Suasana kepanikan warga ketika awan panas guguran Gunung Semeru kembali terlihat dari Desa Sumber Mujur, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (16/12/2021). | ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/aww.

Kabar Utama

17 Dec 2021, 03:50 WIB

Semeru Erupsi, Tinjauan Wapres Batal 

Masyarakat diminta menjauhi area terdampak material awan panas.

JAKARTA -- Wakil Presiden KH Ma'ruf beserta rombongan batal meninjau secara langsung posko pengungsi korban erupsi Gunung Semeru di Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (16/12). Peninjauan batal karena Gunung Semeru kembali mengeluarkan guguran awan panas pada Kamis (16/12) pagi. 

"Saya minta maaf yang sedianya akan berkunjung ke lokasi langsung, yakni ke Pronojiwo dan Candipuro, tetapi karena ada guguran lahar panas dan tidak dimungkinkan untuk bisa langsung ke sana," ujar Wapres saat berkomunikasi secara virtual dengan Posko Tanggap Darurat Bencana Erupsi Semeru, Kamis (16/12).  

Wapres yang didampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hanya bisa memantau kondisi lokasi dan masyarakat pengungsi secara virtual dari Bandara Internasional Juanda di Surabaya, Jawa Timur. Melalui dialog virtual tersebut, Wapres berkomunikasi dengan jajaran yang berada di posko, termasuk di antaranya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto dan Bupati Lumajang Thoriqul Haq.

Wapres menyampaikan, pemerintah berkomitmen untuk menuntaskan dan menangani masalah pengungsi erupsi Semeru, mulai dari hunian pengungsi, relokasi masyarakat, hingga penyiapan lahan relokasi. Dalam kunjungan kemarin, Wapres didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dan Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk menjelaskan persiapan dalam penanganan masalah hunian masyarakat korban erupsi Semeru. 

"Baik menyangkut lahan relokasi yang tersedia sampai seberapa jauh dan rencana pembangunan perumahannya untuk masyarakat supaya masyarakat tenang dan pekerjaan lain yang diperlukan. Kami akan langsung berkomunikasi dengan masyarakat untuk memberikan ketenangan dan ketenteraman tentang hari esok mereka," kata Wapres. 

Wapres juga berkomunikasi dengan masyarakat pengungsi dan mendengarkan mereka. Kepada Wapres, sejumlah warga menyampaikan tentang rencana pembangunan, renovasi hunian, serta relokasi bagi masyarakat yang rumahnya sudah tertimbun lahar Semeru. 

"Yang penting sehat-sehat. Seperti disampaikan tadi, sudah disiapkan semuanya. Lahannya sudah siap dan rencana pembangunannya sudah siap, dan tempatnya itu dicari yang aman dari bahaya, tapi juga masih dekat, insya Allah. Yang penting bisa tenang nanti di tempat hunian,” ujar Wapres. 

Gunung Semeru mengalami erupsi berkali-kali sepanjang Kamis (16/12). Situasi itu membuat para relawan dan masyarakat di sekitar panik untuk menyelamatkan diri. 

photo
Kepulan awan panas guguran Gunung Semeru terlihat dari Desa Sumber Mujur, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (16/12/2021). Erupsi Gunung Semeru kembali terjadi pada pukul 09.10 WIB yang menyebabkan warga dan relawan panik. - ( ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/aww.)

Salah satu relawan di Kabupaten Lumajang, Prasetyo Hadi, mengatakan, erupsi terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, dia sedang sibuk membantu evakuasi barang-barang dari korban erupsi. Tiba-tiba dia mendengar suara gemuruh dari kawah Gunung Semeru. "Terus keluar awan panas guguran," kata Prasetyo saat dihubungi, Kamis (16/12). 

Melihat kejadian tersebut, para relawan pun langsung menghentikan kegiatan. Mereka juga meminta warga di Dusun Sumbersari, Curah Kobokan, Umbulan, dan Kajar Kuning mengevakuasi diri masing-masing. Prasetyo yakin semua masyarakat sudah terevakuasi dengan baik setelah kejadian tersebut.  

Kepala Desa Supiturang Nurul Yakin memastikan awan panas guguran Gunung Semeru tidak sampai ke desa. Pasalnya, jarak luncuran awan panas guguran hanya sekitar 4,5 kilometer (km). "Jadi berhenti di baratnya Antrokan," ujar dia. 

Menurut Nurul, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa yang terjadi mendadak tersebut. Meski demikian, warganya tetap harus waspada di mana pun berada. Hingga Kamis siang, kata Nurul, warga lebih memilih berdiam di pengungsian dibandingkan dengan kembali ke rumah masing-masing.  

Berdasarkan laporan pada magma.vsi.esdm.go.id dari pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, Gunung Semeru mengalami satu kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 25 mm. Laporan yang ditulis petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, ini menyebutkan, lamanya gempa tersebut berlangsung hingga 70 detik.  

Di samping itu, Mukdas juga melaporkan, adanya dua kali gempa awan panas guguran (APG) dengan amplitudo 17 sampai 25 mm. Sementara itu, lama gempa berlangsung 395 hingga 912 detik. Selanjutnya tercatat pula sejumlah gempa guguran dan gempa tektonik lokal. 

Meski terjadi beberapa kali gempa dan erupsi, status Gunung Semeru hingga kini masih level II atau waspada. Mukdas meminta masyarakat/pengunjung/wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius 1 kilometer dari kawah atau puncak Semeru. Semua orang juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 5 km arah bukaan kawah di sektor tenggara-selatan. 

Mukdas meminta masyarakat mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Radius dan jarak rekomendasi akan terus dievaluasi dengan mengikuti gejala perubahan ancaman bahaya. 

photo
Foto udara pembersihan jalan yang tertutup lahar hujan Gunung Semeru di Kamar Kajang, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (14/12/2021). Sejumlah alat berat diterjunkan untuk membersihkan material lahar hujan sebagai upaya membuka akses jalan nasional penghubung Lumajang-Malang. - (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/foc.)

Dia berharap masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas. Pasalnya, suhu dan material di tempat tersebut masih tinggi. Masyarakat juga diingatkan untuk mewaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.

"Terakhir, juga mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yang berhulu di Gunung Semeru, mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk," katanya. 

Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Surabaya, I Wayan Suyatna, mengungkapkan, erupsi kemarin juga membuat personel gabungan yang tengah melanjutkan pencarian korban hilang harus ditarik menuju titik aman. "Semua personel SRU 1, SRU 2, SRU 3, ditarik dari lokasi pencarian menuju ke titik aman, kemudian ke posko. Pencarian hari ini dihentikan sementara," ujarnya, Kamis (16/12). 

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengungkapkan, masih ada sembilan korban erupsi Gunung Semeru yang belum ditemukan dan 48 ditemukan meninggal. Jumlah warga yang mengungsi saat ini tercatat 10.565 jiwa.


×