Ustaz Mustain Nasoha | Dok ist

Hiwar

19 Dec 2021, 04:54 WIB

Ustaz Musta’in Nasoha, Adab Sebelum Ilmu

Mengonsumsi yang haram akan menyulitkan diri kita untuk menyerap ilmu-ilmu agama.

 

Islam mengajarkan, proses belajar tidak hanya menghasilkan insan yang berilmu, tetapi juga berakhlak karimah. Artinya, dalam mencari ilmu, adab harus selalu dipegang teguh dan diamalkan.

Menurut Ustaz Mus’tain Nasoha, pentingnya adab berada pada tataran yang mendahului berilmu. Dai muda asal Solo, Jawa Tengah, itu menerangkan, adab dapat dimaknai sebagai kesopanan, sopan santun, atau tata krama yang selaras dengan ajaran Islam.

Adab juga berarti kepatutan dalam urusan-urusan agama dan duniawi. Orang yang berkomitmen menjaga adab akan memahami hakikat berilmu.

Lelaki yang akrab disapa Gus Musta’in itu memberikan beberapa contoh adab, yakni kesabaran. Menukil Imam Syafii, barangsiapa yang tidak bersabar saat menuntut ilmu, maka hidupnya akan sengsara hingga akhir hayat. Sebaliknya, bersabar dalam mencari ilmu, akan berujung pada kemuliaan di dunia dan akhirat.

“Pertama, adab yang harus dimiliki seorang pencari ilmu adalah harus sabar dan sabar ini adalah kunci utama,” kata mubaligh yang lahir di Gerobogan, Jawa Tengah, pada 1992 silam itu.

Bagaimana kiat-kiat menjadi seorang pembelajar yang baik sehingga terus konsisten dalam beradab? Seperti apa contoh teladan dari kaum ulama terdahulu mengenai pentingnya adab?

Untuk menjawabnya, berikut petikan wawancara wartawan Republika, Muhyiddin, dengan Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam IAIN Surakarta itu. Perbincangan berlangsung baru-baru ini melalui sambungan telepon.

Bagaimana Islam memandang kedudukan pencari ilmu?

Mencari ilmu, menurut ajaran Islam, itu hukumnya wajib. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Kanjeng Nabi SAW juga mengingatkan, untuk menilai apakah seseorang baik atau tidak, lihatlah seperti apa semangatnya dalam belajar. Bila dia semangat, misalnya, datang ke majelis taklim, pada hakikatnya ia telah diangkat derajatnya oleh Allah SWT.

Beliau juga menyatakan, “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wal muslimah.” Di hadis sahih itu, kalimat yang digunakan ialah faridhatun, bukan faridhun. Huruf ta dalam faridhatun itu adalah ta mubalaghah, yang bermakna ‘sangat'. Itu menunjukkan, mencari ilmu sangat wajib.

Kanjeng Nabi SAW jarang-jarang menegaskan seperti itu. Namun, dalam bab ilmu beliau menyatakan sangat wajib. Imam Ahmad bin Ruslan dalam kitab Zubad berkata, berislam itu tak akan benar kecuali dengan ilmu. Kalau orang berislam dan enggan belajar, semua ibadahnya dilakukan tanpa dasar ilmu. Maka amalannya ditolak Allah.

Apa saja yang perlu diperhatikan dalam memilih guru?

Syekh Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim telah menulis tentang hal-hal yang harus disiapkan ketika mencari guru. Pertama, seseorang harus duduk di depan guru terlebih dahulu untuk melihat, apakah cocok dengan guru tersebut atau tidak. Jadi, tidak langsung berguru.

Kalau kita melihat para ulama zaman silam, mereka duduk-duduk dahulu di majelisnya seorang ulama untuk memastikan kecocokannya. Guru yang cocok itu harus sesuai dengan ilmu yang hendak dicari. Misalnya, kita mau belajar ilmu fikih, maka belajar ke ulama yang ahli fikih.

 
Carilah guru karena ilmunya. Kemudian, sanad ilmu sang guru juga harus jelas. Kalau bisa, carilah guru yang nasabnya bagus. Karena, nasab yang bagus akan menjadi salah satu sebab ilmu kita diberkahi Allah.
 
 

Kedua, jangan mencari guru karena gelarnya. Carilah guru karena ilmunya. Kemudian, sanad ilmu sang guru juga harus jelas. Kalau bisa, carilah guru yang nasabnya bagus. Karena, nasab yang bagus akan menjadi salah satu sebab ilmu kita diberkahi Allah.

Terakhir, carilah guru yang berakhlak baik. Ini sebagaimana dikatakan Hammad bin Abi Sulaiman dalam kitab Ta’lim Muta’allim. Makanya, dalam kitab Hasyiyah Bajuri juga, orang bisa dipanggil “syekh” itu tiga syaratnya: berilmu tinggi, berakhlak mulia, dan memiliki pengikut yang baik atau banyak.

Mengapa sanad keilmuan itu penting?

Dikatakan oleh Imam Abdullah bin Mubarak, bersanad itu salah satu daripada syarat beragama. Barangsiapa yang tidak bersanad dalam beragama, ia akan berbicara sesuai dengan hawa nafsunya sendiri.

Makanya, Kanjeng Nabi mengingatkan, barangsiapa yang membaca Alquran, hadis, atau hukum Islam sesuai dengan otaknya sendiri, tanpa disertai ilmu tafsir atau ilmu hadis, maka tempatnya di neraka.

Bahkan, Imam Malik bin Anas pernah mengatakan dari Imam Ibnu Sirin, ilmu adalah bagian agama. Kalau orang beragama dan tidak berilmu, maka agamanya tidak sah. Karena itulah, siapapun harus memperhatikan dari mana ilmu itu diperolehnya.

Syekh Sufyan ats-Tsauri mengatakan, sanad ibarat pedang atau senjata bagi orang beriman. Kalau Mukmin tidak memiliki senjata, bagaimana bisa memenangkan jihad? Artinya, kalau tidak memiliki sanad, bagaimana dia bisa benar dalam berislam?

Maka, tidak hanya harus menuntut ilmu dan berguru. Gurunya pun mesti bersanad sampai Nabi Muhammad SAW. Kalau tidak demikian, seseorang akan cenderung radikal nanti (dalam memahami agama --Red).

Bagaimana pentingnya adab seorang pembelajar, khususnya terhadap guru?

Tentu, adab menjadi penting. Pertama-tama, pencari ilmu memiliki adab, yakni sabar. Kesabaran memang kunci utama. Imam Syafii mengatakan, barangsiapa yang tidak bersabar saat menuntut ilmu, maka hidupnya akan sengsara hingga akhir hayat. Barangsiapa bersabar dalam mencari ilmu, ia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Adab yang kedua, seorang murid harus selalu bersangka baik kepada gurunya. Dikatakan oleh Habib Alwi bin Ali al-Habsyi, barangsiapa orang yang tidak beriktikad, tidak meyakini gurunya baik, maka ia tidak akan mendapatkan kemuliaan dari ilmu yang telah diperolehnya.

Ketiga, seorang pencari ilmu harus menyadari, dirinya akan menjadi calon penerus para nabi. Sebab, ulama adalah pewaris para nabi. Maka, hendaknya ia senantiasa menjaga adab, seperti ketika berbicara atau makan. Beradabnya seperti adab Rasulullah SAW. Seorang ahli ilmu harus berusaha terdepan dalam mengikuti akhlak Nabi Muhammad SAW.

Lalu, adab berikutnya ialah menghormati gurunya. Penghormatan juga kepada keluarga gurunya, kitab-kitab karya gurunya, serta orang-orang yang lebih tua. Wujudnya bisa beragam. Misal, tidak berjalan di depan gurunya. Berjalan depan guru bisa menjadi salah satu sebab ilmu kurang berkah. Di samping itu, jangan mendahului guru dalam berbicara.

Seperti apa keteladanan dari generasi salaf tentang adab sebelum ilmu?

Para ulama salaf tidak pernah menyia-nyiakan waktunya. Rutinitasnya selalu bersama dengan ilmu. Misalnya, Imam Syafii. Dirinya paling tidak senang kalau pergi ke tukang cukur. Daripada mencukur rambutnya, katanya, lebih baik mencari ilmu. Kalaupun jadi ke tukang cukur rambut, itu dilakukannya cepat-cepat karena ingin segera lanjut belajar.

Bahkan, dalam satu kitab dikatakan, Imam Syafii pernah agak diprotes oleh tukang cukurnya. Kata tukang cukurnya, “Wahai imam, tolong berhenti sebentar. Karena, kalau tidak berhenti, mulut Anda akan terpotong.” Namun, Imam Syafii mengatakan, “Lebih baik lidahku terpotong daripada aku harus satu detik berhenti muraja’ah Alquran.”

Contoh lainnya ialah, bapaknya Imam Ibnu Taimiyah. Ia juga pernah menjual barang-barang miliknya hanya untuk membayar seseorang duduk di depan kamar mandinya. Sebab, setiap bapaknya ini masuk ke dalam kamar mandi, ia ingin dari dalam kamar mandi pun tetap mendengarkan ilmu. Jadi, begitu semangatnya para ulama zaman dahulu dalam mencari ilmu.

Keteladanan juga tecermin dalam konsistensi mereka yang sangat berhati-hati dalam makan dan minum. Artinya, menerima rezeki hanya dari jalan yang halal serta mengonsumsi yang halal pula.

Makanya, para kiai kita juga sangat berhati-hati. Termasuk para pendiri Pondok Pesantren al-Muayyad Solo, Jawa Tengah. Bahkan, pasir yang dibawa ke pondok itu disucikan terlebih dahulu untuk menjaga dari najis.

Makanan yang disuguhkan kepada para tukang juga terjamin benar-benar halal. Jangan sampai tercampur dengan perkara-perkara yang haram. Sebab, mengonsumsi yang haram akan menyulitkan diri kita untuk menyerap ilmu-ilmu agama.

Apa saja kiat agar para pembelajar bisa konsisten dalam semangat menuntut ilmu?

Pertama-tama, pahami hakikat kita sebagai manusia. Dalam bahasa Arab, manusia disebut al-insan. Asal katanya, anisa-ya'nisu dan anasa-ya'nusu. Artinya, makhluk yang selalu rahmah, selalu disiplin.

Lalu, tiap manusia diperintahkan untuk beriman, mengikuti petunjuk Nabi Muhammad SAW. Mengapa nama beliau Muhammad? Muhammad itu artinya ialah orang yang banyak pujian. Dipuji karena banyak ilmunya di dunia dan akhirat. Makanya, kita sebagai pengikuti Rasulullah SAW memang harus berilmu.

Dalam kitab Ihya Ulum ad-Din juga dijelaskan, suatu kali Rasulullah SAW pernah masuk ke masjid. Lantas, beliau melihat ada majelis zikir dan majelis ilmu. Beliau ternyata memilih majelis ilmu.

 
Tidak boleh kita belajar ilmu karena takut dengan neraka. Tidak boleh juga kita belajar karena terlalu butuh surga. Harus tahu diri. Tujuan kita belajar ilmu adalah tetap harus untuk mencari ridha Allah.
 
 

Puncak ilmu ialah timbulnya rasa takut kepada Allah. Benarkah demikian?

Ciri-ciri orang yang benar-benar berilmu itu adalah takut kepada Allah. Takut di sini bukan berarti takut akan siksa neraka. Bukan pula karena kita butuh surga.

Yang terpenting adalah senantiasa takut untuk tidak memanfaatkan hidup dalam rangka beribadah kepada Allah, dalam upaya meraih ridha-Nya. Karena ibadah harus dengan ilmu, maka takut pula bahwa waktu terlewatkan tanpa bersama dengan belajar atau menuntut ilmu.

Tidak boleh kita belajar ilmu karena takut dengan neraka. Tidak boleh juga kita belajar karena terlalu butuh surga. Harus tahu diri. Tujuan kita belajar ilmu adalah tetap harus untuk mencari ridha Allah.

photo
Menurut dai muda Ustaz Mustain Nasoha, ada beragam keteladanan yang bisa dipetik dari pola hidup masyarakat Hadhramaut - (Dok ist )

Kesan dari Negeri Para Habib

“Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina.” Perkataan itu tidak bersumber dari hadis. Namun, ada pesan yang cukup dalam dari ungkapan tersebut, yakni perlunya memperluas rihlah keilmuan.

Pengembaraan intelektual juga dilakukan Ustaz Musta’in Nasoha. Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam IAIN Surakarta itu tidak hanya menuntut ilmu di dalam, tetapi juga luar negeri. Salah satu negara tempatnya belajar ialah Yaman.

Di sana, terdapat salah satu pusat keunggulan yang sangat terkenal di dunia Islam, yaitu Tarim, Hadramaut. Bahkan, daerah tersebut menyandang julukan Negeri Para Habib. Sebab, ada banyak alim ulama yang berasal dari kawasan Yaman tersebut. Sebagian besar di antaranya juga memiliki nasab sampai pada Rasulullah SAW.

Di kota para habib itu, pengasuh Majelis Raudlatul Muhibbin Solo tersebut menempuh studi di Fakultas Syariat Universitas Imam asy-Syafi’i. “Banyak ulama di sana kami ambil kitabnya dan sanadnya. Hampir semua kitab besar kami kaji secara talaqi atau langsung,” ujar dai yang akrab disapa Gus Musta’in itu kepada Republika beberapa waktu lalu.

Ada kesan yang sulit terlupakan tentang Hadramaut. Menurutnya, kehidupan umat Islam di sana tak lepas dari menuntut ilmu-ilmu agama. Semua orang cenderung sibuk belajar. Suasananya juga sangat harmonis.

Sukar menemukan orang yang saling bermusuhan. Penduduk Tarim masyhur akan kelembutan hati, gemar bersedekah terutama kepada para pencari ilmu. “Saya tidak melihat orang di sana itu hidupnya tidak ada manfaatnya. Semua waktu yang ada dimanfaatkan mereka. Hampir semua orang di sana itu berusaha mengamalkan akhlaknya Nabi Muhammad SAW,” katanya.

 
Hampir semua orang di sana itu berusaha mengamalkan akhlaknya Nabi Muhammad SAW.
 
 

Keistimewaan Yaman, lanjutnya, bahkan disebut oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis sahih, beliau menerangkan, siapapun yang hendak mencari ilmu-ilmu agama, hendaklah mengadakan perjalanan ke negeri di selatan Jazirah Arab itu.

“Kita tidak melihat orang di jalan kecuali membawa kitab. Kita tidak melihat orang pandai besi kecuali dari mulutnya selalu mengalir bacaan-bacaan Alquran,” kenang Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Surakarta itu.

Sebelum merantau ke Hadramaut, alumnus S-2 Universitas Islam Kediri itu telah belajar di sejumlah pondok pesantren. Mula-mula, Gus Musta’in menimba ilmu di Pondok Pesantren Miftahul Huda Ki Ageng Tarub. Lembaga yang berlokasi di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, itu diasuh oleh yayasan yang didirikan keluarganya. Pesantren al-Faqih Grobogan dan Pesantren al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta juga menjadi tempatnya menuntut ilmu.


×