Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

15 Dec 2021, 06:48 WIB

Tabiat Ilmu Itu Dalam

Hamba yang mendalam ilmunya pasti akan makin takut kepada Allah.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Ibarat menggali sumur, makin dalam makin yakin akan mendapatkan air yang bening. Demikian juga ilmu, makin dalam akan makin menenangkan hati.

Seorang dokter yang ilmunya mumpuni akan menjadi rujukan tepercaya. Sebaliknya orang yang ilmunya setengah-setengah akan membuat resah dan membingungkan. Berbagai penelitian dilakukan untuk melahirkan para sarjana yang ilmunya mendalam agar kehidupan makin maju. Kemajuan teknologi dalam berbagai bidang sebagaimana yang kita rasakan akhir-akhir ini adalah buah dari kedalaman ilmu pengetahuan.

Apa yang kita gambarkan di atas adalah ilmu yang hanya berurusan dengan benda-benda konkret. Apalagi, ilmu yang berurusan dengan agama yang abstrak, tentu lebih membutuhkan kajian yang sangat mendalam. Sebab, kedangkalan ilmu agama bukan saja akan mengakibatkan kesalahan berpikir, melainkan lebih dari itu akan mengantarkan kepada kecelakaan abadi yaitu di neraka.

Alquran telah menyebutkan beberapa istilah penting untuk menunjukkan pentingnya belajar ilmu agama secara mendalam. Di antaranya istilah tafaqquh fiddin yang digunakan untuk menggambarkan level keilmuan yang sangat tinggi. Di dalamnya ada makna kesungguhan belajar ilmu Alquran dan hadis secara sistematis lengkap dengan ilmu alatnya, sehingga kelak menjadi seorang fakih boleh berfatwa.

Allah SWT berfirman: “Falaulaa nafara minkulli firqatin minhum thaaifatun lyatafaqqahuu fiddin, wa liyundziru qaumahum.” (QS at-Taubah: 122). Perhatikan hubungan antara kata tafaqquh fiddin dengan wa liyundziruu qaumahum (untuk memberikan nasihat inzar kepada kaumnya). Bahwa untuk memberikan fatwa agama, seorang harus mempunyai ilmu yang mumpuni terlebih dahulu.

Dalam ayat lain disebutkan dengan istilah arrasikhuuna fil ilmi (orang-orang yang ilmunya kokoh). Allah SWT berfirman: “War raasikhuuna fililmi yaquuluuna aamannaa bihii.” (QS Ali Imran: 7).

Redaksi lengkap dalam ayat ini menjelaskan dua model manusia dalam menyikapi ayat-ayat Allah SWT. Satunya orang yang dangkal ilmunya maka hatinya mudah dimasuki penyakit, akibatnya ia sibuk dengan menyebarkan pemahaman yang sesat dan menyesatkan.

Satunya lagi orang yang ilmunya mumpuni. Maka, ia langsung beriman tanpa sedikit pun goyah. Kata arusukh artinya kokoh. Maksudnya, orang yang ilmunya benar-benar mendalam sehingga tidak sedikipun dimasuki keraguan. 

Satu lagi istilah al-ulama. Allah SWT berfirman: “Innamaa yakhsyallaha min ‘ibaadihil ulamaa’u (Hanya para ulama yang takut kepada Allah).” (QS Fathir: 28). Ayat ini menunjukkan betapa ilmu agama semakin mendalam akan melahirkan khasyyah (rasa takut kepada Allah). Artinya, seorang hamba yang mendalam ilmunya pasti akan makin takut kepada Allah dan akan semakin hati-hati dari dosa.


×