dari sana kita bisa melihat bagaimana etika, akhlak, moralitas yang luar biasa, yang dicontohkan, yang dipraktikkan oleh tokoh-tokoh bangsa yang berasal dari latar belakang yang beragam. Ada yang dari Minang, Batak, Aceh, Jawa, Sunda, Betawi, Bugis, Indonesia timur, Bali, sangat beragam.
Agamanya juga beragam dan latar belakang pendidikannya juga bervariasi. Ada yang insinyur seperti Bung Karno, ada yang ahli ekonomi seperti Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin, ada yang belajar secara otodidak seperti Haji Agus Salim, ada yang latar belakangnya pendidikan agama seperti KH Kahar Mudzakkir dan KH Wahid Hasyim.
Bahkan dari latar belakang agama juga ada yang berasal dari non-Muslim, seperti AA Maramis. Ada juga yang mewakili perempuan, seperti Roro Sukaptinah salah satu tokoh wanita anggota BPUPKI. Juga Maria Ulfah Subadio menteri perempuan pertama di Indonesia sekaligus perempuan pertama yang mendapat gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum dari Leiden University).
Tapi meski latar belakang beragam, mereka tidak memiliki sifat dan sikap egois, tidak bersikap mentang-mentang, tidak mau bergabung atau tidak mau kompromi. Mereka justru meninggalkan kepada kita akhlak yang baik, etika yang luar biasa.
Mereka justru meninggalkan kepada kita akhlak yang baik, etika yang luar biasa.
Bahwa keunggulan yang mereka miliki, dengan latar belakang studi, gelar, suku, sosial, organisasi, tidak menjadi konflik, tetapi malah dijadikan satu kekuatan untuk saling mengisi dan memahami. Dengan keterbatasan fasilitas yang ada saat itu, tidak adanya komputer, listrik juga terbatas, mereka malah menghasilkan hal yang sangat berjasa.
Dengan segala fasilitas yang sangat maju saat ini, seharusnya itu menjadi modal untuk kemajuan bangsa ke depan, yang memperkokoh, sehingga kita menghasilkan sesuatu untuk generasi mendatang, menyongsong Indonesia Emas 2045.
Dalam rangka memperingati Hari Bela Negara, kita harus lebih memahami betapa Indonesia kita ini adalah kumpulan etika yang luar biasa dan telah dilakukan oleh para bapak dan ibu bangsa. Mereka menjadikan diri sebagai manusia yang terhormat, yang terdidik, terpelajar, berorganisasi sangat bagus, wawasannya luas, mencintai agama, mencintai NKRI, mencintai warga Indonesia, menjunjung tinggi akhlak persatuan dan karenanya mereka berkumpul dan bermusyawarah menghadirkan komitmen untuk memelihara dan membela Indonesia merdeka.
Inilah cermin etika atau akhlak sejarah yang harus sering dilihat oleh para generasi bangsa.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
