Prof KH Didin Hafidhuddin | Daan Yahya | Republika

Refleksi

18 Dec 2021, 03:45 WIB

Empat Prinsip Utama Hidup Sukses dan Bahagia

Dunia harus diusahakan dengan cara-cara yang benar dengan menjauhkan diri dari ketamakan dan keserakahan.

OLEH PROF DIDIN HAFIDHUDDIN

Hari ini, Sabtu 18 Desember, kita berada pada pengujung 2021, dan insya Allah kurang lebih dua pekan lagi kita akan memasuki tahun 2022. Tentu saja, harapan kita semua mudah-mudahan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beriman, yang penduduknya mayoritas beragama Islam, pada 2022 mendatang akan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah SWT dan mampu mengatasi berbagai macam masalah yang terjadi.

Harapan kita semua, mudah-mudahan pemimpin dan tokoh bangsa yang kini mendapatkan amanah sebagai pejabat publik akan selalu berusaha menegakkan keadilan dan kejujuran serta menerapkan kebijakan yang berpihak pada masyarakat kecil atau kaum dhuafa yang semakin hari jumlahnya semakin banyak.

Demikian pula bangsa kita dengan dipimpin para pejabat yang jujur dan amanah, akan meraih kesuksesan dan keberhasilan yang hakiki. Karena kesuksesan dan keberhasilan yang melahirkan kebahagiaan yang hakiki, dunia dan akhirat, adalah selalu menjadi harapan, keinginan dan cita-cita kita semua, sebagai orang-orang yang beriman.

Kesuksesan pribadi, keluarga, institusi tempat kita bekerja, dan juga kesuksesan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan bangsa dan negara. Di dalam QS Ibrahim [14] ayat 37- 41, Allah SWT berfirman yang mengisahkan tentang doa Nabi Ibrahim yang mencerminkan keinginan beliau bagi kesejahteraan masyarakat dan umatnya:

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (37).

Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit (38).

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku pada hari tua-(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa (39). Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku (40). Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu-bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat) (41)." (QS Ibrahim [14]: 37-41).

 
Mudah-mudahan pemimpin dan tokoh bangsa yang kini mendapatkan amanah sebagai pejabat publik akan selalu berusaha menegakkan keadilan dan kejujuran.
 
 

Dalam kaitan ini, ada empat prinsip utama yang harus kita pegang dalam upaya menggapai kesuksesan tersebut, termasuk harus menjadi rujukan para pemimpin bangsa, seperti dijelaskan dalam firman-Nya pada QS al-Qashas [28] ayat 77: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Pertama, prinsip menjadikan akhirat sebagai tujuan utama hidup dan tujuan utama segala aktivitas yang kita lakukan. Visi dan misi ini akan menyebabkan gaya hidup yang mulia di dunia ini, yang tecermin pada hal-hal sebagai berikut: a) Akan melahirkan sifat amanah dan tanggung jawab. Tidak akan menghalalkan segala macam cara untuk untuk mencapai tujuan tertentu.

Firman-Nya dalam QS an-Najm [53] ayat 38 sd 42: "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain (38) Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (39). Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya) (40). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna (41) dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu) (42).”

 
Tidak akan menghalalkan segala macam cara untuk untuk mencapai tujuan tertentu.
 
 

Untuk mendapatkan keuntungan dalam setiap kegiatan usaha yang dilakukannya, berusaha menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang/diharamkan, seperti suap, judi, riba, maysir, mempermainkan takaran timbangan, tidak menjual barang-barang yang haram dan lain sebagainya.

Firman-Nya dalam QS al-Baqarah [2] ayat 188 dan QS al-Maidah [5] ayat 90: "Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 188).

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS al-Maidah [5]: 90);

c) Memiliki etos kerja dan etos usaha yang tinggi, serta tetap kuat dalam ibadahnya, seperti shalat, zakat, zikir, dan ibadah lainnya. Firman-Nya dalam QS an-Nuur [24] ayat 37: "Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.”

Kedua, prinsip tidak melupakan bagian di dunia. Artinya, dunia harus diusahakan dengan cara-cara yang benar dengan menjauhkan diri dari ketamakan dan keserakahan. Karena, sifat-sifat buruk ini akan menyebabkan lahir dan menguatnya sifat-sifat buruk lain yang merupakan turunannya, seperti  hasad, dengki, dan bakhil.

Rasulullah SAW bersabda: “Dengki itu bisa menghabiskan kebaikan, sebagaimana api membakar kayu; sedekah itu dapat menghapuskan kesalahan, sebagaimana air dapat memadamkan api; shalat itu adalah cahaya orang yang beriman, dan puasa adalah perisai dari siksa api neraka”. (HR Ibnu Majah).

 
Dunia harus diusahakan dengan cara-cara yang benar dengan menjauhkan diri dari ketamakan dan keserakahan.
 
 

Materi (dunia) harus dikuasai dan dikendalikan oleh kaum Muslimin, bukan sebaliknya mengendalikan dan menguasai kehidupan kaum Muslimin. Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang yang akan terlepas dari empat pertanyaan pada Hari Kiamat nanti: Usia dipergunakan untuk apa, masa muda dihabiskan untuk apa, harta benda yang dimiliki bagaimana cara mendapatkannya dan bagaimana pula cara memanfaatkannya; serta ilmu pengetahuan bagaimana pengamalannya”. (HR Abu Daud).

Ketiga, prinsip terus-menerus melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi kehidupan, sesuai dengan bidang dan kemampuan masing-masing secara maksimal dan optimal (Ihsan). Firman-Nya dalam QS al-Mulk [67] ayat 2: "Dialah (Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya (bekerja secara profesional).” (HR Thabrani).

Keempat, prinsip tidak membuat kerusakan dalam kehidupan dalam berbagai bidang, baik kerusakan yang bersifat material, sosial, dan apalagi kerusakan moral dan akhlak. Kerusakan-kerusakan yang terjadi dalam kehidupan adalah diakibatkan oleh ulah perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab.

Firman-Nya dalam QS ar-Ruum [30] ayat 41: ”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Jika keempat prinsip utama ini benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan kita, maka insya Allah akan melahirkan kesuksesan dan kebahagiaan yang hakiki, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun kehidupan masyarakat dan bangsa.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab.


×